Bersahabat dengan Baduy


Akhir pekan kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi suku baduy di kawasan desa Kanekes di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Ide untuk ikut,datang ketika seorang sahabat bercerita bahwa kawasan tempat tinggal suku baduy layaknya sebuah hidden paradise. Saya penasaran dengan ceritanya dan ingin tahu lebih banyak. Akhirnya kesempatan itu datang dan saya pun memanfaatkannya. Jujur tulisan ini tak akan banyak memberi informasi yang akurat tentang suku baduy, alamnya, adat-istiadat, dsb karena banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat dan juga keterbatasan dalam mengolah informasi termasuk kata-kata akan indahnya berada di tengah-tengah masyarakat Baduy.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau akhirnya saya akan berjumpa dan berkenalan dengan suku baduy sekaligus merasakan susana kehidupan di desa Cikeusik bersama 23 orang rekan lainnya. Kedatangan kami memang bukan sekedar berwisata, saya kebetulan diinformasikan oleh sahabat saya bahwa akan ada konservasi alam berupa penanaman pohon disekitar wilayah desa baduy luar, pelayanan kesehatan gratis dengan membawa serta dokter dari FKUI, vaksinasi hewan liar yang dibantu oleh rekan dari International Animal Rescue (IAR) dan juga obat-obatan dari BioFarma. Tentunya semua kegiatan yang dilakukan telah disetujui sebelumnya oleh Suku Baduy yang memang memproteksi lingkungan mereka dari pengaruh luar.

Untuk menuju lokasi suku baduy memang tidak terlalu sulit. Selain akses perjalanan sudah disiapkan oleh pemerintah namun membutuhkan fisik yang kuat karena jauhnya perjalananan dan akses jalan yang sempit dan bergelombang bisa membuat orang yang tak terbiasa bisa mabuk. Alhamdulillah kedatangan kami dan rombongan di lokasi pada malam hari sekitar pukul 21.30 WIB dengan memarkirkan kendaraan di perbatasan desa. Setelah itu kami diharuskan berjalan kaki menyusuri hutan dan lembah perbukitan sambil membawa semua perbekalan yang telah kami siapkan. Untung saja ada jasa porter di sekitar perbatasan namun karena barang yang kami bawa memang cukup banyak otomatis selama trekking menjadi pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Sesampai di lokasi perkampungan Cikeusik kami disambut ramah oleh Jaro (Istilah kita mungkin kepala desa yang ditunjuk oleh ketua Adat/Pu’un sebagai wakil urusan pemerintah). Oh ya untuk masuk ke kampung Cikeusik kita harus melewati sebuah jembatan bamboo yang diikat menggunakan jarik kelapa dan dibawahnya ada sebuah aliran sungai Ciujung yang melindungi kampung dari bahaya luar. Nah sebagai informasi bahwa desa Cikeusik ini merupakan salah satu dari tiga desa baduy dalam yang cukup penting. Dua desa utama orang baduy/Kanekes lainnya adalah Cikertawana, dan Cibeo.

Yang menjadi perhatian saya malam itu ketika sampai di desa Cikeusik adalah suasana rumah-rumah panggung milik penduduk yang terbuat dari bamboo yang diikat tanpa menggunakan paku dan material besi lainnya. Semuanya terlihat begitu sederhana dan membumi, suasana kampong begitu hening bahkan terasa sepi tanpa terdengar suara manusia hanya ada suara lolongan anjing yang mungkin asing menghirup aroma kedatangan kami. Lingkungan yang Gelap tanpa ada cahaya penerangan yang keluar dari tiap rumah membuat saya berfikir bahwa mereka sangat menghormati waktu malam untuk beristirahat. Untung saja malam itu bulan purnama membantu saya mengamati suasana desa. Sebagian besar rumah penduduk dalam keadaan kosong karena penghuninya masih tinggal di ladang. Mereka memang terbiasa meninggalkan desa dan menetap di saung untuk beberapa hari menggarap ladang.

