[DISKUSI] Selamatkan Lumba-Lumba dengan menghentikan sirkusnya



Scuba diver with dolphin

Dari dulu saya memang menyukai lumba-lumba. Yang saya ingat waktu liburan lebaran kelas 3 SD ada sebuah pertunjukan sirkus lumba-lumba yang diadakan di Palembang. Namun sayang saya tak sempat menonton langsung entah apa penyebabnya waktu itu? Akhirnya saya cuma cari informasinya via koran atau majalah dan mulai untuk mengkliping berita mengenai lumba-lumba. Beberapa film tentang hewan ini saya tonton berkali-kali terutama serial televisi Flipper yang dibintangi Richard O’Barry.

Mungkin hikmahnya semenjak saya tak jadi menonton itulah. Wawasan tentang salah satu hewan mamalia laut ini  sedikit banyak saya pelajari. Dari bentuk tubuhnya yang runcing dengan mulut botolnya membuat hewan cerdas ini paling disukai oleh manusia. Tak pernah terdengar bahwa lumba-lumba menyerang manusia justru sebaliknya mereka senantiasa tulus memberikan bantuan. Terutama saat nelayan berada di lautan biasanya hewan ini berkumpul disekitar belakang kapal. Karena mereka senang dengan gelombang air yang diciptakan oleh motor sehingga seringkali mereka tanpa sengaja mengiring ikan-ikan ke jaring milik nelayan. Termasuk memberikan informasi jika ada hiu disekitar nelayan karena musuh mereka cuma satu yaitu ikan Hiu.

Jadi tak heran beberapa waktu lalu seorang penjaga pantai Rob Howes di Selandia Baru saat tengah berenang dilautan bersama tiga orang temannya dikelilingi oleh sekumpulan lumba-lumba sembari mengibas-ngibaskan ekornya ke air laut dengan hentakan keras. Rob heran melihat tingkah laku mereka yang terus mengepung  mereka dan membentuk barikade. Ternyata pada jarak 30 meter ada seekor ikan hiu yang hendak memangsa Rob dan teman-temannya. Nah akibat perlindungan lumba – lumba tersebut Rob dan teman-temannya selamat setelah selama 40 menit lumba-lumba terus menghalangi ikan hiu melancarkan serangan ke manusia.

Itulah sedikit kisah tentang hewan laut yang sangat bersahabat dengan manusia ini. Cuma sayangnya saat ini perburuan mereka oleh manusia semakin kejam. Sebagian orang tentu sepakat bahwa sangat jarang ditemukan orang mengkonsumsi Lumba-lumba sebagai menu makanan. Nah hal ini tidak berlaku bagi masyarakat Jepang terutama sebagian penduduk kota Taiji, perfektur Wakayama Jepang tengah. Masyarakat Taiji merupakan satu-satunya masyarakat di dunia yang sering melakukan perburuan lumba-lumba untuk dikonsumsi secara besar-besaran. Ini agak mengherankan dimana banyak orang yang sangat menyayangi hewan ini. Namun hal ini dikarenakan tradisi turun temurun masyarakat Taiji yang terjadi ratusan tahun silam saat terjadi kekurangan makanan, maka satu-satunya ikan yang sering terlihat diperairan mereka pada saat itu adalah lumba-lumba. Sehingga hewan ini menjadi dewa penolong bagi masyarakat Taiji dalam mengatasi krisis pangan. Namun sayangnya setiap tahun mereka memperingati acara perayaan tersebut dengan membunuh ratusan lumba-lumba dengan cara yang sangat kejam.

Hal inilah yang kemudian membuka mata dunia saat film The Cove yang dibintangi Rick O’Barry seorang pelatih lumba-lumba senior yang peduli akan kelangsungan lumba-lumba mendokumentasikan pembunuhan ratusan lumba-lumba di Teluk Taiji Jepang. Film ini sangat bagus dan menarik untuk dipelajari bagaimana masyarakat sana membunuh dan mengambil daging lumba-lumba untuk kemudian dikonsumsi menjadi makanan.

