Merasakan pagi bersama air hujan


Shubuh ini,gerimis menghiasi langit Jakarta. Sepertinya pembukaan hari akan terasa dingin dan sebagian besar orang masih terlelap dalam tidurnya. Saya buka pintu samping kamar tiba-tiba tetesan air hujan terasa di kepala dan tangan. Udara dingin pagi ini juga membantu membasuh badan ini untuk bergerak, semakin bergerak maka dinginnya pagi ini tak ada apa-apanya dibanding orang-orang yang tinggal di pegunungan sana. Entah mereka yang tinggal di Lembang, Pagar Alam, Malang, Bromo, Sibolga, Baso, Bukit Tinggi dan beberapa daerah dataran tinggi lainnya di Indonesia. Dinginnya Jakarta tidak sebanding dengan mereka dan banyak orang lainnya dibelahan dunia sana yang bersuhu dingin.Tampaknya memulai hari lebih pagi menjadi bagian keseharian saya yang mudah-mudahan akan terus bertahan.

Tak lama kemudian azan shubuh berkumandang dari Masjid samping. Saya perhatikan satu persatu dari sudut jalan tampak beberapa orang berduyun-duyun datang sambil membawa payung. Ah betapa indahnya melihat mereka, terutama ada beberaa sepasang suami istri yang datang bersamaan. Semakin indah tatkala hujan pagi ini membasuh tanah dan kaki mereka melangkah bersama guyuran air yang datang dari langit sembari lantunan suara azan yang memecah langit Jakarta pagi ini. Tampaknya hujan tak akan menghalangi usaha mereka untuk mendatangi masjid.Rasanya senang sekali disaat yang lain menarik selimutnya, kita bisa saling bersalaman menyapa dan merasakan dinginnya pagi bersama dengan jamaah lainnya. Beruntung saya berada ditempat tinggal sekarang yang dekat masjid dan warga yang ramah. Seperti punya keluarga baru dan teman-teman yang menyenangkan. Syukurlah jamaah shubuh pagi ini tidak banyak berubah tetap 2 shaf. Saya sungguh kagum sama mereka semua padahal jarak rumah mereka lebih jauh dibanding saya.

Hujan semakin deras, sebagian besar jamaah masih menunggu reda. Saya memutuskan untuk berlari dan merasakan air hujan membasuh badan saya. Segar dan menyenangkan memang. Hakekatnya air adalah sumber kehidupan. Sifatnya adalah ketenangan dan menyejukkan. Setetes demi setetes air memberikan rasa segar. Air juga bagian dari kesederhanaan karena dia tak berwujud, tak berasa, tak berwarna namun memberikan banyak manfaat bagi orang banyak. Pantas kiranya kalau air menjadi sumber keberkahan. Bukankah kita disuruh untuk perbanyak berdoa disaat hujan turun. Karena ada ketenangan pada saat hujan datang dan air memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan manusia. Artinya tanpa air kehidupan manusia menjadi tidak bermakna, betul kan? Ah indah ya ternyata air itu.

Selepas masuk kamar saya coba cek siapa-siapa saja yang sudah absen di media social pagi ini. Saya begitu penasaran dan yakin bahwa mereka yang pagi-pagi sudah bangun pasti sudah terbiasa dan terpola hidupnya dengan baik. Wah ternyata banyak juga. Sungguh beruntung melihat mereka mengupdate status dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat dan saya seperti secara tidak langsung sedang dipetuahi oleh mereka. Berikut salah satu tulisan dari Ustadz Arifin Ilham pagi ini yang bagus untuk dibaca dan diamal

Ustadz Arifin Ilham :Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. Sahabatku, kita tahu kalau hidup di dunia ini hanya SESAAT, walaupun sesaat tetapi sgt BESAR RESIKONYA, sesaat tetapi menentukan keadaan kita di akhirat kelak selama lamanya. Inilah yg membuat hamba2 ALLAH yg beriman itu “kayyisun fathinun” menjadi cerdas, cerdasnya krn beriman kpd ALLAH & beriman pada HARI AKHIRAT, “org beriman tidak akan mau terjebak oleh hanya krn ENAK SESAAT tetapi MENDERITA BERKEPANJANGAN”, berdusta enak, berzina enak, korupsi enak, segala bentuk ma’siyat enak tetapi sesaat & akibatnya “mataaun qoliil walahum adzaabun aliim” siksa sgt pedih di akhirat kelak (QS) 3:197). Sebaliknya bagi yg beriman justru ia olah hidup sesaat ini u kebahagiaan di akhirat kelak, “APA SIH SUSAHNYA SABAR SEBENTAR DI DUNIA INI?”, “APA SIH SUSAHNYA CAPE SEBENTAR DALAM IBADAH?”, “APA SIH SUSAHNYA TAAT SEBENTAR DI DUNIA INI?”, “KAN TIDAK LAMA, ADA SAATNYA KITA BUKA PUASA, ADA SAAT KITA MENGHADAP ALLAH, ADA SAATNYA KITA MENGETAM APA YG KITA TANAM DI DUNIA INI, BERSABARLAH, TAATLAH, SAHABATKU” (QS 16:97). Kutulis saat hujan lebat subuh kamis ini & aku bersama 4 sahabat sholat di mesjid kampung Babakan Madang yg jamaah hanya ada 7 orang…sedih hati ini sahabatku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s