Kita tidak akan pernah tahu seberapa besar kemampuan kita kalau belum pernah mencoba mencapai batas bahkan melampauinya. Dua hari weekend minggu lalu, saya mengikuti UKT (ujian kenaikan tingkat) Pencak Silat di Al-Azhar. UKT ini merupakan bagian awal untuk menguasai jurus silat lebih mendalam. Kalau sebelumnya masih belajar sekedar teknik-teknik dasar saja maka ujian kemarin semacam tes ulangan. Agak nervous juga, karena saya kebetulan ga terlalu rutin hadir dalam pertemuan. Tapi semangat sajalah, niat dalam hati sih pengennya bisa melalui semua rintangan. Kebetulan UKT berlangsung selama dua hari full. Melihat rundown seperti ga percaya dengan kemampuan diri, apakah saya bisa melewati semua ujian tersebut terlebih betapa padatnya acara dengan limit waktu yang mepet? Yang saya perhatikan adalah betapa sedikitnya waktu istirahat, Cuma tersedia buat sholat,makan,mandi,dan istirahat 5 menit.Ah paling juga pingsan begitu kira-kira saat itu pikiran saya setelah membaca jadwal UKT. Tapi ada keinginan lainnya yang pengen saya ketahui yaitu seberapa maksimal kemampuan saya melewati semua itu. Pengen tahu aja, daya tahan tubuh. Selama ini tampaknya saya terlalu memanjakan badan dengan bersantai. Bismillah saja….

Hari pertama Alhamdulillah selesai dengan baik, saya bersama 60 peserta UKT bisa melalui dengan mulus melewati pendadaran pertama.Cuma mengulang-ngulang jurus silat secara bersama di lapangan terbuka. Kesannya saya terbayang dengan film-film kolosal tiongkok di depan lapangan kekaisaran. Betapa megah dan indahnya kalau dilihat dari atas pikir saya saat itu. Karena dilakukan secara bersama-sama saya bisa mencontek gerakan yang sudah saya lupa. Toh ga ketahuan ini karena delay-nya ga jauh-jauh amat dengan yang lain. Syukurlah saya ga sendirian ternyata banyak juga yang ga terlalu hapal dengan jurus yang telah kami pelajari. Kelar isya, pendadaran kedua lebih ketat jam-nya. Ditengah cahaya yang ga terlalu terang, kita dibagi beberapa kelompok kecil dengan seorang Pembina yang ingin melihat gerakan-gerakan silat setiap personil. Hmm nah dikelompok ini, saya kelihatan ga pede. Terlebih teman-teman yang lain begitu cantik memperagakan jurus-jurusnya dengan begitu indah dan terstruktur. Tapi syukurlah, kak Awi yang sudah sering melanglang buana ke berbagai kejuaraan dan juga salah satu pendekar yang sering ke Afrika Selatan terus terusan memotivasi dengan rangkaian kalimat yang menggugah semangat dan membenarkan setiap gerakan yang salah. Ah beruntung banget. Ada sih hukuman setiap jurus yang salah, kena penalty push-up. Tapi toh dia ga segan-segan mencontohkan jurus yang benar. Cuma ya itu seragam merah putih saya basah kuyup setelah selesai jam 11 malam.Kalimat yang begitu kuat membekas di benak saya dari Kak Awi adalah “seorang pesilat itu tak malu mengakui kesalahan dan kebodohannya, karena dibalik semua itu ada kejujuran melalui pengakuannya dan semakin sadar bahwa kehebatan itu bukan tujuan yang ingin dicapai melainkan berusaha untuk mengenal kelemahan diri agar lebih kuat, cerdas, dan tangguh”

Figure 1 : Minang Brotherhood left to right Me, Yongki (Lintau Sumbar), Lato Basa (Baso Sumbar)

Ga tahu kenapa, selesai pendadaran. Rasa lapar yang teramat membuat saya bersama beberapa orang mencari cemilan. Padahal jam sudah menunjukkan jam 11 lewat hampir tengah malam. Akhirnya saya ditemani bersama Yongki, Lato Basa, dan Ridwan. Ketiganya tanpa saya sadari ternyata dalam percakapan menggunakan bahasa minang. Gara-gara berteman sama mereka juga, saya semakin paham dengan adat-istiadat orang minang. Kesimpulan saya kayaknya memang orang minang dan melayu banyak menyukai silat entah secara sadar atau tidak? Alasan utama menyukai silat pun karena tertarik dengan seni dan gerakannnya yang khas. Pencak Silat sendiri artinya Seni Silat. Jadi wajar jika dalam jurus yang saya pelajari banyak gerakan yang mirip tarian.