Richard O'Barry
Richard O’Barry

Syukurlah hari rabu kemarin (6 Februari 2013) saya berkesempatan bisa menjumpai Richard O’Barry yang memang datang khusus ke Indonesia untuk kelima kalinya untuk mengkampanyekan #savedolphins yang saat ini Indonesia merupakan negara terakhir yang masih mengeksploitasi hewan ini untuk sirkus. Sedangkan diseluruh dunia pertunjukan sirkus menggunakan lumba-lumba sudah dilarang karena sangat kejam dan tidak mendidik. Apa yang salah dengan sirkus yang menggunakan lumba-lumba di Indonesia?

Kalian pernah kan melihat atraksi lumba-lumba di Ancol atau pertunjukan keliling yang biasanya hadir saat musim liburan/lebaran tiba? Kalaupun belum pernah secara langsung paling tidak pernah melihatnya di televisi. Nah lumba-lumba tersebut sangat pintar dalam melakukan atraksi seperti lompatan lingkaran api, menari bahkan berhitung. Pokoknya membuat penonton senang dan terhibur dengan bertepuk tangan. Penonton sangat gembira melihat atraksi lumba-lumba di kolam. Namun apakah penonton tahu jika lumba-lumba tersebut gembira sama halnya penonton?

Kemarin pada saat Ric O’Barry bercerita saya sampai sedih mendengarnya terutama pas dibantu kisah lumba-lumba sirkus di Indonesia oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dengan beberapa dokumentasi. Ternyata hewan tersebut diperlakukan sangat tidak baik oleh pengelola sirkus. Lumba-lumba umumnya senang melompat. Namun dalam pertunjukan sirkus mereka dibiarkan kelaparan terlebih dahulu sehingga bisa melompat. Mereka baru diberi ikan jika menuruti perintah pelatihnya. Pernah liatkan saat pelatih memberikan ikan setelah lompatan di sirkus? Nah bukan hanya itu saja, dalam suatu pertunjukan sirkus biasanya mempunyai jadwal yang padat. Bayangkan jika sehari mereka memiliki jadwal 5 kali dalam seminggu. Belum lagi permintaan anak-anak yang rebutan ingin berfoto bersama. Jika dalam satu pertunjukan ada 100 anak yang ingin berfoto artinya mereka harus melompat 100 kali atau 500 kali dalam sehari. Kalau seminggu berarti bisa diatas 3000 kali.Capek banget kan pastinya?

Ternyata kekejaman bukan hanya pada saat pertunjukan.Proses pengangkutan mereka pun sangat tidak berperikebinatangan. Biasanya sirkus memiliki roadshow ke beberapa kota dalam satu bulan. Nah proses pengangkutan lumba-lumba ini  menggunakan sebuah kargo yang sempit tanpa air. Kargo ini digabung dengan properti pertunjukan sirkus lainnya. Yang menyedihkan semuanya diangkut bukan via pesawat melainkan jalur darat. Kenapa pengelola sirkus sekejam itu memperlakukan hewan yang sangat bersahabat dengan manusia ini? Lumba-lumba diperlakukan layaknya ikan yang bisa bertahan hidup selama 6 jam tanpa air. Dengan meletakkan di dalam boks yang sempit dan di olesi margarin atau lotion. Itukan mamalia bukan ikan!!! Kebetulan aja mereka hidup di air.

Scot Marciel, Dubes US
Scot Marciel, Dubes US

Nah dalam acara yang diadakan di @atamerica Pacific Place Jakarta tersebut dibuka mata kita mengenai semua hal yang menyangkut penyiksaan dan ekploitasi mamalia lucu satu ini. Bahkan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang turut hadir juga memberikan ancaman kepada mereka yang menggunakan lumba-lumba untuk kepentingan sirkus. Menurutnya kegiatan tersebut adalah illegal dan masyarakat wajib memberikan informasi jika ada kegiatan yang menggunakan hewan mamalia, termasuk jika ada hewan langka seperti harimau,lumba-lumba, dsb.

