Berlarilah terus ke depan, tak usah hiraukan langkah kaki yang telah tertapak di belakang. Fokus dan Teruslah berlari sampai akhir ke tujuan/finish. Begitulah kira-kira motivasi saya ketika Minggu lalu (4 November 2012) mengikuti lomba lari Allianz Jakarta Heart Run 10K yang berlangsung di silang barat Monas Jakarta. Even bergengsi yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia ini diikuti oleh hampir 10.000 pelari. Menyenangkan bisa bertemu dengan ribuan pelari di pagi hari dengan cuaca Jakarta yang sangat sejuk minggu lalu. Terlebih ini adalah racing pertama saya mengikuti kompetisi berlari 10K.

Banyak juga orangtua yang ikut berpartisipasi

Jujur, awalnya saya masih ragu untuk ikutan lomba lari 10K. Walaupun setiap seminggu sekali tak pernah absen berlari namun masih kurang pede untuk ikutan lomba. Tapi pikiran saya berubah sesaat saya mengatakan bahwa tidak ada salahnya mengikuti lomba lari untuk mengetahui kemampuan berlari saya dengan pelari amatir lainnya. Lagian toh bukan menang atau kalah yang jadi tujuan. Tapi niat utama saya ingin sehat dan kuat. Saya mulai merasa untuk tetap menjalankan hidup sehat dan mengalahkan diri sendiri apakah saya mampu berlari tanpa henti sepanjang 10 KM? Nah akhirnya bismillah saja saya mulai daftar online tiga hari sebelum pendaftaran di tutup.

Ekspatriat yang turut berpartisipasi

Tidak ada persiapan khusus menjelang lomba. Saya pikir latihan rutin seminggu sekali sudah cukup buat saya menjajal event kali ini. Tak menyangka sesampai di lokasi banyak teman baru yang baru saya kenal turut serta hadir. Ini memberikan sedikit motivasi untuk giat berlari. Karena selain murah meriah, otomatis olahraga satu ini cukup mudah dilakukan kapanpun. Cuma butuh niat dan start awal untuk memulainya selanjutnya akan terasa nikmat.

momen sebelum start bersama

Awal saya berlari sejak setahun terakhir merasa sering lelah karena waktu banyak di habiskan untuk rutinitas di kantor. Saya juga malu dengan salah satu teman saya yang  dulu sepertinya dia sering memotivasi saya untuk memulai hidup sehat. (sekarang dia sudah pergi).  Untuk pergi ke pusat kebugaran masih agak setengah hati. Akhirnya mulailah memilih berlari dan serius untuk memilih rute baru setiap minggunya.

Selain Bule juga banyak ditemui Orang Jepang, Korea dan Asia lainnya

Saya sendiri merasa surprise dengan kemampuan saya menempuh jarak 10KM tiada henti pada Allianz Jakarta Heart Run 10K. Oh iya untuk membantu mencapai tujuan dalam berlari. Saya sengaja memilih berlari sendiri tak mau ikut dalam rombongan atau orang yang saya kenal. Karena dalam kesempatan seperti ini seharusnya kita berlari saja  sendirian tanpa menganggu pelari lari ataupun tanpa melakukan aktivitas apapun seperti mengobrol dan lainnya. Karena dengan terus berlari berarti kita menghemat energi yang bisa digunakan dalam menempuh jarak dan jika kita konsentrasi berlari maka dengan mudah kita tahu target yang akan kita kejar. Untuk memudahkan memonitor jarak, waktu tempuh dan kecepatan saya sengaja menggunakan 2 aplikasi yaitu endomondo dan Nike Running+ dibantu juga dengan beberapa beat lagu yang membunuh rasa bosan selama berlari.

