20121020-152002.jpg
Saya sedang berusaha untuk kompromi masa lalu. Dibilang masa lalu karena kejadiannya telah berlalu walaupun kejadiannya itu masih membekas kuat di dalam ingatan. Karena kejadiannya hanya berselang beberapa bulan saja bukan dalam bilangan tahun. Tapi tetaplah ia menjadi masa lalu. Saya percaya dengan Teori Freud bahwa seseorang dibentuk saat ini oleh masa lalu-nya. Pengalaman buruk sebagian besar akan menyebabkan trauma yang mendalam untuk mengulang kejadian yang sama bahkan tidak sama sekali untuk mengingat. Justru sebaliknya masa lalu yang indah dan baik akan menyebabkan seseorang menjadi pribadi yang menarik dan menyenangkan.

Boleh dibilang kondisi masa lalu saya termasuk baik. Sejak kecil hingga menjelang dewasa menengah saat ini semuanya dalam fase yang menyenangkan.Hanya saja Fase menengah ini dirusak oleh kejadian yang tak menyenangkan yang membuat saya harus mensinkronkan beberapa hal terutama hati. Yap masa lalu saya kali ini sangat jelek terutama pada masa dewasa menengah seperti sekarang. Semua terjadi dalam fase kemarahan dan emosi yang tak terkendali akibat kegagalan dalam meraih harapan. Justru sebaliknya saya dengan mudah mendapatkan apa yang saya inginkan dengan usaha-usaha tentunya namun kali ini saya jatuh di saat kemarahan dalam diri saya tengah memuncak namun tidak bisa berbuat banyak ?

Maksudnya apa ya? Pasti membingungkan ya. Begini ketika saya ditanya apakah saya sudah memaafkan dan melupakan masa lalu walaupun masa lalu itu terjadi hanya selang beberapa bulan saja dari sekarang. Dengan sangat berapi-api saya akan bilang SUDAH dan iya sudah melupakan dan memaafkan. Namun dalam hati kecil saya bilang BELUM bahkan masih sering teringat kejadian detilnya seperti pertama kali masa lalu itu tercipta.

Saya ga tahu apa yang sedang terjadi.Pengalaman buruk ini benar-benar menghantui. Kecemasan sering melanda disaat sendiri. Makanya saya sering hindari berlama-lama berada di kamar. Saya akan lari jauh-jauh menghindari tempat-tempat kecemasan yang sering membuat saya takut dan mengingat masa lalu itu tercipta.Akhirnya saya tahu tempat saya melupakan masa lalu yaitu sebuah Masjid di kawasan Jakarta Selatan yaitu Masjid Al Azhar. Saya merasa senang dan tenang berada didalamnya. Hingga suatu hari ada seorang pria paruh baya yang menyapa dan terlihat dia bisa mengerti apa yang saya rasakan.

Namanya Pak Muaz, dia seringkali terlihat berada diruangan utama masjid entah sedang membaca Alquran, mendengarkan kajian atau sedang makan di luar masjid. Selalu saja bertemu tak sengaja. Terakhir sebelum perkenalan dia tepat berada disamping saat mengambil wudhu. Dia langsung tersenyum dan bilang “Beberapa hari ini saya sering lihat kamu di sini. Pilihan yang tepat!” Katanya. Setelah itu kami berkenalan sesaat suara adzan berkumandang menuju ruang utama masjid.

Hari ahad kemarin saya bertemu kembali dengan beliau. Kali ini bukan di Masjid. Melainkan di sebuah kedai makan dekat Al-Azhar. Saya seperti sedang beruntung dan tengah dibantu untuk menemukan orang-orang yang tepat yang bisa saya percaya sebagai seorang pembimbing. Pak Muaz sekarang mungkin sudah berusia seperti Ayah saya sekitar 50-tahunan. Tapi yang menyenangkan adalah wajahnya sangat enak di pandang penuh kesejukan dan bercahaya seperti tak memiliki masalah apapun di dunia ini. Hmmm mungkin di usia beliau yang sekarang tujuan hidupnya hanya untuk mengabdi dan beribadah.

Saya banyak mendengar kisahnya yang mengharu biru. Namun yang pasti saya sedang belajar sesuatu dari beliau yaitu ilmu ikhlas. Pak Muaz bilang setiap orang di dunia ini memiliki kadar dosa yang berbeda-beda sesuai dengan masa lalu yang menimpanya. Ada banyak orang yang tak bisa melupakan dan memafkan masa lalu sehingga terus menerus ternoda dengan melampiaskan semua nasibnya pada hal-hal negatif. Justru itu tak membuatnya bisa melupakan masa lalu. Kebanyakan orang frustasi akan kejadian yang menimpanya dengan menyalahkan takdir. Bahwa dia terjebak atau terpengaruhi dosa karena takdir yang membuatnya seperti itu?

Saya cuma diam dan terus mendengarkan semua argumen Pak Muaz. Saya benar-benar tak harus bercerita banyak kepadanya tentang masalah yang menimpa saya di masa lalu. Pak Muaz sepertinya sudah cukup tahu apa yang harus dia ceritakan kepada saya. Dia bilang cara terbaik untuk menjadi orang baik adalah dengan belajar IKHLAS. Tiba-tiba saja saya bosan mendengar kata satu ini. Yap saya sudah coba untuk ikhlas melupakan orang yang telah menyakiti saya namun itu hanya terlontar di mulut saja namun masih mengganjal di hati.

