Mengikuti Acara Baralek Minang di Baso, Agam Sumatera Barat


IMG_2483

Saya baru saja menghadiri pesta perkawinan adat minang atau yang biasa dikenal dengan nama Baralek, Bisa juga ditambahi akhiran Baralek Gadang jika pestanya diadakan secara meriah dan memiliki banyak prosesi. Namun orang minang biasanya hanya menyebut dengan Baralek jika diadakan secara sederhana. Rupanya acara baralek ini sudah memiliki pakem tradisi tersendiri yang secara turun temurun diwarisi oleh adat. Namun bisa saja setiap nagari memiliki perbedaan dalam penyelenggaraannya.

IMG_2481

Kali ini saya khusus datang menghadiri baralek Suwatril Anton Rajo Bagindo dengan Zahratul Aini di salah satu daerah Kabupaten Agam yaitu di Jorong Sungai Janiah Baso, Sumatera Barat. Karena acaranya sudah dimulai sejak kamis (20/12/2012) sedangkan saya baru bisa hadir jum’at (21/12/2012) maka saya cuma bisa hadir di acara baralek Marapulai alias pesta resepsi di rumah mempelai pria. Sebagaimana umumnya pesta pernikahan, baralek merupakan pesta penting yang diadakan oleh keluarga mempelai.

Saya sendiri dalam rangka masih belajar adat istiadat minang mengetahui bahwa di daerah Sumatera Barat acara pernikahan disebut baralek (artinya perhelatan). Kata baralek yang pada mulanya dipersepsikan sebagai acara resepsi yang diselenggarakan setelah akad nikah sekarang ini maknanya sudah bergeser. Kalimat bilo baralek? dapat juga diartikan “kapan menikah?”. Nah kalimat ini sering ditanyakan kepada saya…saya jawab Insya Allah tunggua tangga mainnya sajo…hahaha

IMG_2458 IMG_2457

Yang saya kagum adalah acara baralek kali ini diadakan di rumah bukan di gedung. Umumnya masyarakat Minang yang masih tinggal di kampung tetap mempertahakan adat ini. Mereka akan mengundang tetangga untuk masak bersama sebagai persiapan hidangan baralek. Nah disini sengaja dihidupkan suasana rukun dan gotong royong bersama. Untuk pesta pernikahan sendiri saya diceritakan bahwa masing-masing mempelai bisa mengadakan pesta sendiri-sendiri.Jadi, keluarga mempelai wanita (disebut anak daro) mengadakan baralek sendiri di rumahnya dan keluarga mempelai pria (disebut marapulai) juga baralek di rumahnya.Ada baraleknya di hari yang sama namun kebanyakan berbeda 1 atau 2 hari. Tapi itulah tradisi minang. Nah saya bingung kalau baraleknya diadakan di hari yang sama bagaimana ya prosesnya?

Oh iya acara baralek sendiri dimulai dengan proses manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria). Kenapa karena dalam adat minang masih menerapkan garis matrilineal (garis ibu). Sehingga pengantin pria harus dijemput oleh keluarga wanita untuk dijadikan urang sumando di keluarga anak daro.Nah proses menjemputnya dilakukan oleh pihak keluarga wanita tanpa anak daro dengan membawa pakaian pengantin marapulai dan carano yang berisi daun sirih, rokok, dan lain-lain, serta dua orang sumandan (dua orang perempuan yang akan mendampingi marapulai).

IMG_2466 IMG_2459 IMG_2465

Nah didalam rumah itu bagaikan istana yang dihiasi banyak ornamen warna-warni khas minang. Sampai saya tidak menemukan sedikit celahpun mana pintu dan dinding rumah karena semuanya ditutupi oleh kain panjang yang umumnya berwarna emas dan merah. Didekat pintu masuk biasanya akan ada sebuah pelaminan tempat bersanding pengantin yang biasanya tamu datang pertama kali memberi ucapan selamat kemudian adalah makan bersama secara hidangan di depan pelaminan.