Orang Baduy pertama yang saya ajak kenalan bernama Kang Asi’in (saya tak terlalu paham ejaannya, terdengar ‘asin’, ‘asieun’ dll) Umurnya sekitar 50 tahun. Dia yang menjemput rombongan kami di bukit sebelum sampai di desa.selanjutnya orang yang akan banyak bercerita dengan saya bernama Kang A’lim (anak Jaro) yang kebetulan rumahnya tempat saya menginap sehingga banyak berinteraksi dengannya. Saya bersyukur bisa mengerti sedikit bahasa sunda walau tak terlalu fasih sehingga bisa berkomunikasi dengannya. Sebenarnya mereka mengerti bahasa Indonesia namun terbata-bata jika harus membalas dan untuk menghormati adat istiadat saya memberanikan diri menggunakan bahasa sunda walau tak sering bertanya namun mereka akan sangat senang menjawab dan antusias bercerita tentang adat istiadat mereka.

Selama dua hari di desa Cikeusik, memberikan banyak wawasan baru buat saya tentang arti kesederhanaan dan juga hidup bersahaja serba berkecukupan dengan apa yang kita terima sehari-hari. Contoh kecil Ini bisa dilihat dari pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Penduduk suku baduy dalam hanya diperbolehkan menggunakan dua warna yaitu putih dan hitam untuk pakaian. Itupun harus dibuat oleh Istri masing-masing. Ikat kepala putih hanya digunakan oleh laki-laki. Mereka juga membekali diri dengan sebuah golok yang selalu dibawa kemana-mana. Fungsi utama golok ini adalah untuk berladang. Setiap hari laki-laki berangkat ke ladang dan membawa buah-buahan atau makanan lainnya untuk keluarga bisa berupa pisang, umbi-umbian, kelapa, dan lainnya. Makanan sehari-hari mereka adalah nasi dan ikan asin. Mereka sudah cukup puas dengan kedua makanan tadi tanpa perlu tambahan lauk-pauk lainnya. Mereka akan makan enak pada saat ada hajatan seperti pernikahan, marhaban, sunatan, dan kematian. Itupun hanya berupa daging ayam. Mereka tidak diperbolehkan merawat hewan ternak seperti kambing dan sapi. Hewan yang boleh dipelihara adalah ayam dan kucing itupun milik bersama dan dipergunakan secara bersama-sama saat hajatan sehingga tidak ada kepemilikan. Anjing diperbolehkan hidup dilingkungan secara liar untuk membantu mereka ke ladang dalam mengusir hewan liar lainnya atau mendeteksi pendatang yang akan mengusik wilayah mereka.

Benar rasanya ucapan sahabat saya bahwa berada di salah satu desa Baduy seperti tinggal di sebuah tempat yang indah. Dimana-mana hanya bisa kita temui perbukitan hijau yang indah sepanjang mata, lembah dialiri dengan sungai-sungai yang jernih dan bersih airnya sesekali akan kita jumpai ikan berenang tanpa takut dijaring. Suasana desa dan masyarakat yang damai, tentram tanpa konflik karena prinsip hidup yang tertanam kuat untuk saling menjaga dan toleransi tinggi yang sulit untuk diceraikan. Hanya ketenangan dan kesederhanaan yang ada. Tiba-tiba prinsip materialisme hilang sekejap dalam dua hari. Semuanya begitu polos dan jujur. Saya bisa merasakan kegembiraan saat bersama-sama mandi di sungai. Air yang dingin, jernih dan mengaliri setiap batu-batu sungai yang memang tersusun secara alami membuat aktivitas mandi sambil berenang menjadi hal yang paling menyenangkan. Terlebih di setiap tepian sungai tertutup pohon-pohon rindang dengan banyaknya lumut hijau dan juga alga menjadikan kesan segar dan sejuk dan betah berlama-lama di sungai.

Kontur tanah di desa Cikeusik sama sekali bukan hasil cangkul, atau galian. Semuanya dari awal alam yang membentuknya. Sehingga pada saat mendirikan rumah, mereka tak akan pernah menggali tanah untuk menopang tiang rumah. Ataupun meratakan tanah agar rumah seimbang. Namun mereka menggunakan alat bantu berupa batu dari sungai sehingga rumah menjadi seimbang. Dalam bertani pun hal yang sama dilakukan, mereka tak diperbolehkan menggali tanah atau membajak. Tidak menerapkan terasering di bukit. Hanya boleh menggunakan bamboo yang diruncingkan atau disebut tugal. Tumbuh-tumbuhan dibiarkan tumbuh sendiri tidak boleh ditanam. Nah untuk aktivitas penanaman pohon yang sudah kami rencanakan akhirnya dibatalkan karena tak mendapat izin dari Jaro karena akan menganggu tanah dengan galian. Boleh ditanam diluar wilayah Baduy. Karena takut menyinggung perasaan akhirnya kami bagi-bagikan ke warga sekitar perbatasan.

