Rezeki makan donat untuk ‘syukuran’

Siang ini (selasa, 3 Juli 2012) selepas lunch pada saat kami baru saja meneruskan pekerjaan. Tiba-tiba ada kiriman beberapa box donat. Iya biasanya kalau ada yang ulang tahun, setahun selesai masa probation, promosi, atau dapat bonus pasti akan ada acara traktir makanan untuk  rame-rame.Nah kali ini donat yang dibeli bukan dalam rangka hajatan yang biasa. Melainkan syukuran karena ada salah satu rekan saya yang mutasi ke kantor lain dan donat itu saya bilang donat emosional saat terjadi keributan dia dengan salah satu rekan saya sehingga terlontarlah kalimat untuk nraktir donat sekantor. Waktu itu sehabis berantem dengan ‘biang’, rekan saya itu berkeluh kesah dan saya sedikit kasih saran “walau kita berada di pihak yang benar, terkadang tetap kita perlu mengalah” nah menjawab saran saya tersebut rekan saya tersebut membalasnya kalau ga salah isi kalimatnya seperti ini “Astagaaaa srilll kalau ngalah terus terusan kayaknya lebih menjurus ke looser.Skali-kali sih gpp. Ga sabar tanggal 1.Dia pergi,gw traktir donat sekantor” Hahaha saya tertawa geli aja pada saat itu. Saya piker ucapannya hanya main-main ternyata hari ini dipenuhi juga janjinya untuk mentraktir donat buat kita semua.

Saya percaya semua orang pada dasarnya adalah orang baik. Namun kadangkala kita suka terlupa akan kealpaan diri. Nah, ada salah satu karyawan dikantor yang sebagian besar orang sangat gerah dengan sikapnya. Semua orang tampak begitu maklum jika satu orang ini tengah teriak-teriak dari mejanya ke orang lain. Seakan tak ada cara lain untuk berkomunikasi. Termasuk pada saat menghampiri orang yang akan dia tuju. Suaranya akan sampe duluan sebelum orangnya datang. Saya juga ga mengerti kenapa dia bersikap seperti itu. Pada awal saya di mutasi ke Jakarta, seringkali dinasehati oleh beberapa orang rekannya untuk jangan terlalu berurusan dengannya kecuali seperlunya saja.Saran ini herannya hampir sebagian orang yang bilang. Namun tetap saja walaupun saya berusaha untuk akrab tetap saja alhasil  beberapa kali terkena juga polemik dengannya dan puncaknya tiga minggu sebelum dia di mutasi ke lokasi kantor yang lain saya pernah membentaknya dengan mengeluarkan kata yang tidak pantas. Itu semua diluar control karena betapa saya saat itu tengah sibuk dan suaranya yang menggelegar laksana petir disiang bolong memecah keheningan sore itu sambil menyalahkan pekerjaan yang tengah saya kerjakan. Saking jengkelnya saya bilang “bangsat “ ke arahnya. Dan terdiamlah semua orang pada sore itu melihat saya membanting kertas laporan yang saya siapkan untuk bahan presentasi bos.

Kadang-kadang saya iba melihat sikapnya yang terlalu nge-bossy. Dia memang ingin terlihat dominan dan superior. Dalam banyak kesempatan saya sering melihatnya tampil provokatif dan ingin menguasai arena. Semisal ada kegiatan gathering atau acara yang mengharuskan kami se-divisi harus tampil. Bagusnya dia akan sangat rela turun tangan  namun dominasi dia yang terlalu berlebihan membuat kami jengkel dan kesal. Seolah-olah dia paling banyak tahu. “kalau gue..bla..bla…” atau “gue sih bla..bla…” serta kalimat yang paling sering adalah “menurut gue tuh ya….bla..bla…” Terlalu banyak ego pribadi yang kadangkala membuat suasana obrolan menjadi obrolan tentangnya. Padahal kami tahu kemampuannya. Namun karena males untuk beradu pendapat. Seringkali kami mengabaikannya. Bahkan saya sering melihat secara langsung betapa cara marahnya sangat berlebihan kepada outsource. Seperti seorang majikan yang memarahi pembantunya. Tak ada sama sekali rasa menghargai. Dia lupa bahwa selama ini outsource itu bekerja atas beban kerja dia sendiri. Seolah-olah semua orang yang dia minta tolong harus memenuhi semua keinginannya tanpa melakukan kesalahan. Dia lupa bahwa statusnya di perusahaan ini adalah sama sebagai karyawan bukan pimpinan atau malah pemilik. Dalam banyak hal saya beruntung bisa bertemu dengan orang semacam ini. Entah setelah melakukan itu dia langsung tertawa tak peduli dengan perasaan orang lain. Seolah-olah tak pernah sadar bahwa sikapnya yang tak ramah telah melukai perasaan karyawan yang lain.Saya jadi lebih mengenal karakter manusia. Walaupun saya sendiri banyak kekurangannya. Sejujurnya orang ini sangat tidak disukai oleh kami sekantor. Tapi kami selalu berusaha untuk melunak dan mencoba memaklumi sifatnya yang memang tidak pernah berubah. Yang saya ingat dia pernah juga diberi nasehat oleh senior di kantor tentang sifat dan sikapnya yang berlebihan. Namun seringnya nasehat yang ada tak memberikan dampak apapun. Sehingga orang-orang dikantorpun bosan dan membiarkan dia merajalela. Lagian juga kalau berurusan dengannya banyak energy yang harus dibuang percuma. Lebih baik menghindar atau diam saja. Begitu kira-kira sebagian orang yang sering banget terkena amukannya.

