bertemu sahabat lama


waktu sudah hampir jam 10 malam pada senin (15/10/2012). Busway yang saya tunggu tak kunjung datang. Padahal ini adalah jadwal terakhir pengoperasian dimana hanya tersisa sekitar 10-an orang yang masih setia menunggu di shelter Dukuh Atas Bawah. Beberapa kali busway menurunkan penumpang namun tak langsung berhenti di tempat pengangkutan. Rasa bosan dan capek benar-benar terasa. Hmmm begini toh rasanya jadi penduduk Jakarta jika tak memiliki kendaraan pribadi. Hmmm saya sendiri sedang belajar beralih menggunakan transportasi umum yang disediakan pemprop DKI Jakarta.

Disela-sela menunggu busway tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak saya. Saya tengok seorang pria dan wanita bersama tersenyum sumringah menyapa. Hmm saya terus terang dalam kondisi yang tak bisa mengingat siapa kedua orang tersebut. Wajahnya sangat tidak familiar dan saya lupa jikalau pernah mengenal kedua orang itu? Mereka tampaknya mengerti dengan kebingungan saya dan langsung membuka obrolan dengan pertanyaan “Kamu dani kan?” Saya langsung jawab iya. Selanjutnya saya benar-benar tidak ingat kapan pertama kali kita bertemu? Seketika kedua orang tersebut langsung memperkenalkan kembali namanya yaitu Hasan dan Ida. Sungguh saya merasa malu ketika harus melupakan nama seseorang sedangkan orang tersebut sama sekali ingat nama saya dengan baik. Saya kemudian meminta maaf. Mereka hanya tersenyum ramah kembali.

Rupanya saya memang belum pernah bertemu dengan Ida. Sedangkan Hasan, dia mengaku pernah berkenalan dengan saya saat liburan lima tahun lalu di Melaka. Yang saya sama sekali tidak ingat bahwa dulu kami pernah saling berkirim kabar via friendster (aha ini akun juga saya lupa kapan terakhir berkunjung). Hasan saat ini sudah menetap di Jakarta dan Ida adalah istrinya. Ya sudahlah saya bersyukur bisa ada temen ngobrol akhirnya sembari menunggu busway yang akan mengantarkan kami ke tujuan via koridor Dukuh Atas Bawah – Pulogadung.

Selama di dalam busway Hasan seperti bernostalgia tentang momen saat- saat kami bertemu pada tahun 2007 silam. Bahkan saya tak ingat sama sekali cerita yang dia ceritakan mengenai tempat di mana kami bertemu. Yang saya ingat adalah saat menjelang maghrib saya sempat keluar penginapan di daerah Melaka dan kemudian bertemu dengan seseorang untuk menanyakan lokasi Masjid terdekat. Saya malah tak ingat namanya kalau orang tersebut adalah Hasan. Saya pikir dia penduduk lokal setempat ternyata orang Indonesia juga. Selama menuju ke Masjid saya memang berbincang dgn Hasan menggunakan bahasa Inggris. Hasan sama sekali tak mengaku kalau dia orang Indonesia. Baru saya ingat saat kami bertukar alamat email dan kemudian kami berteman via jejaring sosial Friendster yang ngetop pada saat itu. Namun saya sendiri tak antusias dengan situs pertemanan sehingga jarang sekali update via akun tersebut.

Saya bersyukur bisa bertemu kembali dengan Hasan dan Istrinya. Betapa pelajaran berharga untuk tidak pernah melupakan nama-nama orang yang pernah mengenal kita sebelumnya. Saya banyak bertanya tentang Hasan apa saja yang saya lupakan tentang pertemanan kami sebelumnya via dunia maya tersebut. Rupanya dulu saya sempat mampir ke halaman blog-nya begitupun juga dia. Sayangnya halaman blog itu sudah hilang seiring ditutupnya akun friendster. Sejak saat itu juga saya mulai membuat jurnal sendiri via blog tidak menumpang ke halaman situs pertemanan. Takut hilang lagi.

Saya kagum dengan Hasan. Bagaimana cara dia mampu mengingat nama saya dengan baik. Padahal kami hanya bertemu satu kali dalam kesempatan yang sangat terbatas. Walaupun katanya kami juga saling berkirim kabar via friendster. Oh ya dulu Hasan pernah berkerja di perusahaan asing di Malaysia. Kebetulan di Melaka beliau saat itu memang menjadi temporary resident dan mendapat beasiswa untuk kuliah di UITM sebelumnya. Hasan sendiri asli dari Koto Padang. Saya masih berfikir kenapa banyak orang Minang yang akhir-akhir ini bertemu? Oh ya faktor lain katanya dia bilang dari nama depan saya yaitu Asril yang berciri khas Minang sehingga kemudian kita akrab. Walaupun saya sendiri tak mengenal betul adat istiadat Minang.

Akhirnya setelah busway yang saya tumpangi transit di halte Matraman. Hasan & Ida izin pamit karena akan meneruskan ke koridor Salemba. Kami sempat bertukaran kontak untuk selanjutnya bisa berkomunikasi kembali. Sepanjang perjalanan saya merasa senang karena bisa bertemu kembali dengan orang yang pernah mengenal saya sebelumnya. Kita sendiri tidak pernah tahu pada saat telah berpisah andaikata Allah menghendaki maka pertemuan akan terjadi lagi dengan izin-Nya. Bagi saya malam itu adalah dimana saya beruntung mendapatkan sahabat yang masih mengenal saya dan ini adalah rezeki yang tak terhingga. Karena rezeki tak hanya berurusan dengan masalah uang saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s