Mengenal Minangkabau di Nagari Minangkabau Tanah Datar


IMG_0722

Pergi ke Ranah Minang itu ga akan komplit jika belum mengunjungi Nagari Minangkabau,  Tanah Datar salah satu Kabupaten tertua di Sumatera Barat. Hal ini dikarenakan ada pertanyaan yang seringkali saya ajukan mengenai penamaan Minangkabau untuk penyebutan etnis di Ranah Minang. Karena penasaran akhirnya kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya berkelana (hmm sudah lama banget nggak menggunakan istilah ini) ke daerah tersebut. Saya memang berniat ke tempat ini karena ingin tahu asal mula sejarah Ranah Minang. Nagari Minangkabau terletak di  kecamatan Sungayang, Tanah Datar. Lokasinya berdekatan dengan Batu Sangkar sebagai ibukota kabupaten Tanah Datar. Jadi kalau mau ke Nagari Minangkabau kita harus bilang ke BatuSangkar terlebih dahulu ke sopir travel yang banyak tersedia di Bandara International Minangkabau.

Perjalanan menuju Nagari Minangkabau sangat menarik untuk dilalui. Sepanjang perjalanan dari Padang banyak pemandangan cantik terutama hijaunya persawahan dan hutan yang menghiasi lereng-lereng perbukitan. Kebetulan mobil travel yang saya tumpangi cukup nyaman ditambah sopir dan keneknya yang ramah membuat saya merasa dilayani dan disambut. Oh iya setahu saya urang awak itu akan merasa bangga bisa berkenalan dengan pendatang yang ingin mengenal daerahnya. Sehingga saat tahu saya berasal dari luar Minang, mereka silih berganti bercerita mengenai daerah yang kami lalui bersama. Sehingga tak terasa perjalanan selama 3 jam harus berakhir setelah saya diturunkan di Batu Sangkar.

Di Batu Sangkar sendiri saat ini sering hujan, sehingga akan terasa suhu dingin. Namun menariknya lokasi ibukota Tanah Datar ini merupakan lokasi penting bagi masyarakat Minang. Dikarenakan Luhak Tanah Datar merupakan kawasan konfederasi utama bersama Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah atau yang dikenal dengan nama Luhak Nan Tigo. Nah dulunya cikal bakal tradisi Minangkabau itu berasal dari Yang Dipertuan Pagaruyuang atau Raja Alam Minangkabau yang mengatur kelarasan atau aturan bagi seluruh rakyat Luhak Nan Tigo atau Minangkabau. Di tempat ini masih kita temukan sebuah bangunan penting yaitu Istana Baso Pagaruyuang sebagai simbol dahulunya kawasan Tanah Datar merupakan kerajaan bagi masyarakat Minang. Dari Luhak Tanah Datar ini masih ditemukan pemukiman pariangan yang diyakini sebagai Nagari pertama di Minangkabau dan juga Balai Nan Panjang yang saat ini dijadikan situs kepurbakalaan. Nah dari luhak Tanah Datar inilah akhirnya masyarakat Minang berkembang dan berpindah-ke banyak tempat diantaranya yaitu Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah.Selama di Batusangkar saya sempat berkunjung ke situs Batu Basurek, Istana Baso Paguruyung dan tempat lainnya yang saya lupa namanya. Nanti akan saya ceritakan terpisah tempat wisata di Tanah Datar.

IMG_0735

Di Tanah Datar saya ditemani pemandu yang bernama Tono. Kebetulan beliau ini adalah teman akrab salah satu sahabat saya di Jakarta yang mengatur semua perjalanan selama di Tanah Datar. Sehingga tak mengalami kesulitan ketika saya sampai di Tanah Datar. Dari penampilannya saya tak menyangka ternyata Tono punya banyak cerita. Terutama saat dia mulai mengenalkan asal mula penamaan Tanah Datar. Menurut Tono, Tanah Datar ini tidaklah berarti kawasan ini berupa hamparan yang datar. Melainkan kebalikannya Tanah Datar diambil dari bahasa Minang yang awalnya Tak Nan Datar yang berarti tidak ada yang datar. Hal ini mengingat selama saya menyusuri kawasan Tanah Datar tidak ada sama sekali ditemukan kawasan hamparan yang datar, melainkan kondisi geografisnya berbukit dan berlembah. Namun pengucapan dikemudian hari berubah menjadi Tanah Datar.

