Pesona Sejarah Tionghoa di Kampung Kapiten Palembang


Saya akhirnya mendapatkan jawaban kenapa wong kito atau Palembang itu lebih mirip dengan orang Tionghoa saat saya berkesempatan jalan-jalan menikmati wisata sejarah akhir pekan lalu. Karena di sebelah selatan sisi sungai musi tepatnya berhadapan dengan Plaza Benteng Kuto Besak terdapat sebuah kampung tua yang sampai dengan saat ini masih tetap berdiri dan bertahan menghadapi serbuan kemajuan jaman. Kampung tua ini bernama Kampung Kapiten yaitu sebuah kampung yang diyakini warga Palembang sebagai kampungnya Kapiten Tjoa Ham Hin asal Tionghoa yang datang ke Palembang dari sebuah pelayaran panjang dari Provinsi Hok Kian Kabupaten Ching Chow. Kapiten Tjoa merupakan generasi ke sepuluh atau terakhir yang datang ke Palembang.

IMG_3333 IMG_3343 IMG_3344 IMG_3350 IMG_3345 IMG_3342

Tidak ada yang tahu persis kapan leluhur Kapiten Tjoa Ham Hin datang ke Palembang. Cuma dikabarkan saat itu dia datang secara rombongan dengan membawa keluarga beserta beberapa prajurit, yang diantaranya juga terdiri atas beberapa tukang masak dan dayang-dayang yang jumlahnya hingga ratusan orang.Nah mereka ini mendiami sebuah kawasan yang sekarang bernama Kampung Kapiten dan menetap untuk sekian lama dalam melakukan perdagangan. Namun sekarang kawasan ini hanya tinggal dihuni belasan Kepala Keluarga (KK) saja.

Nah karena saya penasaran dengan cerita legenda Kapiten Tjoa. Maka kesempatan untuk berjalan-jalan ke lokasi tak saya sia-siakan bersama teman saya. Untuk menuju ke lokasi sangatlah mudah. Karena kampung ini lokasinya berada persis di kawasan 7 Ulu Palembang atau dari Jembatan Ampera mengarah ke kertapati kemudian masuk ke Pasar 10 Ulu. Tinggal susuri dari kawasan 10 Ulu dari pinggiran sungai Musi hingga akhirnya kita temui sebuah Plaza besar dengan ciri khas payung raksasa putih. Nah didepan plaza tadi terdapat sebuah gerbang dengan jelas terpampang tulisan Kampung Kapiten. Saya lebih sarankan untuk berjalan kaki agar terasa wisata sejarahnya. Namun untuk menggunakan kendaraan pun sudah tersedia area parkirnya.

Sesampai di lokasi saya bisa menyaksikan suasana khas seperti beberapa rumah tua yang sangat besar dengan arsitektur China. Sebenarnya bukan arsitektur china, namun lebih ke perpaduan Tiongkok, Kolonial dan Melayu Palembang Dahulu kala, kawasan ini merupakan china town-nya Palembang dan sangat luas sekitar 20 ha. Ada yang bilang bahwa kawasan Kertapati dulunya mayoritas dihuni warga keturunan Tionghoa atau keturunan langsung dari leluhur Kapiten Tjoa. Namun seiring dengan menetapnya komunitas ini maka terjadilah perkawinan silang dengan penduduk setempat sehingga muncullah beberapa generasi baru. Sehingga terjadi pergeseran wajah kampung yang dulunya dihuni mayoritas Tionghoa berubah menjadi warga biasa dengan rumah panggung khas Palembang dan beratap limas. Beberapa rumah juga dipengaruhi oleh arsitektur kolonial dengan pilar didepan rumah namun ciri khas Panggung dan atap limas tetap dipertahankan.

