Pesilat cilik Maulana dan Raihan

Saya benar menyukai segala hal terkait dengan budaya di negeri ini terutama Minang. Saya kagum melihat betapa banyak warisan pendahulu kita yang saat ini seperti hilang di telan bumi. Padahal jujur, saya juga baru tahu akhir-akhir ini. Sehingga dalam hati saya berujar tak ada istilah terlambat untuk belajar. Makanya sabtu (10 November 2012) kemarin saya senang sekali saat tempat silat kehadiran dua orang anak yang begitu semangat mau belajar bersama-sama ilmu pencak silat.

Kedua bocah tersebut bernama Maulana dan Raihan, keduanya masih berumur 11 tahun atau sekarang kelas 5 SD. Keduanya sangat atraktif dan banyak bertanya sehingga saya pun semangat bersama mereka belajar. Pada saat awal saya pikir mereka akan letih dan merasa bosan, namun dugaan saya salah. Keduanya sangat serius dan ingin terus belajar. Syukurlah saya berharap mereka akan senantiasa semangat seperti awal mereka berlatih.

Entahlah, saya mengenal silat baru beberapa bulan terakhir. Bukan saya menyukai berkelahi namun melihat seni beladiri asal Indonesia ini semakin lama semakin sepi peminat. Saya khawatir nanti generasi berikutnya tak ada yang meneruskan. Makanya saya berniat berlatih dalam rangka saya ingin sekali mentranfer seni beladiri ini buat anak-anak saya kelak ataupun generasi berikutnya. Selain olahraga juga sangat bagus buat ketahanan mental.

Hal lain yang membuat saya suka adalah seni ini sangat kompleks ternyata karena memadukan dua unsur yaitu pencak dan silat. Pencak berasal dari kata mancak yaitu bunga silat sedangkan silat berasal dari kata silek, atau siliek atau bahasa Indonesia si liat karena demikian hebatnya berkelit dan licin seperti belut. Jadi Pencak Silat sendiri berkembang awalnya dari budaya Minangkabau sehingga sangat familiar bagi masyarakat Minang dahulu kala. Kalau pencak biasanya berupa gerakan-gerakan tarian yang dikemas seindah dan sebagus mungkin dengan teknik silat sederhana sedangkan silat lebih ke arah pertahanan dan perlawanan diri dari gangguan atau serangan musuh. Sehingga silat sangat sederhana dan praktis.

Para guru silat saya mengatakan bahwa  jiko mamancak di galanggang, kalau basilek dimuko musuah (jika melakukan tarian pencak di gelanggang, sedangkan jika bersilat untuk menghadapi musuh). Nah kebetulan saya bersyukur selain dilatih oleh Guru Silat, saya dan teman-teman juga dimonitor khusus oleh seorang pendekar atau pandeka. Guru Silat saya bernama Ustadz Muchtar dan Pendekar bernama Kak Satria. Keduanya punya kelebihan masing-masing namun yang membuat saya tercengang adalah di dalam ilmu silat banyak yang jago silat sangat rendah hati dan tidak mau menunjukkan kelebihannya biarlah kenyataan yang bicara. Inilah hal yang akhirnya membuat saya semakin jatuh cinta dengan pencak silat.

Nah berikut saya dan rekan sedang memperagakan teknik pencak silat (gabungan mancak + silat) dengan lima gerakan dasar. Mudah-mudahan pembaca ada yang tertarik untuk mempelajari bersama-sama.

Advertisements