Apa jadinya ketika alat musik tradisional minang seperti saluang dan talempong beradu dengan jenis alat musik modern seperti piano, gitar,saksofon, terompet, trombon dan drum? Nah rabu semalam (13 Februari 2013) saya termasuk yang beruntung bisa menyaksikan pertunjukan konser musik jazz yang merupakan perpaduan alat musik tradisional dan modern dalam balutan lagu-lagu kontemporer minang klasik namun diaransemen ulang dengan lebih modern dalam warna jazz. Gedung Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki semalam pun semakin penuh dengan kehadiran penonton yang sebagian besar berasal dari minangkabau sehingga tak heran bila Gubernur Sumatera Barat Bapak Irwan Prayitno menyempatkan diri hadir untuk memberikan apresiasi kepada Rynd Band yang telah menggagas acara Minangkabau Jazz Nite.

Undangan Minangkabau Jazz
Undangan Minangkabau Jazz

Acara yang dibuka jam 7 malam ini diawali dengan pembukaan seni minang tradisional yaitu Saluang dan Rabab. Jujur karena penuturannya menggunakan bahasa Minang saya sama sekali tak mengerti maksud dari pesan yang ingin diberikan kepada penonton. Namun karena dilakukan dengan suara yang merdu ditambah dengan permainan suling dan rabab yang khas membuat saya terpesona juga dengan kesyahduan dan kekuatan bunyi-bunyian khas Minang yang cukup mengena sembari membayangkan suasana kampung Minang selama kurang dari setengah jam. Kemudian disusul dengan penampilan musik tradisional Talempong dengan bergiliran penyanyi membawakan lagu-lagu klasik Minang hanya dengan menggunakan suara ketukan talempong, suling dan gendang yang dibawakan oleh 5 orang penabuh. Entah kenapa tiba-tiba saya jatuh cinta dengan alat musik khas Minang ini dan berharap suatu saat ingin belajar langsung dari mereka.

IMG_4099 IMG_4098

Secara urutan acara rupanya pergelaran Minangkabau Jazz Nite semalam tidak hanya menampilkan musik jazz semata. Pihak penyelenggara menyelipkan banyak sekali atraksi hiburan tradisional. Tak lengkap kiranya jika ingin menikmati seni Minang kalau belum menyaksikan tari-tarian dan silat. Namun keduanya dikombinasikan dalam pertunjukan tari piring yang cukup menghibur kurang lebih 1000 penonton yang hadir. Saya kagum bagaimana kemudian beberapa gerakan silat dipadukan dengan gerakan tari yang gemulai dan lincah sehingga sebelum pertunjukan Jazz Minang dimulai  banyak penonton yang sudah terhibur duluan.

Tari Piring
Tari Piring

Nah akhirnya satu persatu personil Rynd Band mulai muncul di pentas panggung setelah sebelumnya perwakilan mereka menyampaikan maksud tujuan acara ini. Oh iya, Rynd Band sendiri pada awalnya merupakan wedding band yang sebagian besar berdarah minang. Namun kemunculan mereka saat mengeluarkan album perdana bertajuk Minang Jazz tahun lalu membawa band ini cukup dikenal bagi penikmat jazz di tanah air. Konsep untuk membawakan lagu-lagu minang klasik dalam sentuhan jazz setidaknya menjadi ciri khas yang tidak dimiliki grup band aliran jazz lain.

Beberapa lagu yang dimainkan semalam sempat membuat penonton ikut bernyanyi bersama. Lagu-lagu klasik Minang semakin enak dan lebih dinamis didengarkan ketika Rynd Band yang dipimpin Ridman Munir ini membawakan lagu Kelok 44, Roda Padati, Kamiri dan Laruik Sanjo. Unsur tradisional sangat terasa sehingga tak menghilangkan rasa minang dengan sentuhan alat musik talempong, lengkap dengan bansi dan suling. Mereka memadukan unsur-unsur tradisional ke dalam lagu jazz modern sehingga memperkaya khasanah saya dalam menikmati musik dan mencintai budaya Minang.

