Pak Radisman di pesawat. Ketahuan juga saat saya mencuri mengambil gambarnya

Bagi saya rezeki itu tidak melulu berupa materi namun bertemu dengan orang-orang baik adalah rezeki.Saya terkadang malah bosan dengan kehidupan hedonis yang senantiasa hingar bingar di Jakarta tempat tinggal saya saat ini. Karena sepertinya dunia sudah berubah orientasi. Saya suka bingung mana yang benar tulus mau berteman sama kita. Mana yang hanya mengambil manfaat saja? Tapi syukurlah dari semua orang yang saya kenal hanya sebagian kecil yang berprilaku seperti itu. Tapi bagaimanapun saya tetap bersyukur bisa mengenal mereka semua.

Saya tak ingin memilih mau berteman dengan siapa saja. Bagi saya setiap orang adalah unik dan menyenangkan. Saya harus banyak belajar dari setiap orang yang saya temui dan berusaha untuk menghargai apa adanya. Sama halnya dengan pertemuan saya dengan seorang Bapak di dalam pesawat dari Padang menuju Jakarta pada tanggal 30 Oktober 2012 lalu. Dalam kondisi yang capek setelah 5 hari menjelajahi Ranah Minang akhirnya saya benar-benar tertidur di ruang tunggu bandara lebih dari satu jam. Kebetulan saya tiba di Bandara Internasional Minangkabau lebih awal dari jadwal. Saya benar-benar lupa waktu itu tengah berada dimana? Tak lama kemudian ada seseorang yang membangunkan saya setelah dari pengeras suara memberikan pengumuman bahwa pesawat yang akan saya tumpangi akan segera boarding.

“Dek, bangun pesawatnya mau berangkat!” ujar bapak itu dengan sedikit menggoncangkan badan saya. Tak lama saya langsung bergegas masuk ke dalam gate antrian setelah berterima kasih. Saya takut saja waktu itu kalau sampai harus tertinggal di Padang seorang diri. Mungkin ini namanya takdir atau jodoh, saya bertemu dengan Bapak yang tadi membangunkan saya di ruang tunggu. Dan nyatanya kursi dia tepat disamping saya. Tak lama dia menyapa saya “Oleh-oleh kamu ketinggalan di luar ya?” tanyanya kemudian. Astaga, kenapa saya jadi lupa. Saya cuma berterima kasih kembali ke Bapak tersebut yang telah membawakan kardus berisi oleh-oleh untuk teman-teman di kantor.

Saya benar-benar berhutang budi dengan bapak satu ini. Selain dia sudah membantu membangunkan ditambah dengan kerelaan dia membawakan kardus yang semestinya saya bawa. “Loh tadi Bapak ga manggil saya pas di ruang tunggu? Mohon maaf Pak jadi merepotkan bapak. Terima kasih banyak buat bantuannya,” ujar saya kemudian setelah dia duduk.

“Tadi pas kita check-in bareng saya dibelakang kamu. Namun setelah saya perhatikan kamu tertidur pulas jadi saya khawatir kamu ga ada yang bangunin” ujarnya memberikan penjelasan.Saya tersenyum senang mendengarnya. Masih ada ya orang baik seperti bapak satu ini memberikan perhatian empatinya ke orang lain. Kemudian kita saling berkenalan. Beliau bernama Pak Radisman, seorang pedagang pakaian di Pasar Aur Kuning Bukit Tinggi. Saya benar lagi beruntung kali ini, keberuntungan yang tiada henti mengalir.

Saya kembali dipertemukan dengan orang baik. Di dalam pesawat kami banyak bertukar pikiran terutama tentang kisah  beliau menjadi pedagang yang baru digeluti sejak tahun 2002. “kenapa kamu ga mencoba menjadi pedagang nak?” tiba-tiba pertanyaan tersebut diajukannya. Pak Radisman bilang, dulunya juga dia seorang pegawai kantoran. Namun keinginan dalam hatinya sejak dulu ingin menjadi pedagang begitu kuat. Maka dia memberanikan diri untuk mengajukan pensiun dini dan mulai berdagang pakaian yang diambilnya dari pasar Tanah Abang Jakarta.

