Beberapa minggu terakhir saya berusaha untuk menjadi warga ibukota yang beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Dahulu, pernah terbersit betapa merepotkan harus berdesak-desakan didalam bus dan berganti dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Namun sekarang keinginan itu datang tatkala ada rasa bosan harus mengendarai mobil sendirian dan sepertinya membuat saya semakin ekslusif dan pribadi ini yang semakin tidak membumi. Saya takut gejala ini membuat saya tak aware dengan lingkungan. Saya ingin merasakan aura berpeluh keringat di dalam angkot dan merasakan debu bertebaran ke muka. Walaupun sesekali juga saya tetap akan menggunakan kendaraan pribadi kalau hujan atau cuaca panas. Tapi paling tidak, saya ingin betul menikmati suasana di dalam angkutan umum dengan segala dinamika dan resiko yang akan dihadapi, selain tentunya membantu program pemerintah mengurangi emisi Jakarta *halah.

Ternyata benar ya, semakin kita bertemu banyak orang walaupun tak bertegur sapa karena kita ga saling kenal. Ada pengalaman tersendiri terutama buat saya yang memang lagi ingin belajar mengenal karakter orang. Saya masih mengalami kondisi hiatus untuk mengenal orang baru. Saya masih berusaha untuk mencari tahu benarkah semakin sesaknya dan rumit tingkat kehidupan seseorang (bisa dilihat secara materi dan non materi) maka akan semakin sulit mengenal karakter manusia yang akan berubah drastis? karena dia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya itu baik materi maupun non materi. Ada kalanya orang yang baik tidak menjadi baik setelah dia bisa mendapatkan keinginannya dan kemudian berusaha mendapatkan keinginan tersebut dengan mengelabui orang lain dan banyak hal yang saya alami bisa memberikan bukti tentang itu.

Pagi tadi sesaat baru menaiki kendaraan metromini, saya kebetulan tidak mendapatkan tempat duduk. Pilihan berdiri menjadi salah satu keputusan yang harus diambil daripada telat masuk ke kantor. Metromini berwarna orange dengan pelat lambung nomor 49 jurusan Pulogadung-Manggarai dari Jalan Utan Kayu menjadi pilihan saya. Didalamnya sudah terisi penuh dan rata-rata adalah pegawai yang terlihat dari penampilan, satu dua orang mungkin saja penumpang regular karena wajahnya saya ingat dan tampaknya pilihan waktu untuk berangkat kerja sama dengan saya yaitu jam 7.00 wib sisanya adalah orang baru yang saya lihat. Lantas teringat sama obrolan teman semalem,”semakin kita menyadari betapa beragamnya manusia maka akan semakin jelaslah betapa kita hidup tidak sendirian dan tugas kita semakin jelas untuk berbuat baik kepada siapapun entah dia baik atau jahat kepada kita” Ah saya bingung dengan ucapan sahabat saya itu, kenapa kita harus berbuat baik sedangkan banyak orang diluar sana yang terlihat baik tapi tidak baik??? Kemudian dia menjawab,”tugas kita hanyalah menjalankan perintah dari yang diatas. Karena Dia maha penyayang dan pemurah. Ga sepantasnya kita sebagai hambanya berlaku tidak sesuai dengan sifat-Nya. Dan Yakinlah semakin banyak ketidakjelasan dalam hidup karena kita terlalu banyak menggunakan logika ketimbang hati. Padahal didalam hati kita ada nur yang dari dulu selalu dapat dipercaya. Semakin banyak kebaikan yang kita taburkan maka semakin lapanglah hati kita. Kalau sudah lapang maka kebahagiaan akan datang.Hati tenang, tidak risau, bahkan semakin adem bro!!! Bukankah Bahagia yang selama ini manusia cari?” Tanyanya kemudian.

Ga berselang setelah sampai di Manggarai. Saya beralih untuk menaiki Kopaja 66 jurusan Manggarai-Blok M. Salah satu jalur yang sering saya dengar dan terkenal dengan aksi copetnya. Tapi saya bismillah saja. Toh jikapun kena copet itu semua sunatullah dan takdir tak perlu disesali. Mungkin saja saya yang kurang waspada dan lalai. Eh tapi pas baru mau mengejar Kopaja, karena kalau tidak rebutan maka kursi akan segera penuh dan saya akan berdiri lagi. Dari depan Pasaraya Manggarai, saya mendengar ada keributan kecil antara beberapa orang. Tampaknya baru saja terjadi kecelakaan kecil antara dua mobil.

Keributan kecil antara dua pengendara Mobil di depan Manggarai

Berbagai kata makian dan penuh emosi terdengar dari kuping saya dan menarik perhatian orang untuk ikut mendekat. Saya sungguh tak menyukai debat, karena sebagian besar perdebatan adalah egois dan memaksakan pendapatnya yang paling benar. Untung saja akhirnya ada seorang Polisi yang datang melerai. Tapi tetap saja umpatan,makian dan paksaan untuk bertanggung jawab dari masing-masing terus terdengar. Saya pusing kenapa tidak ada satu yang mengalah untuk kemudian melakukan rekonsiliasi win-win solutions. Kenapa tidak ada kata maaf yang keluar?Kenapa keduanya saling menyalahkan? Kenapa manusia menjadi makhluk yang sangat ganas?Sebagai pengendara mobil juga saya pasti tahu persis pasti ada yang terburu-buru dan tidak hati-hati atau kedua-duanya juga yang egois tidak saling mengalah? Bukankah dunia ini untuk ditinggali bersama? kenapa mereka memaksakan diri?  Pasti mereka pengendara mobil yang buruk??? Kalau baik pasti ridho dengan ujian tabrakan ini? dan beberapa pertanyaan lain yang akhirnya mengganggu pikiran saya. Tidakkah mereka sadar kalau syetan ada disekitar mereka yang meniupkan permusuhan dan kedengkian.

Akhirnya dapat tempat duduk di Belakang sopir Kopaja

Ah sudahlah saya Cuma berdoa saja semoga permasalahan diantara kedua pengendara mobil itu segera menemukan solusinya dan damai. Ya lebih baik damai. Apa susahnya mengeluarkan uang untuk mengganti kerusakan yang disebabkan kelalaian kita? Atau rekon bareng-bareng masalah ganti rugi..ah manusia semakin tak dewasa gerutu saya dalam hati. Eits tidak boleh menggerutu, hmm sahabat saya selalu mengingatkan. Ah kangen pengen ketemu sahabat saya itu lagi sayang minggu ini dia harus keluar kota. Semakin sering bertemu dengannya, saya semakin sering bercermin kepadanya. Ah beruntungnya punya sahabat seperti dia, ini pasti buah dari didikan orangtuanya puluhan tahun yang terus membekas. Semoga Alloh selalu member keberkahan untukmu Sobat dan Alhamdulillah saya mendapat tempat duduk dibelakang sopir sesaat setelah kopaja melaju menuju kuningan.

Advertisements