Nah kali ini saya mau berbagi pengalaman mengenai cerita akhir pekan ini (29 – 30 Desember 2012) ke perairan selat sunda dan laut Jawa. Ceritanya saya diajak teman yang sudah lama ga jalan bareng sejak dua tahun terakhir yaitu M Roni Zarwan, anak minang perantauan asal Bukit Tinggi. Dulu banget saya pernah ngundang dia wisata bareng temen-temen ke Pulau Tidung dan kali ini giliran dia yang ngundang saya bareng teman-temannya pergi manceng bareng. Berhubung saya belum pernah mancing ke tengah laut akhirnya ajakannya saya setujui.

IMG_2954 IMG_2955 IMG_2973 IMG_2966 IMG_2965

Kami berangkat bertiga  dari Jakarta hari Jum’at malam setelah pulang kerja dan bertemu empat orang pemancing lainnya yang sudah menunggu di Rest Area km 68 Serang Timur. Berhubung malam itu awal long weeked menjelang tahun baru jadinya agak sedikit tersendat. Namun alhamdulillah sampai di Pelabuhan Karangantu, Banten Lama jam 23.16 WIB cuaca cukup cerah dan bisa menyaksikan bulan purnama yang membuat suasana langit malam sedikit berwarna.

IMG_2952

Nggak berselang lama setelah memindahkan semua logistik yang diperlukan selama mancing ke kapal kami pun berangkat melaut. Oh iya, kapal yang kami gunakan berukuran cukup sedang sama halnya yang biasa digunakan oleh para Nelayan untuk melaut. Sehingga jarak dari dek kapal ke air bisa cukup sekali sentuh saja. Malam itu, dengan ditemani GPS saya memantau lokasi perjalanan kami ke tengah lautan jawa via selat Sunda terlebih dahulu sesekali dari dek belakang nampak ikan ekor kuning yang riang gembira berlompatan melihat arus air kencang dari mesin motor kapal. Saya pun terpana melihat ikan ekor kuning yang dengan mudah ditangkap dengan tangan berenang berlompatan dari bagian belakang kapal.

IMG_2953 IMG_2957 IMG_2958 IMG_2971 IMG_2970 IMG_2968 IMG_2961

Nah menjelang ke pertengahan lautan. Beberapa pemancing sudah menyiapkan perlengkapannya seperti Joran/Rod yaitu sebuah alat pancing standar yang terbuat dari fibre glass, Carbon, Grafit, Boron atau Kevlar. Ukurannya biasanya standar sekitar 120 cm – 180 cm. Yang kedua adalah Reel yaitu sebuah penggulung Spinning Type. Tipe Reel yang baik yang ringan dan memiliki minimal 3 bantalan roda (ball bearing), semakin banyak bantalan roda, semakin baik, dan memilih reel dengan kapasitas kenur 200-400m. Ada juga alat yang ketiga yaitu Senar/Lines/kenur yang berukuran 8-20 lbs. Selanjutnya ada kail/hook Untuk memancing dengan target ikan dengan berat di bawah 10 kilogram, mata kail yang biasa digunakan adalah no.1,2,5,6,7. Nah peralatan ini biasa ditambahi dengan Pemberat Aluminimum, Kili-kili, Nikelin, dan paling penting Tackle Box untuk menaruh semua peralatan tadi.

Kapal kami berhenti tepat 12 km dari bibir pantai pelabuhan KarangAntu, lokasinya persis diatas selat Sunda. Nah kebetulan angin cukup kencang malam itu, sehingga kapal pun berguncang kencang. Apalagi mendengar suara deburan ombak yang saling beradu cukup keras dengan badan kapal. Membuat saya dan beberapa orang yang didalamnya agak limbung ketika berdiri diatas kapal. Malam itu, tidak berselang lama angin disertai hujan cukup deras membuat laut Jawa begitu mencekam. Bulan purnama yang sedari kami berangkat menemani sudah tidak tampak lagi diatas. Tapi syukurlah tidak terjadi badai, hanya hujan deras membuat kapal yang kami tumpangi sedikit kemasukan air dan beberapa orang yang sudah tertidur terlihat basah namun ini pengalaman pertama buat saya tidur diatas kapal dengan ayunan ombak yang ga statis.

Malam itu, saya pertama kalinya melihat salah satu pemancing berhasil menangkap ikan yang tidak diketahui namanya yang cukup besar. Dan betapa gembiranya pemancing ketika umpannya berhasil di makan salah satu ikan. Setelah itu karena kondisi langit yang tidak bersahabat dan juga angin yang cukup kencang akhirnya diambil keputusan untuk istirahat. Ternyata asyik juga tidur diatas kapal dengan goyangan ombak itu. Cuma sayangnya pas saya bangun, entahlah tiba-tiba saja penyakit mabuk laut menerpa. Saya beberapa kali muntah. Dan kepala rasanya sangat berat dan pusing. Untung ada pemancing yang memberikan saya obat anti mabok yaitu Dramamine 50 mg. Berkat obat ini saya bisa relaks dan menikmati para pemancing melakukan aktivitasnya.

Saya mencatat ada sekitar 15 kali kami berpindah tempat. Mulai dari 12 km dari bibir pantai sampai yang terjauh sekitar 65 km dari tepian. Kebetulan cuaca paginya sangat cerah dan langit pun mendukung untuk memancing. Namun angin kencang membuat ombak di lautan sedikit lebar dan kuat membenturkan satu sama lain. Sehingga jika terjadi hal seperti ini maka ikan-ikan akan sulit keluar mencari makanan. Sehingga pada kondisi siang hari, jumlah ikan yang kami tangkap jauh sedikit dan butuh waktu lama sampai berpindah-pindah tempat.

Tapi memancing itu memang pekerjaan yang membutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Ada kalanya tanpa sengaja baru memasukkan kail ke laut, ikan dengan mudah ditangkap. Pun begitu sebaliknya ada yang sudah lama menunggu tak kunjung dapat. Namun saya tak akan melupakan berada di tengah lautan jawa yang menyisakan sedikit penyesalan juga karena waktu di kapal saya mabuk. Sehingga tidak optimal dalam melakukan aktivitas memancing.

IMG_2980 IMG_2979 IMG_2977 IMG_2981 IMG_2983 IMG_2982 IMG_2984 IMG_2952 IMG_2949 IMG_3034 IMG_3033 IMG_3032 IMG_3030 IMG_3029 IMG_3027 IMG_3026 IMG_3024 IMG_3023 IMG_3022
IMG_2985 IMG_2987 IMG_2992 IMG_2993 IMG_2999 IMG_2998 IMG_2996 IMG_2994 IMG_3009 IMG_3006 IMG_3005 IMG_3004 IMG_3001 IMG_3007 IMG_3008 IMG_3010 IMG_3011 IMG_3013 IMG_3014 IMG_3015 IMG_3019 IMG_3018 IMG_3017 IMG_3016 IMG_3020 IMG_3021 IMG_3022 IMG_3023 IMG_3024 IMG_3026 IMG_3027 IMG_3029 IMG_3033 IMG_3032 IMG_3030

Advertisements