Tempat istirahat yang kami huni berupa ruangan kelas kosong yang lumayan besar. Cuma karena kami semua cukup banyak yang berbadan besar ruangan itu sendiri seperti tidak mampu menampung. Tapi saya menyukainya. Sudah lama tak merasakan kebersamaan tidur dalam satu ruangan yang dingin secara kloteran. Baru saja merasakan nyenyaknya tidur tiba-tiba saja kami dibangunkan sekitar jam 4 pagi. Oww baru sadar saya ternyata baru bisa tidur sekitar satu jam yang lalu, sisanya banyak dipake buat ngobrol. Mau ga mau akhirnya bangun juga karena ga mungkin bisa menyembunyikan diri. Dengan kondisi kepala yang masih berat karena mengantuk, kami semua diwajibkan bangun dan disuruh sholat malam. Hah….untung saja waktunya sedikit mepet dengan jam sholat shubuh. Jadinya imam ga terlalu lama membacakan surat. Kelar shubuh saya ga bisa menahan ngantuk. Sedikit demi sedikit bergeser saat yang lain mendengar kajian dan entah kenapa bisa pules juga tidur tanpa ketahuan. Hahaha…*lagi nasib baik.

Figure 2 : Congratulations for all, your next level strive

Jam delapan pagi hari minggu saatnya dimulai ujian yang sesungguhnya. Ujian pertama adalah penilaian jurus 1 ilmu silat dasar, kemudian bersama-sama melakukan gerakan dasar silat lainnya. Lumayan bikin ngantuk hilang. Saya dua kali mengulang saat penilaian jurus 1. Selalu saja lupa dibagian akhir, dan bikin urutan jadi ga terstruktur. Untung saja Lato dan Billy yang sudah paham senantiasa mengajari. Oh ya keduanya memang jago dalam pencak silat ini. Setiap melihat mereka mensimulasi gerakan silat selalu kagum bagaiman antara badan, tangan, kaki begitu sinkron bergerak seirama. Setelah ujian teknik silat dasar, ujian yang agak berat adalah ujian fisik. Di ujian kali ini saya begitu termotivasi ingin menambah nilai sebagai subsidi dari jurus-jurus yang saya lupa. Ujian fisiknya lumayan bikin keringat dan nafas ngos-ngosan. Sampai saya kaget dengan kondisi badan saya ternyata masih sanggup saja melewati beberapa ujian fisik. Nah ini yang namanya melawan keterbatasan diri, kita ga akan pernah tahu kemampuan kita sampai kita berhasil melampauinya. Begitu kalimat Kak Awi memotivasi kami pada awal ujian fisik. Alhamdulillah saya termasuk yang dipuji oleh teman-teman karena push-up saya berhasil diatas rata-rata, squatras termasuk yang bikin saya lempem, sprint saya termasuk yang paling akhir waktunya tapi bukan yang terakhir, lari mengitari lapangan yang bikin saya kuat pada saat yang lain sudah terlihat ga kuat saya masih bisa mencapai finish dengan baik, untuk crunch lagi-lagi saya yang bisa tersenyum bisa diantara yang terbaik, dan fighting ini yang saya suka. Pada saat fighting saya harus melawan Ridwan Eko. Kondisinya saat itu saya sudah kehabisan tenaga. Jadi gerakannya hanya berusaha untuk menghindar setiap pukulan atau tendangannya. Ga disangka setiap saya menghindar saya berhasil mencuri poin dengan membalikkan kondisi dia yang lagi berenergi dengan energy saya yang ga terlalu besar. Hmm saya baru ngeh ternyata dalam silat tidak harus ngotot pada saat diserang. Justru kita bisa mentransfer energy lawan kembali ke empunya. Syukurlah setelah melewati semua ujian tadi, saya dan teman-teman lulus. Ga ada satupun dari kami yang gagal. Sekarang saya tahu bahwa masih banyak energy yang belum saya pergunakan sepenuhnya dan bisa melewati semua kekhawatiran yang belum terukur.Toh walaupun menjalani semua ujian dengan susah payah, semangat menjadi modal utama. Pesan lain yang begitu kuat yang saya ingat dari Kak Awi adalah “Pesilat itu tidak ada musuh. Musuh itu adalah sahabat pesilat. Karena Silat itu asal kata dari Sila (bahasa arab) yang artinya menyambung. Tidak boleh ada niat sedikitpun untuk membenci musuh. Jadikan musuh itu bagian dari upaya kita untuk membuat dunia aman dengan mengajaknya bersahabat. Silat itu harus bisa mengalahkan kesombongan. Jangan ada kesombongan baik yang muncul dari orang lain apalagi diri kita.Ilmu silat bukan untuk dipamerkan atau dibuat diri kita hebat, tapi gunakan ala kadarnya untuk mempertahankan diri dan niatnya hanya untuk membuat badan kita kuat. Karena muslim yang disukai Alloh adalah muslim yang sehat dan kuat.” Keep spirit guys!!!

Advertisements