Menikmati lagu-lagu Minang klasik sepertinya kita diajarkan kembali akan moral dan etika bergaul. Terutama saat lagu Minangkabau yang dinyanyikan duet Uni Emile dan Perthria. Saya kebetulan tahu sedikit dengan liriknya yang menceritakan kerinduan seorang perantau akan ranah Minang.

Minangkabau …, tanah nan den cinto
Pusako bundo dahulunyo
Rumah Gadang …, nan sambilan ruang
Rangkiang baririk di halamannyo

Jikok den kana hati den taibo

Tabayang bayang di ruang mato
Jikok den kana hati den taibo
Tabayang bayang di ruang mato

IMG_4108 IMG_4110 IMG_4111 IMG_4115 IMG_4114 IMG_4113

Atau ketika lagu Bareh Solok yang ada dalam album pertama Rynd Band yang membuat pengunjung akhirnya ikutan bernyanyi bersama. Hentakan Lagu Roda Padati dan Bugih Lamo yang membuat suasana semalam bertambah ceria setelah Uda Odi Ismail turun dari panggung dan mengajak penonton bergoyang. Namun lagu Minang tak lengkap rasanya jika tak ada lagu kepiluan atau lagu Balada. Nah kali ini Rynd Band mendapuk Uda RidmanMunir untuk menyanyikan lagu sedih yang sangat indah berjudul “Takicuah di Nan Tarang“. Walaupun dinyanyikan dengan bahasa minang nan elok namun karena penghayatan yang tinggi membuat saya dan penonton terdiam sesaat mendengarkan keindahan harmonisasi lirik dan inilah musik itu sebuah bahasa Universal yang bisa dinikmati siapa saja biarpun kita tak begitu paham akan maknanya. Cuma sayang lagu kebangsaan saya yaitu “Ayam den Lapeh” tidak dimainkan semalam. Ah ga masalah lagu lainnya juga cukup menghibur.

Penonton diajak ikut berdendang dan bergoyang oleh Uda Odi Ismail
Penonton diajak ikut berdendang dan bergoyang oleh Uda Odi Ismail

Kalau bisa dibilang pertunjukan semalam semacam konser peluncuran album Minang Jazz – Rynd Band kedua. Karena sebagian besar lagu-lagu minang dalam album pertama sedikit dimainkan. Konser yang berlangsung cukup lama kurang lebih 3 jam ini mampu membuat penonton betah berlama-lama di Graha Bakti Budaya. Saya pikir gagasan Rynd Band untuk berkarya melestarikan lagu-lagu Minang dengan aransemen musik Jazz mampu menarik minat generasi muda terutama Minang untuk mencintai budayanya sendiri. Konser “Minangkabau Jazz Nite” dengan konsep seni asli bertemu sentuhan kontemporer menghadirkan Rabab, Talempong, Gandang tasa dan tari-tarian juga menjadi catatan khusus bagi saya untuk mulai mencintai budaya minang sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.

Bersama Ajo  Fadel salah satu pemain Talempong
Bersama Ajo Fadel salah satu pemain Talempong

Diakhir acara, saya termasuk yang beruntung bisa berkenalan dengan salah satu personil yang memainkan musik Talempong yaitu Datuk Ajo Fadel. Dia sangat ramah dan mengajak  saya untuk datang bermain ke Padang dan mengenalkan musik Talempong. Wah senangnya niat saya tersambut juga, saya berjanji tak akan menyiakan kesempatan ini dan berharap suatu saat bisa silaturrahmi ke sanggarnya. Jadi salah bila ada yang beranggapan bahwa musik Minang indentik dengan kuno. Dan  tidak selamanya musik minang identik dengan dangdut semata, jazz pun bisa dimainkan untuk jenis musik minang. Bravo Rynd Band..yang telah mempersembahkan combo Jazz ala Minang.

Nah yang ingin mengetahui cuplikan konser semalam, berikut saya tampilkan hasil rekaman ala kadarnya dengan kualitas seadanya dikarenakan cuma merekam via handset yang tersediadan naas lowbat jadinya apa adanya. Selamat menikmati.

Advertisements