Tak ada perabotan yang biasa dipajang di setiap rumah. Hanya sebuah rumah tanpa isi apapun. Hanya ruang Kosong dan tikar yang terbentang di setiap pintu masuk. Perabotan yang ada hanyalah sebuah tungku terbuat dari tanah liat untuk keperluan perapian saat cuaca dingin, dan keperluan memasak. Bahan-bahan buat masak terbuat dari tembikar, makan menggunakan daun pisang atau daun keladi menjadi pengalaman baru yang unik buat saya. Tak ada keramik, tak ada alumunium, tak ada keributan dari TV/radio. Anak laki-laki dan perempuan bermain terpisah tak saling bercampur. Selama dua hari saya belum pernah menjumpai seorang kakak berantem dengan adiknya hanya gara2 permainan yang lazim kita temui di rumah. Mereka sangat pemalu, untuk menanyakan namanya saja saya harus bertanya ke temannya dulu. Begitupun sebaliknya. Mereka tak mengenal baca tulis karena memang tidak diperbolehkan oleh adat. Namun mereka sangat pintar. Rasa ingin tahunya begitu tinggi, ada sebagian dari mereka yang mampu membaca secara otodidak hanya dengan melihat tulisan di baju atau lainnya dari pengunjung. Orang Baduy tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Baduy masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis menggambar.

Tim Kecil bersama Kang Alim


Adanya larangan untuk membawa kamera dan mengambil foto disekitar desa baduy memberikan informasi yang mengesankan buat saya. Betapa alam yang indah dan adat istiadat yang sangat tradisional ini hanya bisa dirasakan bagi mereka yang telah berkunjung ke lokasi desa-desa di Baduy dalam. Mereka sama sekali tidak mau alam yang mereka diami dan indah ini dirusak dan dipublikasikan secara luas oleh masyarakat.Kalau saja mereka berfikir materialisme mungkin saja sejak dari dulu desa mereka akan menjadi tujuan wisatawan dan sangat senang wilayahnya terkenal serta secara ekonomi mendatangkan banyak keuntungan. Tapi sama sekali tidak!!! Mereka tidak membutuhkan itu semua. Simpan saja semua uangmu, simpan saja semua idemu, toh kami masih bisa hidup dengan apa yang telah kami yakini ribuan tahun tanpa perlu bantuan anda. Begitulah kira-kira bahasa hati yang sering terpatri di benak saya ketika melihat kebersahajaan mereka. Kita bisa mengambil gambar saat berada di Baduy luar. Oh ya perbedaan signifikan antara Baduy Dalam dan Luar terletak dari cara-cara kebiasaan mereka. Baduy luar kebiasaan umumnya sama seperti kita, hanya saja mereka masih mempertahankan tradisi leluhur dan pakaiannya hitam-hitam (hitam disini artinya mereka sudah tidak suci). Baduy luar sudah mengenal alat elektronik, perlengkapan memasak, sandal jepit/sepatu dan boleh menggunakan kendaraan,. Sedangkan baduy dalam, asli bener-bener sangat tradisional dan membuat kesan bahwa semua yang kita miliki tak ada harganya. Ada ucapan kang Alim yang menggetarkan saya yaitu ketika besok akan pamit pulang, “buat apa banyak barang toh pada saat kita meninggal semuanya tidak kita bawa”. Prinsip ini yang mungkin tertanam juga di benak orang-orang Baduy sehingga mereka tidak serakah. Hanya mengambil seperlunya dari alam. Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.

Notes : Gambar diatas diambil pada saat menuju perjalanan pulang keluar dari kawasan Baduy Dalam, untuk kawasan perkampungan Baduy Dalam terlarang mengambil gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s