IMG_3334 IMG_3335 IMG_3336 IMG_3337 IMG_3341 IMG_3340 IMG_3339 IMG_3338 IMG_3342

Saya berkesempatan untuk berkenalan dengan salah satu warga Kampung Kapiten. Dia cerita kalau setiap perayaan tahun baru china selalu diadakan kegiatan untuk menarik turis datang terutama yang datang langsung dari China, Singapura, Hongkong dan Malaysia. Diantara keturunan Kapiten Tjoa memang sudah terkenal suka berkelana sehingga hanya tersisa sebagian saja yang masih tetap tinggal di Palembang.Menurutnya kampung Kapiten ini telah ada sejak tahun 1805 artinya sudah berumur 2.5 abad lebih. Namun karena beberapa kendala, kampung Kapiten ini terasa seperti kurang perawatan terlihat rumah sudah tidak cantik lagi, kusam, reot, cat memudar dan kerusakan tampak jelas didepan mata. Pemerintah kota Palembang sudah memberikan perhatian tampaknya dengan membangun taman didepan alun-alun perkampungan ini.

Setidaknya saat saya berada disana masih ada sekitar 15 rumah yang tersisa arsitektur aslinya selebihnya sudah banyak perubahan. Kampung ini terasa sekali aura masa lalunya. Setiap rumah dibangun melingkar menghadap sebuah courtyard (ruangan terbuka) yang berguna bagi penghawaan dan masuknya cahaya. Saya sendiri berharap Kampung Kapiten kedepannya bisa mengalami perubahan terutama perbaikan untuk mempercantik rumah kuno yang sudah berusia 2.5 abad. Namun dikarenakan rumah yang ada saat ini sebagian besar merupakan rumah tinggal yang dimiliki keluarga keturunan Kapiten Tjoa membuat kesulitan pemerintah kota Palembang mengambil alih fungsi dan melakukan pemugaran ataupun renovasi. Sedangkan dari pemiliknya sendiri saat ini terkendala ekonomi karena dari yang diceritakan ke saya bahwa banyak pemilik rumah yang sudah pergi merantau keluar Palembang dan saat ini hanya dititipi ke keluarga terdekat untuk dijaga dan dirawat ala kadarnya. Pemerintah Kota hanya membantu pemugaran courtyard dan jalan masuk termasuk mempercantik sisi sungai musi dengan plaza besarnya.

Ada beberapa lambang Kampung Kapiten yang sudah rusak bahkan hilang seperti dua patung singa, tanda perwira yang ada didepan rumah kapiten juga telah lama hilang padahal pada masanya dulu Belanda memberikan kedudukan istimewa bagi Kapiten Tjoa dan keluarganya. Wajar jika kiranya rumah di Kampung Kapiten sangatlah besar dan berukuran tidak seperti rumah penduduk biasa. Karena dulunya Kapiten Tjoa merupakan saudagar kaya dan bekerja untuk pemerintah Kolonial. Rumah Kapiten Tjoa berukuran sekitar 22 x 25 meter dan didepan rumah terdapat altar pemujaan. Namun karena banyak keturunan dari Kapiten Tjoa yang menikah dengan warga pribumi banyak dari mereka yang akhirnya memeluk agama Islam dan membaur dengan warga Palembang lainnya sehingga dahulunya dipesisir jalan sungai Musi pendatang akan kesulitan menentukan dia keturunan Tionghoa atau warga Palembang asli? Perpaduan ini dapat dipahami karena pada masa pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam masyrakat Tionghoa sudah sangat membaur dengan warga asli.Sehingga dengan akhirnya terjadilah pertukaran budaya dan ujung-ujungnya menjadi budaya khas Palembang hingga saat ini termasuk jenis makanan tradisional yang cukup terkenal yaitu Pempek.

IMG_3349 IMG_3348 IMG_3347 IMG_3346

Nah berhubung saya dan teman tidak bisa ketemu langsung dengan keturunan langsung Kapiten Tjoa jadi tidak banyak informasi yang didapatkan. Selain itu pada saat saya berkunjung cuaca di Palembang sedang diguyur hujan lebat. Sehingga banyak waktu kami terbuang di pelataran plaza depan sungai Musi dan menemani beberapa remaja yang tengah bermain bersama anak-anak dari Kampung Kapiten.

Advertisements

One thought on “Pesona Sejarah Tionghoa di Kampung Kapiten Palembang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s