Terraced Rice Fields
Kita semua pernah bermimpi, acapkali mimpi tak berarti apa-apa.Ia hanya rangkaian bunga tidur yang bisa membuat tidur kita menjadi menyenangkan atau sebaliknya. Mimpi juga bisa berarti apa-apa jika memang kebaikan yang ada didalamnya. Semua mimpi yang saya alami akhir-akhir ini semuanya tak memberikan clue apa-apa. Terjadi begitu saja dan sering menganggu pikiran. Pernahkan bermimpi tentang seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita? Pasti pernah ya? Walaupun kita sudah hilang kontak dengannya untuk beberapa lama. Nah saya mengalami kejadian itu. Ada beberapa mimpi yang saya ingat persis kejadiannya dan itu tentangnya Saya ingin sekali menghilangkan mimpi tentangnya dan tak pernah berhasil.

Mimpinya hanya sebuah cerita sederhana yang terjadi pada malam tanggal 11 Juni 2012 dan tadi malam 22 Juni 2012. Begitu jelas seperti dalam kejadian nyata. Mimpinya persis sama. Mengingatnya hanya sekedar mengenang kebaikannya. Saya sama sekali tak pernah sedikitpun mengenang keburukannya, kalaupun terpikirkan sedikit sekali dan masih banyak kebaikan yang mampu menggantikan kejelekannya. Yang saya ingat dalam mimpi adalah hal-hal kecil yang kita lakukan sebelumnya bersama-sama. Mengunjungi tempat yang pernah didatangi, kemudian senyap, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut. Kita Cuma menjalani episode mimpi dengan berbuat tanpa kalimat. Sarapan bareng di Jalan Sabang yang kemudian penjualnya langsung tahu apa yang kami pesan, atau sekedar menyusuri jalanan Jakarta yang tak menentu, dan beberapa tempat yang tak saya pahami betul dimana lokasinya namun sangat familiar. Tak ingin berpanjang-panjang dalam mimpi itu saya selalu terbangun dijam yang sama. Rasanya body clock saya sudah diset selalu bangun setengah jam sebelum azan shubuh berkumandang.

Ada kerinduan yang menyelimuti sesaat saya sadar bahwa orang yang dulu pernah bersama kita hadir dalam mimpi. Hanya untaian doa yang bisa dipanjatkan dari mulut ini. Semoga dia disana dalam keadaan baik-baik saja dan selalu dalam naungan-Nya.

Kadang-kadang mengingatnya adalah sebuah keniscayaan. Seperti membuka kembali histori lama yang sedikit demi sedikit mulai tertutup. Percakapan jarak jauh kami tiap malam ditelepon selalu saja teringat. Mengingatnya seperti merasakan keramaian Jakarta menjadi sepi. Mendatangi tempat yang dulu pernah kita sambangi seorang diri. Kalaupun berdua hanya ditemani bayangan tentangnya. Selalu saja ada ruang kosong yang masih tetap tak berpenghuni. Tapi bukan kegalauan yang dirasakan seperti ada energy yang mengatakan bahwa saya harus tampil lebih baik tanpanya. Energi itu yang kini membuat saya selalu tersenyum bahwa saya bersyukur pernah mengenalnya. Yup saya menjadi diri saya setelah selalu dikomentari olehnya dengan arus yang berlawanan.

Tak perlu memerlukan waktu yang lama untuk mengenal seseorang yang berarti buat kita. Kualitas pertemuanlah yang membuat kita semakin sadar bahwa seseorang yang ada disekitar kita telah memberikan pengalaman baru sedikit atau banyak sekalipun. Otak saya seperti tengah dibedah olehnya waktu itu. Sekarang saya rajin untuk berdiam diri. Belajar untuk menghargai dan bersyukur apapun yang Alloh berikan. Tak pernah lagi memilih makanan yang tersaji, dulu saya tak pernah menyukai tomat. Sekarang saya bisa memakannya satu butir tanpa sisa. Dulu saya sangat malas berolahraga, sekarang hampir tiap pagi kelar shubuh selalu jalan pagi atau jogging saat weekend. Dulu saya tak pernah mengunjungi panti asuhan, sekarang menyenangkan bisa berkenalan dengan anak-anak yatim. Dulu saya sangat lemah dan tidak terlalu kuat secara fisik, sekarang terlalu sering berjalan ke gunung,menyusuri pantai, atau berjalan kaki tanpa mobil. Hal ini telah membuat saya berfikir keras bagaimana caranya dia telah mengubah cara pandang tentang hidup menjadi lebih sederhana tanpa tuntutan apapun. Meninggalkan rasa nyaman sebagaimana dia meninggalkan saya yang tengah merasa nyaman bersamanya. Saya terinspirasi olehnya pada saat-saat memberikan perhatian. Hmmm iya perhatian, kata itu menjadi sakti karena saya terlalu cuek dengan lingkungan. Mungkin selama ini saya egois, semua hal bisa saya dapatkan dengan mudah bahkan teramat terobsesi terhadap segala sesuatu.

Moment of missing menjadi so badly buat saya akhir-akhir ini. Sebenarnya saya harus bersyukur tentang rasa yang ada dalam dada ini. Tak ada kebencian maupun dendam terhadapnya. Tak ada pengkhianatan dan kecurangan saya terhadapnya walaupun saya dikhianati dan dicurangi olehnya. Ini bagaikan anugerah yang Alloh berikan. Rasa yang saya yakini adalah benar untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan dan terus berlapang dada namun mengambil pelajaran untuk setiap hal yang menimpa kita dari orang lain. Jika pun mimpi itu masih sering datang, saya ambil nilai positifnya saja.Hmm saat ini adalah saatnya memberikan category pilihan focus hidup, selain kepada rasa ini. Bismillah step by step…dan azan shubuh pun terdengar dari Masjid sebelah…


Advertisements