Saya belum juga menjawab pertanyaannya. Namun beliau memberikan motivasi lain buat saya untuk menjadi pedagang. “Kalau lihat dari wajah kamu, saya yakin apa yang akan kamu jual pasti laku!” Wah saya jadi tertawa kecil mendengar penuturannya.”Saya ga bisa dagang pak!” kata saya. “Tapi kan kamu belum pernah mencoba” tantang Pak Radisman kemudian. Hmmm saya bergumam membuat pak Radisman melanjutkan tantangannya. “Gimana kalau kamu mencobanya?” Saya dalam posisi yang tertekan antara mau jawab ‘iya’ atau ‘tidak’. Lantas saya bertanya, “Maksud Bapak saya mencoba berdagang pakaian seperti bapak?” Pak Radisman sepertinya cuma tersenyum tanda dia tak perlu menjawab pertanyaan saya. “saya pikir-pikir dulu pak” lanjut saya.

Saya masih bingung kenapa harus berjumpa dengan Pak Radisman dalam penerbangan tersebut. Kenapan tiba-tiba saya sangat akrab dengannya dan beliau seperti percaya betul dengan orang seperti saya yang baru dikenalnya. Benarkah ucapan dia kalau saya jualan pasti akan laku? Beberapa penjelasan dia didalam pesawat membuat saya pusing dan terus berfikir. Darimana Pak Radisman yakin saya bisa berjualan dengan baik. Cuma yang saya ingat adalah komentarnya begini “Kalau dilihat dari wajah kamu, saya yakin orang akan suka sama kamu dan yakin apa yang kamu jual ke pembeli tidak akan menipu” Tiba-tiba saja saya gemetar mendengar statement beliau. Saya benar-benar takut dan bingung menyikapinya. Saya juga nggak tahu harus bilang apa ke Pak Radisman cuma diam dan diam sampai dia menyakinkan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki ada dalam berdagang. Sisanya yang 1 dibagi-bagi ke sektor lain. “Cobalah nak untuk berdagang” lagi-lagi tawaran itu semakin membuat saya bingung.

Kemudian Pak Radisman mulai bercerita perjuangan dia memulai usaha dagangan pakaian jadi-nya berawal dari lapak/los kecil kemudian berkembang menjadi kios dan sekarang mempunyai toko. Pak Radisman sepertinya memang sangat terbuka bercerita. Dia menjelaskan bahwa di Pasar Aur Kuning merupakan Tanah Abang kedua di Indonesia. Karena Aneka busana muslim, pakaian kasual, mukena, karpet, seprai, hingga tirai jendela ditawarkan dengan harga relatif murah. Calon pembeli tentu saja bisa menawar. Nah dari situ sepertinya Pak Radisman tengah membuka pikiran saya tentang peluang untuk memulai berdagang. Apalagi ditambahi beliau dengan pembeli datang dari sejumlah daerah, di antaranya Sumatera bagian tengah hingga utara. Bahkan ada pembeli dari Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Saya yakin Pak Radisman orang baik. Karena bagaimana mungkin kalau dia tidak baik mau membagi ilmunya ke orang asing yang baru dikenalnya. Bahkan merepotkannya dengan membawa barang saya ke pesawat. Saya bilang saja, “Insya Allah pak saya akan coba tapi tidak dalam waktu dekat ini” jawaban saya membuat dia terlihat begitu senang dan tersenyum puas. Selanjutnya kami banyak membahas hal-hal lain seputar perjalanan saya ke Minang termasuk tawaran beliau untuk mampir ke rumahnya di Bukit Tinggi jika ada kesempatan saya bermain lagi ke Ranah Minang. Saya berjanji dalam hati kelak akan menemuinya kembali dan belajar lagi dari orang baik seperti Pak Radisman. Sayang obrolan kami terhenti setelah pesawat yang kami tumpangi mendarat di Cengkareng dan kemudian berpisah di depan terminal kedatangan. Ah betapa beruntungnya saya mengenalnya, dalam hati ungkapan syukur terus menerus saya panjatkan dan mendoakan beliau agar sejahtera dan lancar dalam urusannya. Dan kelak bisa bertemu kembali dengannya.Amin

Advertisements