Sempat terjadi keributan saat saya ingin memasuki @america. Sekelompok pria dewasa yang berjumlah 12 orang berteriak-teriak ingin bertemu dengan Ric dan Femke den Haas (aktivis JAAN). Mereka menggunakan pakaian hitam-hitam resmi. Sepertinya dari Aliansi Indonesia yang ingin menghentikan acara diskusi pada malam tersebut. Ada lontaran yang sempat saya dengar diantara menanyakan tujuan kegiatan diskusi dan meminta Ric atau orang asing tidak mengobok-obok aset Indonesia? Hah orang sinting dalam hati saya berujar.

Bagaimana mungkin mereka mengatasnamakan Indonesia jika masih mementingkan sekelompok orang terutama para pebisnis sirkus? Hal ini yang menyebabkan Ric pada saat awal tampil menggunakan rompi anti peluru karena sering mendapat ancaman, intimidasi dan teror. Untung saja Pak Menteri turun tangan dengan mengusir sekelompok orang tersebut. Sehingga acara bisa dilanjutkan walaupun telat beberapa menit.

IMG_3984

Ric dan JAAN memberitahu pengunjung bahwa mereka sudah terbiasa dengan teror. Menurutnya mereka biasanya dikirim oleh komando pebisnis pertunjukan sirkus lumba-lumba keliling. Terlebih saat Ric membangun pusat konservasi lumba-lumba terbesar dan pertama di Dunia yang berada di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah. Di pusat konservasi yang dibangun dengan dana pribadi tanpa bantuan pemerintah tersebut merupakan hadiah buat rakyat Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa saat ini Karimunjawa merupakan pusat habitat lumba-lumba terbesar di Indonesia. Menurut Ric, lumba-lumba itu hidupnya di laut bukan di darat apalagi di kolam pertunjukan.

“Dan keluarga mereka (lumba-lumba) ada di sana. Kami benar-benar berupaya menyembuhkan lumba-lumba yang stres hingga akhirnya dilepas ke laut lagi. Setelah siap, lumba-lumba akan kami lepas karena keluarga mereka sudah menunggu di laut,”   ujarnya.

Menurut Ric, lumba-lumba adalah milik laut. Sama halnya dengan manusia milik bumi. Jadi biarkan mereka hidup di habitatnya. Lumba-lumba adalah mamalia yang sangat mudah stres. Mereka seringkali kesakitan tapi manusia tidak tahu. Umur lumba-lumba bertahan antara 40 – 50 tahun jika hidup di laut sedangkan jika di kolam mereka cuma bisa bertahan hidup antara 4- 5 tahun. Hal ini dikarenakan lumba-lumba terbiasa berenang 40 mil setiap hari. Bandingkan dengan di dalam jarak kolam yang terbatas. Selain itu tingginya kadar klorin dalam air kolam bisa menyebabkan kulit lumba-lumba terbakar dan mata buta.

IMG_3995

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai orang awam. Stop membeli tiket pertunjukan sirkus lumba-lumba keliling, laporkan jika masih ditemui pertunjukan semacam itu, terakhir gabung dengan petisi dibawah ini.Mudah-mudahan pertunjukan sirkus lumba-lumba di Indonesia segera berakhir. Jika ingin melihat lumba-lumba datanglah ke laut bukan ke kolam apalagi pertunjukan sirkus.

http://www.change.org/id/petisi/stop-supporting-travelling-dolphin-circuses

Advertisements

2 thoughts on “[DISKUSI] Selamatkan Lumba-Lumba dengan menghentikan sirkusnya

  1. betul sob gw pernah melihat mereka mengangkut hewan sirkus hanya menggunakan boks kecil saat di pantura beberapa waktu lalu. Ga menyangka jika keadaan mereka sangat memprihatinkan dan hanya memanfaatkan. Mereka masih suka menyamakan mamalia dengan ikan. Ironis memang

  2. gua lihat di youtube, orang jepang membantai lumba lumba, sungguh kejam! edannya lagi bahan dagingnya dijadikan sushi lumba lumba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s