#Wisata ke Minang : Berkunjung ke Baso, Agam


Perjalanan Menuju Baso dari Batu Sangkar

Mungkin banyak yang bakalan ga percaya kalo di Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Agam ada sebuah kecamatan yang bernama Baso? Yups Itu benar adanya. Saya pun pertama kali mendengarnya sesaat berkenalan dengan seseorang yang berasal dari Baso pertama menganggap itu hanya candaan. Saya pikir dia menyukai Bakso atau Baso. Namun ternyata Baso sendiri sudah cukup lama di kenal oleh Masyarakat Minang. Bahkan nama Baso sendiri diabadikan dalam salah satu lirik “Ayam den lapeh” asal muasal saya menyukai Minang.

Baso dari ketinggian
Gunung Marapi menjadi Latar Belakang Baso

Maka dari itu saya penasaran ingin tahu daerah Baso itu seperti apa? Alhamdulillah hari senin yang lalu 29 Oktober 2012, dengan ditemani oleh Datuk Tuanku Nan Lincah saya berhasil memasuki wilayah Baso dari ujung ke ujung terutama Nagari Padang Tarok. Saya penasaran dengan nama Baso rupanya bukan diambil dari jenis makanan Bakso melainkan sebutan dari nama Sutan Basa. Karena orang minang biasa mengganti hurup ‘a’ dengan ‘o’ makanya namanya menjadi Sutan Baso. Sutan Baso sendiri adalah utusan dari penduduk Nagari Tabek Panjang yang hidup di atas gunung Marapi untuk mencari daerah baru dan menemukan sumber air buat penduduk Nagari Tabek Panjang yang lagi krisis air di atas gunung pada saat itu. Nah daerah yang ditemukan oleh Sutan Baso adalah di kaki gunung Marapi yang menjadi Kecamatan Baso saat ini.

Kawasan persawahan yang di kelilingi perbukitan di Baso

Baso sendiri berlokasi di tengah-tengah dua kota penting di Sumatera Barat yaitu 10 km dari Bukit Tinggi dan 15 km dari Payakumbuh. Daerah Baso lokasinya tepat dibawah kaki gunung Marapi dan dikelilingi oleh deretan kaki bukit Barisan. Memang secara geografis, kondisi Baso berbatasan dengan beberapa Nagari yang berada dikawasan perbukitan sehingga suhu rata-rata sekitar 20’C – 28’C. Jadi sangat cocok buat mereka yang ingin merasakan kesejukan cuaca kaki gunung Marapi. Tidak salah jika salah satu institusi pendidikan Tinggi yaitu IPDN membuka kampus-nya di kawasan ini.

Pasar Baso yang di dirikan saat kolonial Belanda

Untuk mengenal Baso sangatlah gampang, cukup naik angkot atau ojek. Nanti kita akan bertemu sebuah pasar yang cukup terkenal dan besar di Kabupaten Agam yaitu Pasar Baso. Eits inget ya ini bukan pasar menjual Bakso. Namun ini konon adalah Pasar Serikat yang telah didirikan sejak masa Kolonial Belanda tempat berkumpulnya penduduk Agam. Warga Baso mengenal pasar ini dengan sebutan pakan baso karena beroperasi setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu.

Angkutan Desa yang full Audio Set Music di Baso

Di Baso ada beberapa tempat wisata yang belum banyak dikenal karena kondisinya memang belum optimal untuk dikembangkan secara komersil. Beberapa diantaranya yang berhasil saya tahu dari Datuk Sutan Nan Lincah adalah Ngalau Baso, Ngalau Simarasok dan yang paling melegenda adalah Ikan Sakti di Sungai Janiah.

Persawahan di Sungai Cubadak Baso

Memasuki kawasan Baso khususnya di ujung kecataman coba masuki Jorong Ujung Guguak. Disana kita bisa menyaksikan secara lebih dekat kawasan sawah yang pada saat saya berkunjung sedang menguning. Ada sebagian petani yang sedang memanen. Sehingga cocok buat yang menyukai alam pedesaan dan perbukitan. Di salah satu ujung bukit ada tempat yang bagus buat melihat kecamatan Baso dari ketinggian yaitu Bukit Durian.

Pemandangan Baso dari Bukit Durian

Untuk menuju Bukit Durian, kita akan melewati banyak pematang sawah dan sungai. Kondisi jalan cukup baik dengan kondisi beraspal dan sebagian semen. Banyak penduduk yang saya temui sangat ramah tersenyum saat saya lewat. Mungkin mereka asing melihat saya dan menyadari kehadiran pendatang dengan tas punggung saya yang khas. Wajar ada beberapa anak yang saya ajak ngobrol menyebut saya turis. Okelah saya setuju dengan sebutan itu.

