Pondok Kawa Daun Alifha

Ternyata selain memiliki masakan yang khas dan menggugah selera. Ranah minang pun memiliki satu kekayaan lainnya yang jarang orang non Minang mengetahuinya yaitu minuman Kawa Daun. Kebetulan saya memperoleh kesempatan untuk mampir ke salah satu pondok kawa daun di daerah Tabek Patah tepatnya di sisi jalan atau KM16 Tabek Patah, Batu Sangkar. Tempatnya cukup mencolok karena hanya ada sawah dan hutan disekitarnya sehingga pondok ini mudah terlihat dari jauh.

Lokasi Pondok Kawa Daun Alifha di Tabek Patah KM 16 Batu Sangkar

Kawa daun sendiri artinya daun kopi. Orang minang biasa menyebut kopi dengan nama kawa, sehingga minuman kawa daun artinya meminum seduhan daun kopi yang mirip dengan seduhan teh. Mungkin ini pertama kalinya saya mencoba untuk meminum daun kopi. Rasanya betul-betul nikmat dan hangat di tubuh  apalagi saat saya mencobanya sedang cuaca dingin setelah di guyur hujan lebat.

Salah satu anak pemilik yang sedang menyeduh aia kawa daun

Minuman kawa daun sangat populer di masyarakat Minang dan hanya sebagian kecil orang luar yang mengetahuinya karena jarang ditemui minuman seperti ini di luar Sumbar.Dulunya minuman ini dibuat oleh pendahulu saat penjajah Jepang mengekspor semua hasil panen kopi ke luar Minang. Sehingga orang Minang sendiri tidak memperoleh kesempatan untuk menikmati hasil buminya. Yang bisa menikmati seduhan buah kopi adalah kalangan tertentu saja yang melambangkan kaum kelas atas. Sehingga masyarakat minang seperti dalam kata pepatah, tak ada rotan akarpun jadi. Hanya menikmati daun kopinya saja. Hal ini membuat keinginan masyarakat Minang untuk menikmati secangkir kopi walau hanya dengan daunnya saja terobati.

Saya senang sekali saat mampir rupanya mereka mau mengajari saya cara membuatnya. Dimana untuk membuat seduhan kawa daun sangatlah mudah.Sama seperti membuat seduhan air teh. Daun kopi yang dipilih adalah daun kopi lokasl dan sebelumnya dikeringkan terlebih dahulu menggunakan panas matahari secara alami kemudian dilakukan pengeringan tahap selanjutnya di atas perapian (di sangrai) sampai benar-benar terlihat daun kopi yang kering. Proses ini sendiri bisa memakan waktu lebih dari 12 jam. Nah proses selanjutnya tinggal memasak air dicampur daun kopi yang sudah kering sampai muncul warna mirip teh.

Dapur tempat pengorengan makanan

Jika sudah berubah warna maka hidangan aia kawa daun siap disajikan sesuai selera. Biasanya di pondok kawa daun alipha ini hidangan aia kawa daun dicampur dengan susu kental manis untuk membuat rasa manis, atau bisa juga dicampur dengan madu. Yang paling enak memang menikmati hidangan aia kawa daun ini ditengah sawah atau ladang.

Apalagi disajikan lengkap dengan gorengan pisang manis, tahu, tape ubi dan lainnya menambah selera buat yang sedang letih menempuh perjalanan. Oh ya ada makanan lain yang wajib dicoba kalau sedang menikmati aia kawa daun ini yaitu bika khas Minangkabau. Bika sendiri sejenis makanan basah yang terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan parutan kelapa muda dan gula pasir. Nah selain aia kawa daun yang punya khas dalam penyajian, ternyata kue bika juga cukup unik dalam proses memasaknya yaitu dibakar dalam belanga (periuk yang terbuat dari tanah liat).

Pondok Kawa Daun Alifha

Yang menurut saya paling mengesankan adalah bagaimana cara penyajian aia kawa daun ini dengan menggunakan batok kelapa (tampuruang karambie) plus bambu sebagai pengganjalnya. Rasa aia kawa daun juga terasa unik karena perpaduan antara rasa kopi dan teh. Nah sensasi ini yang rasanya tak dimiliki oleh minuman lainnya. Jadi kalau kalian yang mau berkunjung ke ranah minang jangan lupakan untuk mampir dan menikmati aia kawa daun Alifha yang sangat enak rasanya ini.

Advertisements