Pak Muaz sepertinya mengerti kalau saya harus diberikan pengertian kembali tentang keikhlasan ini. “Kamu sudah ikhlas belum dengan apa yang menimpa diri kamu sekarang?” tanyanya kemudian. “Maksud Bapak?” balik bertanya. Yap kita harus ikhlas apa yang saat ini, detik ini ada pada kita. Cobalah untuk ‘release your heart’ Menurutnya kondisi inilah wujud dari rasa tertinggi dari kesadaran tentang Cinta, yaitu Ikhlas. “Biarpun kamu disakiti, dibenci, dijauhi, bahkan dimusuhi kamu tidak boleh melawan semua itu dengan hal serupa. Lakukan kebalikannya dengan terus-menerus memaafkan, mencintai, mendoakan, dan mendekati tentunya dengan cara-cara yang Allah sukai” Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk terlepas dari masa lalu yaitu mendekatlah sedekat-dekatnya kepada yang memiliki cinta. Hmmm tampaknya saya mulai mendapatkan kuliah tentang filosofi cinta dari Pak Muaz. Hmm kemudian saya bertanya ttg latar belakang beliau. Pak Muaz saat ini adalah salah satu staf dosen di sebuah kampus di bilangan Ciputat.

Menurut pak Muaz, dia belajar ikhlas dari Islam. “Hmmm emang dulunya bapak bukan Islam?” tanya saya penasaran. Dia menjelaskan bahwa sejak lahir ia Islam namun tak mengerti betul tentang agama ini kecuali hanya mencari pahala.”Kamu tahu kan sejak kecil itu Islam cuma sholat,puasa dan zakat.Jadi terkesan berlomba-lomba mengumpulkan pahala banyak-banyak biar masuk surga?” Padahal menurutnya pengalaman-pengalamannya dan masa lalunya yang membuat dia semakin mengerti bagaimana agama ini seharusnya diperlakukan.

“Coba perhatikan diri kamu sekarang. Baru kena masalah sedikit saja sudah labil.Mudah Goyah.Tak punya pegangan yang kuat untuk bertahan.Apatis.Bahkan mudah cemas. Seperti lupa akan adanya Tuhan!!!” Hmmm sepertinya saya baru kena sindiran yang cukup jelas dari Pak Muaz. Padahal sama sekali dia tidak tahu apa yang sedang berkecamuk didalam dada saya saat itu.

Cobalah terus menerus ikhlas. Jangan biarkan hati kamu dipenuhi oleh perasaan-perasaan tak menentu. Sungguh setan akan sangat mudah membuat kamu jadi lemah dengan kondisi seperti itu. Dalam keseharian coba perhatikan betapa banyak manusia yang tidak terkendali emosinya. Banyak perkara-perkara kecil menjadi sangat besar hanya gara-gara terus menerus membiarkan kemarahan muncul dari dalam sanubari kita yang diakibatkan kita selalu menyimpan kebencian di dalam alam bawah sadar.

Kali ini saya harus benar-benar mendengar ceramah Pak Muaz. Saya terkesan memang ingin lari darinya tapi sulit sekali. lagipula tak ada salahnya juga mendengar celotehannya.Pak Muaz menjelma bagaikan Ayah toh anggap saja saya yang sedang dimarahi sebagai anaknya karena memang saat ini saya jauh di perantauan. Dalam konflik, ketika ikhlas berarti kita bersedia menempatkan diri kita dalam masalah tersebut yang menjadi bagian dari diri sepenuhnya. Kita redho dengan masalah yang menimpa dan tidak berkeluh kesah dengannya. Kita harus sadar bahwa diri kita penuh kelemahan dan kealpaan. Jangan pernah menganggap hidup kita harus steril dan suci. Mulailah dengan memposisikan hidup kita kembali ke titik NOL. Insya Allah energi positif akan terus menerus mengalir dari dalam hati kita. Kalau kamu tidak ikhlas maka yang muncul adalah rasa penat, capek, dan mentok. Kamu seperti orang tolol yang lupa bahwa dulunya kamu tidak begitu. Lakukan hal-hal produktif seperti saat ini yang sering saya perhatikan kamu selalu hadir di masjid. Saya yakin kamu saat ini susah melupakan seseorang. Padahal banyak orang yang lebih baik dari seseorang itu yang harus kamu temui. Buat apa menyendiri.Cobalah berkawan dengan orang-orang baik dan shaleh, katanya kemudian seperti meminta saya melakukannya.

Sepanjang malam saya terus menerus memikirkan obrolan dengan Pak Muaz. Saya seperti beruntung bisa bertemu dengannya. Hidup saya semakin bergairah dan bersyukur bahwa masih bisa bertemu dengan orang-orang baik sepanjang waktu. Hal ini yang kadangkala tidak saya sadari. Artinya masalah saya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan pertolongan Allah yang terus-menerus mengirimkan malaikat tanpa sayap untuk menyadarkan saya tentang hidup ini.

Saya mulai percaya kata IKHLAS. Untuk mewujudkan keikhlasan tersebut saya harus benar-benar endurance. Karena yang saya ingat jika kita tidak ikhlas maka akan muncul kecapekan dalam hati yang membuat hati kita menjadi tidak tentram. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menangkis pengalaman buruk masa lalu namun senjata utamanya yaitu IKHLAS. Melupakan masa lalu yang buruk dengan ikhlas berarti merengkuh kebaikan semesta. Niscaya suatu saat saya yakin akan menuai apa yang saat ini saya perbaiki.

Advertisements