#Wisata ke Minang : Masjid Raya Lima Kaum, Tanah Datar


Akhirnya inilah perjalanan kedua saya mengeksplorasi ranah minang. Saya memang sedang tertarik mempelajari budaya Minangkabau. Hal ini dimulai saat saya mendengar lagu “Ayam den Lapeh” yang dinyanyikan oleh seseorang yang memang asli Minang. Dari situ timbul niat untuk mulai sedikit demi sedikit mengenal budaya Minang secara bertahap. Ekplorasi pertama saya dimulai pasca lebaran Idul Fitri dua bulan lalu. Dan sekarang mulai untuk mendalami lebih jauh.

Atap Masjid Raya Lima Kaum

Pada tanggal 27 Oktober 2012 perjalanan dimulai ke Batu Sangkar dan kali ini saya bersyukur bisa mengunjungi sebuah Masjid Tertua di Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Masjid ini juga merupakan masjid tertua di Indonesia dan menjadi cagar budaya. Letaknya berada sekitar 40 meter dari jalan raya sebelum masuk ke kota Batu Sangkar.  Ditengah-tengah perkampungan penduduk yang masih tradisional dan juga jalanan desa dengan suasana alami dan asri membuat yang baru pertama kali berkunjung akan merasa sedang berada di masa lalu.

Masjid ini sangat khas, karena dari jauh sudah tampak atap bangunan yang menonjol ke atas dengan warna merahnya. Saya sendiri kagum dan begitu antusias ingin tahu dan mengenal keberadaan masjid tertua di nagari lima kaum ini. Konon katanya masjid ini sebagai cikal bakal penyebaran Islam di Minangkabau. Alhamdulillah saat sampai di lokasi masjid,adzan ashar sudah berkumandang. Sehingga mudah bagi saya untuk menemui beberapa jamaah dan berkenalan dengan mereka.

Bersama Imam Masjid

Mungkin saya lagi beruntung, kali ini saya berkesempatan untuk berkenalan dengan Imam Masjid Lima Kaum yang bernama Ustadz Asril. Namanya mirip dengan nama depan saya. Dari dia saya banyak tahu asal muasal masjid yang konon berdiri sejak tahun 1690-an. Masjid Raya Lima Kaum awal mulanya didirikan oleh seorang ulama bernama Syekh Burhanuddin yang belajar ilmu agama ke negeri Samudra Pasai, Aceh. Kemudian dia datang ke Minangkabau untuk menyebarkan agama Islam yang dahulunya negeri Lima Kaum masih berupa kerajaan kecil dan beragama Hindu/Budha. Waktu itu penyebaran Agama Islam sangatlah cepat dan mudah diterima oleh masyarakat. Sehingga diperlukan tempat ibadah.

Masjid pertama kali dibangun di Lantai Batu Nagari Limo Kaum. Masjid ini didirikan di Gantian Lantai Batu. Lokasinya antara Balai Batu dengan Tigo Tumpuak. Di atas tanah Mak Lawik Datuak Pamuncak suku Sumagek. Masjid dikenal dengan nama ” Ba aleh batu, ba dindiang angin-angin, ba atok langik“. Kemudian karena terus berkembang dibangunlah masjid kedua yang mampu menampung jamaah lebih banyak di Subarang Tigo Tumpuak. Namun rupanya Islam sangatlah disukai oleh masyarakat Minang dan banyak yang kemudian beralih menjadi pemeluknya. Sehingga Masjid yang kedua pun tak sanggup lagi menampung jamaah.Kemudian Raja Lima Kaum saat itu yaitu Datuk Bandaro Kuniang, memerintahkan setiap suku untuk memulai membuat masjid baru. Akhirnya disepakati oleh Limo Kaum yang dikenal dengan 12 Koto – 9 Koto di Dalam untuk mendirikan masjid ke tiga.

Pembangunan Masjid Ketiga merupakan sejarah tersendiri bagi masyarakat Nagari Lima Kaum sampai saat ini. Karena pada saat itu semua warga dari Nagari Lima Kaum terlibat dalam pembangunannya. Bahkan Datuk Bandaro Kuniang sebagai raja saat itu mengeluarkan instruksi “Bak Jawi Hilang Ka Sumpu”. Artinya abagi masyarakat yang tidak mau ikut dalam pembangunan masjid ini maka jawi/ternak mereka akan di ambil untuk  makan bersama  dalam gotong royong.

Jamaah Masjid

Saya benar-benar menikmati setiap detil dari bangunan masjid tertua ini. Bangunannya sekilas mirip Pagoda. Saya berfikir bagaimana alotnya saat itu proses pembangunan masjid ini yang akhirnya terpengaruh arsitektur sinkretisme (pagoda) karena awalnya penduduk beragama Budha. Bangunan masjid bertingkat lima dengan tiang utama berdiameter 75 cm dan tinggi rata-rata tiang 55 meter. Tonggak utama masjid dikenal juga dengan nama tonggak marcu yang konon diambil dengan membongkar/mencabut batangnya sehingga urat pohon tersebut terbawa. Tonggak marcu di ambil di sekitar bukit Sangkiang sampai rimba bukit Dadieh Talago Gunuang. Pengumpulan kayu ini menghabiskan waktu lebih kurang 1 tahun.

Masjid ini persis berada di tengah-tengah nagari Limo Kaum. Tepatnya di Balai Sariak Jorong Tigo Tumpuak Nagari Limo Kaum Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar. Sekitar 40 meter dari Jalan Raya Batusangkar Padang Panjang. Atapnya 5 tingkat, tonggaknay 121 buah, tiang gantung terdapat sebanyak 15 buah dan jendela masjid 28 buah. Didalam masjid kita bisa melihat batang kayu tua yang kokoh sebagai tiang penyangga masjid dan lantai ulin kayunya yang selalu yang dingin. Tempat ini dulunya adalah bekas bangunan kuil Pagoda yang lama ditinggalkan oleh penganutnya karena memeluk Islam. Kabarnya jika kita berada di atas puncak marcu tersebut, kita bisa menikmati Danau Singkarak.

Untuk mengenal lebih lanjut tentang Masjid ini silahkan klik.

Credit : Tono,  Rinaldo Edo dan Keke yang telah mengenalkan Tanah Datar

Advertisements

5 thoughts on “#Wisata ke Minang : Masjid Raya Lima Kaum, Tanah Datar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s