Ini catatan waktu saya selama race

Ternyata menunggu start untuk bersama-sama pelari lainnya didepan garis itu menyenangkan. Ini adalah momen yang paling saya suka. Karena baru pertama ikut race, saya sengaja berlari tidak terlalu cepat di awal.Prinsipnya saya tak mau menghabiskan banyak energi di awal namun menyerah di pertengahan. Saya lagi belajar mengatur pola lari saya agar sampai finish dengan energi yang ada. Lagian tak ada gelar yang ingin saya rebut hanya ingin mengalahkan diri sendiri. Dalam benak saya selama berlari adalah saya harus bisa sampai finish tanpa henti berlari walaupun pelan. Toh saya juga bukan pelari ataupun atlit yang harus memperbaiki catatan rekor. Intinya pecahkan rekor sendiri aja dulu tak perlu peduli dengan pelari lain yang terus menerus menyalip saya di depan.Jika bisa mengalahkan diri sendiri maka bagi saya itulah kemenangan.

Akhirnya sampai juga di finish

Karena ini merupakan race dengan jarak jauh, maka sebisa mungkin saya harus kuat dan tepat mengatur pola pernapasan. Dengan berlari kecil saja, saya mulai terasa keram di bagian perut samping pada saat menempuh 4 km awal. Namun saya terus motivasi diri tak boleh kalah sama rintangan, syukurlah saya lawan rasa sakit tersebut dan berangsur-angsur hilang rasa sakit. Intinya jangan menyerah, teruslah berlari kalaupun kelelahan sebisa mungkin jangan berhenti.Perlambat gerakan dan mulailah sinkronkan pikiran untuk mencapai tujuan dan atur musik penambah semangat.

Di jarak 6 km, kondisi tubuh saya semakin baik. Tak ada lagi rasa sakit di perut, kaki atau paha. Semuanya sudah terbiasa tampaknya bahkan saya mulai mempercepat kecepatan. Sesekali saya merasa bangga bisa menyalip beberapa orang yang pada jarak awal menyalip saya. Namun kali ini saya yang giliran menyalip mereka. Oh ya biasanya para pelari tadi sudah terasa kecapekan dan juga akibat berhenti sebentar di tempat pemberhetian minum. Di Allianz Jakarta Heart Run 10K kali ini titik pemberhentian minum ada 5 titik pemberhentian. Namun saya cuma berhenti di titik ke-3 dan ke-6. Saya tak mau memanjakan diri dengan memberikan banyak cairan saat berlari. Saya minum sedikit demi sedikit tak sekaligus dan ini rupanya membantu proses pengembalian energi menjadi lebih baik ketimbang diminum sekaligus. Sisa minuman saya gunakan untuk membasahi badan.  Akhirnya saya tuntas juga menyelesaikan race kali ini yang walaupun bertitle 10K namun ternyata dari pengukuran GPS berjarak 12,9 KM dengan menghabiskan 872 calorie dan pace 6’18″/km. Lumayanlah buat amatir seperti saya.

Teman saya yang ikut berpartisipasi juga

Selama menjalani race 10 Km ini, saya mulai mengerti dan sedikit demi sedikit mengambil banyak hikmah. Sama seperti menjalani kehidupan ini. Kadangkala banyak hal yang membuat kita tidak optimis mencapai tujuan karena terbentur faktor penghambat. Namun jika kita fokus dan tidak terburu-buru maka sedikit demi sedikit kesuksesan akan kita raih sesuai jalan yang kita tempuh. Yang paling penting adalah konsistensi dalam menjalani kehidupan tak perlu gebyar menghabiskan energi terlalu banyak namun berakhir kritis di penghujung kehidupan. Sama seperti berlari, hal ini memberikan dampak positif bukan saja dari sisi kesehatan. Namun juga mental. Yap betul sekali mental untuk menjadi juara bagi diri sendiri mencapai garis finish adalah hal penting yang saya dapatkan. Ada optimisme untuk mencapai garis finish dengan segala kemampuan. Perlu latihan dan terus menerus mengasah kemampuan sama halnya ketika saya berhasil mencapai finish dengan waktu 1 jam 20 menit. Saya ingin mengikuti race berikutnya dengan catatan rekor lebih baik. Bahkan saya berniat ingin ikut race 20K atau 40K untuk menguji daya tahan saya terhadap tantangan. Saya tak mau lagi di bilang lemah waktu itu saya hampir menyerah saat treking di Pulau Sempu bulan Januari silam dengan banyaknya rintangan. Saya yakin bisa dan akan terus mencapai tujuan lebih baik. Insya Allah

Advertisements