IMG_0695

Dari Tanah Datar, perjalanan saya akhirnya ke tujuan utama yaitu Nagari Minangkabau. Yang berlokasi sekitar 5 KM dari ibukota Batu Sangkar. Nagari Minangkabau sangat mudah ditempuh karena satu jalur menuju ke Bukit Tinggi atau bisa melalui jalan utama provinsi. Nagari Minangkabau sama halnya dengan Tanah Datar mempunyai iklim tropis dengan kisaran suhu minimun 25 °C dan maksimum 30 °C. Dari aplikasi weather yang saya lihat tingkat curah hujan di kabupaten Tanah Datar mencapai rata-rata 1.500 mm per tahun, dimana daerah sekeliling gunung lebih tinggi curah hujannya dibanding daerah lembah. Sedangkan kecepatan angin minimun di kabupaten ini adalah 4 km/jam dan maksimum 20 km/jam. Lumayan sejuk ya?

IMG_0710

Sebagian besar kawasan Nagari Minangkabau berupa persawahan yang sangat luas dan sisanya berupa hutan lebat. Tak heran bila Pertanian nagari ini cukup bagus karena topografi nagari berada pada posisi cukup baik yakni 500 hingga 700 meter dari permukaan laut (MDPL).  Menurut Tono, hutan-hutan di nagari ini juga berfungsi sebagai cadangan persediaan air tidak hanya bagi Nagari Minangkabau tetapi bagi seluruh kawasan di Tanah Datar. Selain itu di hutan juga sering dijadikan suaka bagi hewan yang sering ditemui misalnya rusa, kijang, siamang, dan burung-burung.  Masyarakat Nagari Minangkabau juga sering melakukan perburuan babi hutan bersama yang dilakukan pada saat terjadi serangan atau perusakan sawah oleh hewan tersebut.

Sebagai nagari berprestasi Minangkabau juga terus berupaya menggali SDA yang ada, dan beberapa tahun terakhir sumber mata air yang ada dinagari ini telah mampu memberi kontribusi terhadap pendapatan asli nagari berupa sharing pengelolaan kolam renang Obyek wisata juga bakal terus dikembangkan, seperti Pemandian Minang, Batu Kiliran Taji, tanduk kerbau dan lesung nan tujuah.

IMG_0688 IMG_0687 IMG_0686 IMG_0685 IMG_0684 IMG_0683 IMG_0682

Saya sendiri akhirnya mengetahui bahwa penamaan Nagari Minangkabau agak sedikit rancu dengan penyebutan etnis Minangkabau yang mendiami provinsi Sumatera Barat. Karena penamaan ini sendiri bukan berarti Nagari Minangkabau merupakan nagari pertama di masyarakat Minang. Seperti yang saya informasikan sebelumnya bahwa nagari pertama ada di Pemukiman Pariangan Tanah Datar dengan situs purbakala yang masih tersimpan sedangkan penamaan Nagari Minangkabau bermula pada cerita rakyat yang melegenda. Namun usia nagari ini sama tuanya dengan Minangkabau saat ini.

Menurut Tono, penamaan nagari Minangkabau ini masih ada kaitannya dengan masa pemerintahan kerajaan Pagaruyuang. Dimana dahulu kala kawasan ini merupakan tempat terjadinya pertempuran antara Kerajaan Majapahit yang ingin menguasai Kerajaan Pagaruyung. Hmmm menarik nih cerita singkatnya begini, dahulu ada pasukan yang diutus kerajaan Majapahit untuk memperluas kawasan ke Sumatera. Salah satu kerajaan yang ingin di serang adalah Kerajaan Pagaruyung. Namun karena raja Paguruyung tidak mau terjadi pertumpahan darah yang menewaskan rakyatnya. Secara bijaksana beliau meminta agar pertempuran diganti dengan menggunakan kerbau. Akhirnya kesepakatan terjadi jika kerbau kerajaan Majapahit yang menang maka kerajaan Pagaruyung takluk dibawah kekuasaannya begitu sebaliknya jika kerbau kerajaan Pagaruyung yang menang maka pasukan harus hengkang. Pada hari H, dipilihnya kerbau betina yang paling kuat, besar dan gagah dipihak pasukan Majapahit sedangkan Pagaruyung hanya memilih seekor anak kerbau yang dibiarkan puasa dan jauh dari induknya namun di ujung tanduk anak kerbau dilapisi logam besi yang runcing.