Di Baso mungkin mirip dengan tempat lain di Sumatera Barat masih kita jumpai beberapa rumah gadang khas penduduk lokal. Beberapa diantaranya masih terawat dengan baik dan ada juga yang seperti mau roboh. Mungkin faktor pemeliharaan rumah gadang yang memakan banyak dana menyebabkan tidak semua orang minang membangun rumah dengan atap bagonjong. Selebihnya malah sudah modern seperti kita temui pada umumnya.

Nah dari atas Bukit Durian saya bisa melihat lebih jelas Kecamatan Baso dari puncak Bukit. Terlihat indah, sayangnya pada saat saya kesana Puncak Gunung Marapi tengah tertutupi awan tebal sehingga tidak nampak. Datuk Sutan Nan Lincah mengatakan kalau cuaca cerah suasana dari atas Bukit Durian sangatlah indah dengan pemandangan sawah, sungai dan perbukitan serta tidak lupa Gunung Marapi yang berdiri angkuh di kejauhan.

Sayang Puncak Marapi tertutupi awan tebal sehingga tak nampak di foto ini

Selama di Baso saya sempat bermain-main di sawah dan berkenalan dengan penduduk lokal setempat. Termasuk dengan anak-anak yang sangat pemalu pada awalnya. Saya sendiri kaget melihat mereka menutupi muka saat berkenalan. Namun setelah itu mereka akan tersenyum senang setelah berkenalan dengan orang luar. Ada sungai yang menjadi andalan warga yaitu Sungai Janiah.

Anak -anak Sekolah dari Baso
Sungai Angek

Nah di sungai ini ada sebuah tanda berupa papan larangan yang disebut Agam Larangan tepat di muka jembatan diatas sungai Janiah. Datuk Sutan Nan Lincah bercerita bahwa di dekat sungai ini sudah tidak boleh lagi memancing karena terdapat sebuah ikan sakti. Entahlah mendengar kata ikan sakti saya sedikit ragu. Namun saya harus tahu juga asal muasal kenapa penduduk Baso mempercayainya.

Papan Larangan Agam
Ikan Sakti dari Sungai Janiah Baso

Menurut Datuk, ada juga yang tidak percaya dengan legenda ikan sakti sungai Janiah. Namun sampai saat ini tidak ada yang berani memakan ikan-ikan itu. Oh ya letak persisnya ikan tersebut berada di sebuah kolam dekat Masjid. Namun boleh dikata sungai Janiah bukanlah sungai berair jernih. Derasnya arus air sungai cukup membuktikan betapa suburnya tanah yang dialiri air sungai untuk persawahan penduduk.

Datuk Sutan Nan Lincah bercerita bahwa papan itu dibuat untuk warga agar senantiasa menjaga kelestarian kawasan sungai dari pencemaran dan juga hal-hal lain yang dapat merusak ciri khas Baso. Dia juga menuturkan bahwa ikan-ikan itu sampai saat ini tak pernah terlihat anak-ikan. Karena ukuran ikan dari dulu sampai sekarang tetap yaitu sekitar setengah meter ada juga yang kecil sekitar 10 cm. Warnanya yang hitam dan sedikit aneh membuat penduduk Baso tidak tahu jenis  dan nama ikan tersebut sampai saat ini?

Namun terlepas dari legenda tersebut saya bersyukur bisa mengunjungi kawasan dan menambah wawasan tentang adat istiadat Minang bagaimana mereka sangat patuh dalam menjaga nilai-nilai tradisi dari nenek moyangnya dan tetap lestari sampai saat ini.

Persawahan di Baso yang baru tanam

Oh ya selain Baso ada lagi daerah yang dekat Baso dan bernama Biaro. Namun daerah ini tidak jauh berbeda dengan Baso cuma ditemukan sebuah rumah gadang milik penduduk setempat yang sangat indah dan cantik. Bagus buat dijadikan dokumentasi dan latar belakang foto. Berikut foto rumah gadang tersebut.

Rumah Gadang Biaro
Advertisements

4 thoughts on “#Wisata ke Minang : Berkunjung ke Baso, Agam

    1. tadinya mau buat yang Bukit Tinggi tapi karena sudah terlalu sering dimuat di media lain takut bosenin

      eh ya Yopi, rencana bulan depan Uda kesana lagi buat liat BKT Orkestra dan Bukit Tinggi Baralek Gadang..insya Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s