12

Sudah lama sekali rasanya saya nggak menyaksikan film kolosal yang dibuat sineas Indonesia. Nah diawal tahun kali ini Rumah Produksi Putaar bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menghadirkan sebuah film kolosal berjudul Gending Sriwijaya dengan latar abad ke-16 saat kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan. Film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini semalam  9 Januari 2013  mengadakan gala premiere kedua di Epicentrum setelah sebelumnya dilakukan di Palembang Indah Mal tanggal 7 Januari 2013 lalu.

A_1MDj-CQAAsHRQ

Film kedua yang dibiayai oleh Pemprov  Sumsel setelah Mengejar Angin tahun 2011 ini cukup bagus untuk mengobati rindu bagi penggemar film kolosal. Apalagi sejak era Tutur Tinular, Saur Sepuh, Wiro Sableng, Angling Dharma dan Prabu Siliwangi, kita tak pernah lagi menyaksikan film kolosal buatan anak negeri. Nah kali ini film yang mengambil setting di Sumatera Selatan ini bisa menjadi alternatif pilihan selain film drama, horror, atau komedi dalam menambah khasanah kita memahami sejarah panjang negeri ini mulai dari peradaban, norma, dan tentu saja yang ditunggu adalah adegan perkelahian, pertempuran, dan efek seni beladiri.

07 03

Film Gending Sriwijaya ini pada awalnya, saya berfikir merupakan film yang bercerita tentang kerajaan Sriwijaya. Namun setelah menyaksikan filmnya ternyata ini hanyalah film fiksi yang mengambil setting pada masa pasca keruntuhan kerajaan Sriwijaya. Mungkin karena keterbatasan tim riset dalam menggali informasi menyebabkan film ini terlihat sangat tidak sesuai fakta. Saya yang besar di Palembang merasakan banyak kejanggalan seperti masalah pakaian dan juga logat. Jujur pas baca pemainnya ada Julia Perez sempat mengurungkan niat untuk menontonnya.Karena dibenak saya Jupe lebih dikenal sebagai pemain seksi di film-film horornya.

Namun karena keingintahuan yang tinggi dan faktor Sriwijaya-nya membuat saya tetap lanjut datang. Dan sungguh rasa was-was saya terbayar dengan suasana dalam film yang disetting sangat cantik dan apik. Saya suka sekali dengan pemandangan dan juga bangunan,perahu,alat-alat yang digunakan serta busana yang bisa membuat saya terpukau seolah-olah memang suasana itu yang terjadi di abad itu. Film ini bagi saya sangat segar dan menghibur dengan adanya adegan silat yang sudah lama saya tunggu. Walaupun saya tahu banyak gimmick yang ditambahi tidak sesuai aslinya. Tapi terlepas dari itu semua saya mengapresiasi film kolosal besutan mas Hanung ini menjadi salah satu daftar urutan teratas untuk wajib di tonton pada tahun 2013.

A_nkL_BCcAAUJg4

Dibanding film kolosal yang pernah dibuat di Indonesia sebelumnya yang kebanyakan berlatar di tanah Jawa. Film Gending Sriwijaya tentu lebih baik dalam hal efek beladiri dan sinematografinya karena dibuat jaman sekarang ya dengan bantuan sentuhan teknologi lebih baik tentunya. Perpaduan aksi pemainnya dengan kolaborasi yang apik antara artis senior dan junior menjadi kredit positif tersendiri. Tapi bukan hanya itu saya senang bisa melihat  pemandangan gunung jempol di Lahat Sumatera Selatan menjadi bagian dari beberapa adegan dalam film ini. Akting pemainnya pun saya suka yang tadinya pesimis dengan Julia Perez sekarang saya liat dia sangat baik melakukan adegan silat seorang diri begitupun dengan Mathias Muchus yang merubah penampilan wajahnya hingga tak dikenali oleh saya dalam film ini.

247986_120421661440953_55475258_n

Ini Poster Jadulnya Gending Sriwijaya sebelum diubah ke Poster yg sekarang
Ini Poster Jadulnya Gending Sriwijaya sebelum diubah ke Poster yg sekarang

Oh ya film yang dibuat dengan budget yang cukup besar ini, kabarnya menghabiskan biaya 9 Milyar juga membutuhkan waktu selama 9 bulan dalam proses produksinya. Film ini sendiri menceritakan sebuah kerajaan di kedatuan Bukit Jurai. Setelah kerajaan Sriwijaya runtuh memang banyak kerajaan kecil yang berdiri di setiap kedatuan. Kedatuan ini ibarat kabupaten kalo jaman sekarang. Kedatuan ini dipimpin oleh seorang raja yang sudah tua bernama Dapunta Hyang Srijayanasaa (Slamet Rahardjo) yang memiliki dua anak laki-laki yaitu Awang Kencana (Agus Kuncoro) dan Purnama Kelana (Sahrul Gunawan). Nah konflik dimulai saat Raja ingin menurunkan tahta kepada anaknya. Sesuai tradisi tahta biasanya diserahkan ke putra sulung. Namun raja ragu karena melihat anak sulungnya ini terlihat sangat ambisius,suka kekerasan dan tabiat buruk lainnya. Raja lebih menyukai tahta diserahkan ke putra keduanya yaitu Purnama Kelana karena dinilai lebih arif, berwawasan luas dan baru saja kembali dari menuntut ilmu di China. Sehingga diharapkan tahu betul apa yang membuat kerajaan berjaya seperti masa kerajaan Sriwijaya.