Saya ga bermaksud untuk bermusuhan dengannya. Tetapi yang saya ingat dia pernah berkomentar begini “you are my big enemy”. Kasusnya sebenarnya hanya gara-gara dia merasa diperlakukan tidak adil karena setting target yang saya buat katanya membuat dia terpuruk. Padahal saya ga berkepentingan dalam hal ini. Saya mengerjakan sesuai  permintaan atasannya yang memberikan indeks dan itu juga sebelumnya sudah diamini sama atasannya. Jadi tugas saya saat itu hanya membreakdown  target yang sudah ada dari atasannya ke beberapa account target miliknya. Nah penjelasan itu tampaknya tidak membuat dia puas. Ujug-ujug selalu saja buat keonaran dengan kalimat itu. Hah musuh. Segitukah sempitkah dia memandang hidup ini. Membuat statement kalau dia menganggap saya musuhnya. Hmm saya beristigfar setiap kali teringat tuduhannya itu. Tetapi adakalanya batas kesabaran seseorang itu tak bisa diprediksi dan bisa meledak jika terus diusik. Nah kejadian tiga minggu lalu pada saat dia menyerocos membabi-buta dengan sikap angkuh dan menuduh. Membuat benteng pertahanan saya melunak. Padahal pada awal terjadi obrolan dengannya saya sudah sangat mengontrol emosi untuk tak berlebihan. Namun karena dia terlalu provokatif, saya sendiri menyesal mengucapkan kalimat ‘bangsat’ itu kepadanya. Pada saat itu saya liat dia langsung terdiam dan pergi menjauh. Saya berharap dia dapat mengambil pelajaran bahwa tak selamanya posisi dominan itu benar dan mau mengakui bahwa superiornya itu tak mempan buat saya. Saya pun berniat ingin meminta maaf kelak. Namun beberapa hari setelah kejadian itu, rupanya dia tak berubah sama sekali. Bahkan menambah keributan dengan rekan saya yang lainnya. Sampai akhirnya donat hari ini datang sebagai perwujudan rasa syukur karena ga akan ada lagi suara polusi  berisik yang terdengar menganggu keharmonisan kantor.

Ekspresi di deskboard kantor

Saya berfikir keras, sampai segitukah ketiadaan dia dikantor ini harus dirayakan dengan rasa syukur? Tidak mungkin ada akibat kalau tidak ada sebab.Lantas saya teringat akan nasehat guru saya tentang sebuah riwayat. Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Saya masih tak mengerti akan sifat manusia yang beranekaragam ini.Terlebih sejak kita kecil kita selalu saja diajarkan bahwa sebagai makhluk social kita selalu membutuhkan orang lain. Hanya omong kosong yang dibalut dengan kesombongan yang nyata ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa dia bisa hidup seorang diri dan tak memerlukan orang lain. Apalagi jika hanya memilih orang-orang tertentu dan memandang rendah sebagian yang lain.

Kembali ke rekan saya tadi yang hampir sebagian orang tidak menyukainya. Keberkahan apa yang dia bawa ke kantor? Alangkah ruginya dia ketika kehadirannya tidak memberikan rasa aman dan nyaman dan kebahagiaan buat orang lain? Dan celakalah dia ketika ketidakhadirannya membawa keberkahan dan kesenangan buat orang lain. Setidaknya saya beruntung pernah mengenalnya karena banyak ilmu yang saya dapatkan darinya untuk sifat toleransi dan  mudah-mudahan sifat dan sikapnya kelak akan berubah lewat hidayah. Amien. Saya tahu agama ini adalah nasehat. Tapi mulut ini selalu saja tak mampu berkata banyak untuk menasehatinya karena terlihat dia begitu defensive dengan sifat “GUE’-nya.Teringat kembali sebuah kisah di jaman rasulullah dimana pada saat itu lewat orang-orang yang membawah jenazah, kemudian orang-orang banyak menyebut-nyebut orang itu dahulunya orang tidak baik. Kemudian lewat lagi jenazah lainnya untuk diantar ke kubur dan banyak sahabat-sahabat merasa kehilangan dan menyebut-nyebut kebaikannya. Rasulullah membenarkan seperti itu jugalah Allah didalam surat At-Taubah ayat 105. Dimana kita disuruh untuk beramal sebaik-baiknya:

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah : 105)

Ya sudahlah saya bukanlah ustadz hanya merangkum pengalaman-pengalaman yang ditemui di sekitar saya dengan mengambil pelajaran lagian juga saya masih banyak banget kesalahan dan dosa jadi agak malu untuk menulis tentang orang lain. Mudah-mudahan bermanfaat.Sebagaimana untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. CMIIW…see you guys!!!

Advertisements