IMG_0715 IMG_0708 IMG_0744

Nah pada saat pertarungan kedua kerbau tersebut, rupanya anak kerbau yang kelaparan mulai mencari susu induknya. Ketika melihat kerbau yang besar, anak kerbau itu merasa bahwa dia telah menemukan induknya. Dan mulai membabi buta ingin menyusui. Nah karena tanduknya diberi besi runcing maka badan kerbau dewasa tersebut penuh luka saat anak kerbau ingin merebut puting susu. Akhirnya pasukan Paguruyung gembira dan berteriak “Manang Kabau….manang kabau….manang kabau…” yang kemudian nama ini berubah menjadi Minangkabau dan Raja Pagaruyung mulai mengganti atap kerajaan dengan tanduk kerbau sebagai simbol kemenangan dengan menggunakan tanduk kerbau. Hmmm menarik juga ya ceritanya. Entah benar atau tidak cerita tersebut, bagi saya memberikan pelajaran moral yang baik. Ada versi lainnya juga mengatakan dahulu memang sering diadakan adu kerbau pada masa kerajaan Pagaruyung.Bukti sejarah itu hingga saat ini masih terdapat di nagari tersebut berupa Kiliran Taji yang dipasang pada kepala anak kerbau dan tanduk besar kerbau tamu.

Selama berada di Nagari Minangkabau saya merasakan suasana kampung yang masih sangat alami dengan sifat masyarakatnya yang ramah tamah. Mungkin ciri khas ini juga bisa dirasakan di jorong kampung lainnya di Sumbar. Namun karena jumlah penduduk di Nagari ini terbilang sedikit yang kata Tono tidak sampai 2000 orang dengan 500 KK (sumber belum pasti) maka sebagian penduduk akan tahu jika kedatangan tamu pendatang. Disepanjang nagari akan sangat mudah kita temui penduduk di sawah, ataupun kebun. Hal lainnya yang saya temui adalah ada juga yang mengelola kolam ikan, beternak kerbau/sapi, ayam dan kambing. Karena tidak terlalu luas Nagari Minangkabau ini sangat mudah untuk dijelajahi terdiri atas 3 jorong yaitu jorong Minangjaya, Badina Murni dan Kelarasan Tanjung.

IMG_0719

Advertisements

7 thoughts on “Mengenal Minangkabau di Nagari Minangkabau Tanah Datar

  1. seriusan ini kayaknya temen gw satu ini bakalan jadi urang minang. Tulisannya penuh dgn informasi bro…lebih bagus jadi wartawan kayaknya.Kebayang dulu gw diinterogasi sama lu mengenai asal usul gw hahahaha kangen nih kapan kita kumpul. Jalan-jalan mulu nih temen gw satu ini…

    1. Jadi orang Indonesia aja bro…mau urang minang kek atau wong kito sama aja. Yg penting gw bangga jadi Orang Indonesia. Yoi kapan nih kita kumpul. Sekali-kali ikut donk bareng gw jalan-jalan kita eksplorasi barenglah..

  2. Terimakasih Infonya Sangat BAGUS Dan BERMANFAAT,
    SUKSES SELALU.
    Butuh keripik MURAH, ENAK, HALAL, Dan Terjamin KUALITASNYA. Bingung siapa yang bisa memberikan semua itu dengan harga MURAH??? nah sekarang hanya dengan tlp dengan hp anda.
    Ayo gabung dengan kami, hanya di AGEN Keripik Buah KHAS MALANG “BU’ SHOL”

    Dari:AGEN Keripik Buah KHAS MALANG “BU’ SHOL”
    http://agenkeripikbuahmalang.blogdetik.com/
    085 646 660 870 (IM3), 0341 – 890 6776 (Flexi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s