IMG_3422 IMG_3429 IMG_3432 IMG_3438

Keputusan ini membuat Awang Kencana kecewa dan merasa dirinyalah yang berhak menjadi raja. Awang beranggapan jika itu dilakukan maka akan melanggar adat dan kebiasan yang sudah turun menurun. Namun raja menepisnya dengan mengatakan “Adat tidak selamanya menjawab kebutuhan,” ucap Dapunta. Maka disusunlah rencana untuk membatalkan rencana raja mengangkat adiknya menjadi pengganti Ayahnya. Awang kencana membuat skenario demi tahta dengan membunuh Raja alias ayahnya sendiri. Ratu Kalimayang (Jajang C Noer) mencium ada gelagat yang tidak benar di kedatuan dan apa yang dia khawatirkan akhirnya kejadiaan saat suaminya terbunuh.

Rupanya terbunuhnya raja merupakan akal bulus Awang untuk memuluskan rencana  menjadi raja. Dengan menaruh kalung milik Purnama Kelana di tempat kejadian sehingga seolah-olah Purnama Kelana yang membunuh ayahnya. Akhirnya, Purnama Kelana dijebloskan ke penjara oleh Ratu Kalimayang  yang menggantikan Tahta Raja untuk sementara. Awang Kencana pun naik menjadi raja dan dia jatuh cinta pada Endang Wangi (Hafsary Thanial Dinoto) dan dengan berbagai pertimbangan keadilan maka Purnama Kelana dijatuhi hukuman mati oleh sang Ratu yang juga tidak tega mengeksekusi anak yang dicintainya.

Namun pada saat pelaksanaannya para Tabib yang tahu bahwa pelaku pembunuhan bukan Purnama Kelana membantu melarikan diri dari penjara secara diam-diam. Nah mengetahui adiknya kabur, Awang merasa sangat gerah dan marah. Dia bersama prajuritnya mengejar Purnama.Namun akhirnya Purnama terdesak dan jatuh pingsan dengan punggung terpanah. Prajurit mengira mereka telah berhasil membunuh Purnama. Disisi lain akhirnya Purnama ditemukan oleh Malini (Julia Perez) yang kemudian membawa purnama ke kelompok perampok pimpinan Ki Goblek (Mathias Muchus). Malini sendiri merupakan anak dari Ki Goblek.

Ki Goblek sendiri adalah seorang perampok yang telah membuat salah satu mata kanan Awang menjadi buta. Dulunya Ki Goblek merupakan orang kerajaan dan dibuang oleh Dapunta ke pinggiran yang menyebabkan dendam keluarga kedatuan terutama Awang. Waktu berselang lama kemudian, Purnama akhirnya sembuh dan menyakinkan Ki Goblek yang tidak menyukai kehadiran purnama bahwa dirinya pun korban fitnah kerajaan dan dibuang dari lingkungan kerajaan kisah yang sama seperti kejadian Ki Goblek waktu itu.

Selama masa Purnama bersama rombongan Ki Goblek terjadilah benih benih cinta dengan Malini. Namun selalu berhasil menutupi perasaaan masing-masing. Sampai akhirnya Markas persembunyian Ki Goblek diketahui oleh prajurit kedatuan. Rupanya Ada penghianat di antara mereka. Para prajurit kedatuan yang dipimpin Awang menyergap mereka. Maka terjadilan pertempuran antara prajurit kedatuan yang berhasil menumpas komplotan Ki Goblek dengan bantuan persenjataan canggih didatangkan dari China. Ki Goblek pun tewas. Puluhan anggota komplotan yang dipimpinnya juga ikut dihabisi namun Malini dan Purnama akhirnya berhasil selamat.

IMG_3449 IMG_3468 IMG_3465 IMG_3448 IMG_3472

Malini dan Purnama pun akhirnya menyusun rencana untuk membalas dendam. Sekaligus membuktikan kepada kedatuan bahwa dia tidak bersalah dan korban semena-mena kakaknya. Sehingga terjadilah perebutan tahta kembali sehingga Awang Kencana pun akhirnya tewas setelah sebelumnya berkelahi dengan Purnama.

BAEa7t8CEAE9G9B

IMG_3588

Catatan akhir saya tentang film ini adalah jangan terbawa dengan Judul filmnya karena ini bukan mengenai kerajaan Sriwijaya. Ini hanyalah cerita fiksi yang dibuat dengan setting abad ke-16 setelah tiga abad kerajaan Sriwijaya runtuh. Mungkin niat awalnya pengen buat cerita tentang Sriwijaya tapi ya sudahlah. Film ini sekali lagi sangat menghibur dan juaralah untuk kolosal yang sudah lama tertidur. Nah buat yang penasaran dengan film kolosal ini akan mulai tayang resmi hari ini Kamis tanggal 10 Januari 2013 di seluruh Bioskop tanah air.

Advertisements