Ketertarikan saya untuk mengenal budaya Minang semakin bertambah setelah semalam (31 Oktober 2012) berhasil mendapat undangan untuk  datang dan menyaksikan sebuah even penting yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Sawahlunto. Nama event-nya cukup membuat saya penasaran yaitu “SawahLunto Kreatif 2012”. Maka setelah pulang kantor saya segera meluncur ke lokasi acara di Theater Besar, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Rupanya event ini diadakan selama dua hari yaitu (30 – 31 Oktober 2012) dan merupakan event penting bagi pemerintah Kota Sawahlunto dalam mempromosikan kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya. Kebetulan saat saya datang kondisi tempat acara sudah banyak di banjiri oleh Urang Awak yang turut serta meramaikan acara seni dan budaya ini. Saya mendapat kenang-kenangan berupa buku “Sahabat Sawahlunto” pada saat registrasi dimana berisi beberapa testimonial dari tokoh-tokoh penting yang pernah mengenal dan berkunjung ke kota Sawahlunto. Cukup menarik isi bukunya dan memberikan pemahaman baru buat saya yang belum pernah berkunjung ke Sawahlunto.

Ajang ini sendiri sebenarnya merupakan gagasan untuk mengangkat dan memberdayakan masyarakat Sawahlunto, khususnya dibidang industri kreatif yang telah lama digeluti. Dan Pak Walikota yakin bahwa industri kreatif ini akan mengangkat kesejahteraan warga Sawahlunto, begitu penuturan Pak Amran Nur sesaat membuka pergelaran seni yang juga dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Gubernur Sumbar.

Foto-foto tentang Sawahlunto menarik untuk di lihat

Saya kebetulan mendapat tempat duduk tepat di bagian depan balkon di lantai tiga yang bisa langsung menyaksikan Pergelaran seni yang bertajuk pergelaran seni tari Restorasi Songket Silungkang” karya kareografer Hartati, dan fashion show  oleh Ria Miranda dengan tema “Minangkabau Heritage”. Sebagai Informasi koreografer Hartati merupakan salah satu yang terlibat dalam acara pembukaan Sea Games 2011 di Palembang. Sehingga saya merasa tidak rugi bisa hadir dalam acara malam tadi.

Diketahui, sebagai koreografer dari Minang, Hartati dikenal memiliki ciri gerakan tradisi Minang seperti pencak silat dan randai yang diasahnya sewaktu bergabung dengan kelompok tari Gumarang Sakti pimpinan almarhum Gusmiati Suid. Pergelaran seni tari dan berbarengan dengan gabungan dari pergelaran kesenian rakyat seperti talempong, randai, saluang, serta rabab. Dibuka dengan sebuah display tentang kota Sawahlunto di sebuah giantscreen kemudian satu persatu muncul beberapa wanita yang mengenakan pakaian adat Minang sambil membawa baki yang ditaruh di atas kepala turun dari bukit. Kemunculan beberapa wanita ini menandakan kehidupan di mulai dengan aktivitas warga Sawah Lunto di Pagi Hari.

Pembukaan pergelaran Restorasi Songket Silungkang

Kemudian secara berurutan dimulai lah geliat kehidupan warga sawahlunto yang diceritakan pada masa dulu kota ini sangat dinamis dimana sebagian besar warga berkerja di sektor pertambangan. Tidak lupa di latar layar juga ditampilkan sebuah lokasi Tambang Batubara Ombilin yang cukup terkenal pada masanya. Semua dilakukan oleh beberapa penari kontemporer.  Yang agak membingungkan karena saya tidak terlalu fasih dan mengerti bahasa Minang ada beberapa adegan yang saya tak mengerti betul alur cerita dari seorang pendongeng padahal semua penonton yang hadir hampir semuanya tertawa terbahak-bahak. Ya saya ikutan aja tersenyum kecil melihat keceriaan itu.

Tradisi Masyarakat Sawahlunto dalam menenun Songket Silungkang

Terus terang acara pergelaran Tari Restorasi Songket Silungkang menurut saya patut di ancungi jempol. Dari sisi setting panggung utama, penataan cahaya dan juga koreografi cukup mudah dicerna bagi orang awam yang menyaksikan. Apalagi pas ada siluet beberapa corak songket Silungkang yang ditembakkan ke badan penari membuat pertunjukan semakin enak buat ditonton terlepas saya tak mengerti betul apa yang sedang dibicarakan oleh pemain yang sebagian besar menggunakan bahasa minang dalam penuturannya.

Selepas dari menonton pertunjukan, saya juga berkesempatan untuk melihat beberapa foto yang ditampilkan di depan pintu utama theater. Menurut saya foto-foto yang dipajang sangat informatif dan memberikan pemahaman yang positif bagi saya betapa kota Sawahlunto tengah berbenah untuk membuat predikat baru sebagai kota tujuan wisata Sumbar lainnya  selain Bukit Tinggi yang sudah menjadi ikon Minang.

Di salah satu sudut ruang pameran, juga terpajang bukti peradaban Sawahlunto yang telah berusia cukup tua dan beberapa songket Silungkang. Saya penasaran mudah-mudahan dalam waktu mendatang saya bisa mengunjungi kota Wisata Tambang satu ini.

Advertisements