Nah dalam acara baralek tidak dikenal prasmanan dalam menyajikan makanan pesta.Hal ini sesuai dengan ketentuan adat bahwa semua penyajian makanan harus di hidangkan dalam beberapa kelompok undangan. Semua makanan tersaji dalam sebuah meja besar atau bisa juga diganti dengan taplak meja panjang yang berisi menu-menu khusus khas Minang secara lengkap.

IMG_2479 IMG_2473 IMG_2474 IMG_2477

Menunya mirip dengan restoran minang dengan penyajian yang beraneka ragam mulai dari rendang, gulai daging dan ayam, baluik, gulai buncis, dendeng balado, gulai ikan, dan lain-lain.Semuanya adalah masakan orang kampung yang tentu saja rasanya jauh berbeda dengan restoran Minang yang sering kita nikmati di pulau Jawa. Eh sebelumnya saya makan menggunakan tangan tanpa sendok karena sendok cuma disediakan buat mengambil hidangan saja. Jadi sebelum makan ada sebuah mangkuk kecil berisi air untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah yang khusus disediakan buat satu orang. Nah biasanya mempelai akan melihat tamu yang datang sambil berkali-kali bilang disuruh tambuahtambuah, dan tambuah lagi oleh tuan rumah.Yang ini membuat saya ketagihan ingin mencoba semua makanan cuma tengsin ga enak sama keluarga marapulai akhirnya bilang saja sudah kenyang hahahaha.

IMG_2468 IMG_2471 IMG_2472 IMG_2463 IMG_2467

Nah setelah selesai makan, tamu akan berbincang sebentar sambil menikmati sajian penutup berupa kue-kuedan buah-buahan yang cuma ada saat baralek.  Saya terlanjur suka dengan kue randang bareh alias rendang beras yang rasanya mirip sagon. Selama menikmati sajian penutup saya amati pakaian mempelai yang memang mewah dan megah. Pakaian pengantin marapulai mirip pakaian matador. Bukan mirip bahkan sama kayaknya. Atau hanya saya saja beranggapan begitu ya? Eh bukan saya perhatikan kembali adalah gabungan antara pakaian teluk belanga dan pakaian matador (ada sejarah yang bilang jika baju marapulai di daerah Minang merupakan pengaruh kebudayaan Portugis di pesisir barat Sumatera pada zaman orang Portugis menjelajahi dunia mencari rempah-rempah). Sedangkan Anak daro memakai suntiang di atas kepala, semacam mahkota dari ratusan helai lempeng kuningan yang disusun seperti setengah lingkaran. Pertanyaannya berapa berat sesungguhnya suntiang itu? hanya anak daro  yang bisa merasakannya. Eh jadi inget dulu pas nyokap nikah sama bokap juga menggunakan pakaian kebesaran Minang.

Nah tanda lain untuk menunjukkan ke khalayak ramai jika ada baralek adalah dengan adanya marawa. Sejenis bendera khas Minang yang terdiri atas warna hitam, merah, dan kuning. Di Pulau Jawa umumnya kita menggunakan hiasan janur kuning. Namun di Minang cukup menggunakan umbul-umbul marawa sudah cukup untuk memberi tanda adanya baralek. Ah suatu saat saya akan menyelenggarakan baralek…..amiin. Saya mulai menyukai adat minang dan budaya Indonesia sebagai warisan budaya bangsa dan sekali lagi saya cinta Indonesia.

Selanjutnya saya berkeliling-keliling sekitar Baso dan bercengkrama dengan penduduk setempat yang ramah-ramah. Mereka sangat antusias dengan kedatangan saya terutama anak-anak. Indah memang lokasi  di ranah minang ini. Saya berharap suatu saat memiliki kampung halaman yang indah ini dan menyukai penduduk yang sederhana.

IMG_2514 IMG_2486 IMG_2490 IMG_2491 IMG_2492 IMG_2493 IMG_2495 IMG_2498 IMG_2503 IMG_2505 IMG_2506 IMG_2507 IMG_2510 IMG_2511 IMG_2512

Advertisements

2 thoughts on “Mengikuti Acara Baralek Minang di Baso, Agam Sumatera Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s