Situs Megalitikum Gunung Padang, Maha Karya Peradaban Indonesia di masa lampau


IMG_4685

Akhir pekan kali ini (2 Maret 2013) saya mengunjungi sebuah situs prasejarah di desa Karya Mukti, Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasinya dikenal sebagai Situs Megalitikum terbesar di Asia Tenggara berada pada puncak Gunung Padang dengan koordinat 6° 57′ 0″ S, 107° 1′ 0″ E atau -6.95,107.016667. Berjarak 165 KM dari Jakarta dan bisa ditempuh melalui Tol Jagorawi kemudian menuju Puncak. Sesampai di Cianjur jalanan menuju lokasi berselang seling ada yang terbuat dari aspal namun kebanyakan hanya batuan biasa bahkan berlubang.

Panduan terdekat menuju lokasi melalui jalan KM 26 ke arah Lampegan dimana terdapat sebuah stasiun kereta api yang sudah tak berfungsi dengan terowongan yang bisa disambangi sebelum menuju lokasi situs megalitikum.Jalanan yang dilalui cukup bervariasi dan melewati pemandangan indah Perkebunan Teh Gunung Manik yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.

IMG_4686 IMG_4687 IMG_4688 IMG_4692 IMG_4693 IMG_4694 IMG_4712 IMG_4713

Kurang lebih satu jam kemudian setelah melewati perkebunan teh yang indah. Kita akan disambut dengan gerbang utama lokasi situs. Biasanya pengunjung akan memarkirkan kendaraannya di dekat gerbang dan memilih berjalan mendaki ke atas gunung. Namun pilihan bisa disesuaikan dengan kemampuan. Untuk masuk ke lokasi pengunjung dikenakan biaya tiket sebesar Rp. 2000/orang.

Situs Gunung Padang sendiri sangat mudah dijangkau, untuk menuju puncaknya telah disediakan anak tangga asli yang berjumlah kurang lebih 468 namun karena terlalu curam dan terjal saat ini telah ada anak tangga baru yang berjumlah 678  sehingga kita bisa mendaki situs Gunung Padang dengan ketinggian sekitar 885 meter dari atas permukaan laut tak kurang 30 menit. Namun untuk yang cukup kuat saya sarankan menggunakan anak tangga yang asli terbuat dari rekonstruksi batuan andesit dengan pengalaman yang menantang dan merasakan suasana masa lampau. Namun jika takut kecapekan gunakan anak tangga buatan semen yang disediakan juga tiang penyangga jika merasa keletihan.

Mengunjungi lokasi ini seperti diingatkan peradaban masa lampau saat teknologi dan informasi belum berkembang. Balok batu yang berserakan merupakan batuan vulkanik alami dengan ukuran yang berbeda-beda dan berbentuk punden berundak. Jika diteliti lebih lanjut ternyata bangunan punden berundak ini dahulunya dibangun dari rangkaian balok-balok yang disusun mengerucut sehingga berbentuk gunung. Wajar bila pada bagian bawah gunung masih bisa ditemukan sisa-sisa balok yang tertanam dan sebagian sudah tertimbun tanah.

IMG_4714 IMG_4732 IMG_4734 IMG_4735 IMG_4736 IMG_4737 IMG_4741 IMG_4746 IMG_4747

Situs Megalitikum ini sendiri diperkirakan sejaman dengan Piramida pertama di Mesir karena diperkirakan bahwa usia batu-batuan yang tersusun mengerucut ke atas seperti bentuk piramida sama yaitu 4000 – 9000 SM (sebelum Masehi). Sedangkan situsnya sendiri berusia  2500 – 4000 SM. Artinya usia situs ini lebih duluan dibangun 2800 SM dibandingkan Candi Borobudur bahkan, usia situs megalitik ini lebih tua dari Machu Picchu di Peru.

Kata Gunung Padang sendiri berasal dari susunan suku kata Pa (tempat), da (agung), dan Hyang (Moyang, Leluhur, Dewa) dari susunan kata tersebut maka kata Padang maknanya tempat luhur untuk para leluhur ataupun tempat agung untuk sembah dewa. Masyarakat sendiri percaya lokasi gunung Padang merupakan lokasi tepat untuk mengadakan ritual suci karena dikelilingi oleh pegunungan dan bila cuaca bagus kita bisa melihat Gunung Gede dan Pangrango dari kejauhan. Layaknya stadion bola, lokasi situs ini persis sebagai lapangan bolanya dan gunung-gunung disekitarnya bagaikan tribun penonton yang mengelilingi situs ini.

Dengan balok-balok batu yang berserakan dimana-mana, membuat saya berfikir ada kejadian apa dimasa lampau? Menurut petugas yang mengantar, dahulunya situs ini dipercaya sebagai lokasi peradaban kerajaan Siliwangi dan penduduk percaya bahwa lokasi ini merupakan bakal Istana yang akan dibangun oleh Raja Siliwangi. Tampaknya lokasi balok batu ini tidak hanya ditemukan di sekitar Gunung Padang saja namun juga bisa ditemukan di persawahan, rumah penduduk dan bahkan masih tertanam didalam gundukan tanah dengan luas situs hampir 20 hektar lebih, dan yang baru ditemukan hanya sekitar 3 ha saja dengan luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m².

IMG_4750 IMG_4751 IMG_4754 IMG_4755 IMG_4756 IMG_4772 IMG_4766 IMG_4765 IMG_4760 IMG_4757 IMG_4791 IMG_4788 IMG_4787 IMG_4777 IMG_4773

Inilah situs maha karya peradaban bangsa yang tak ternilai harganya. Saat ini situs ini terus dipelihara dan dirawat setiap hari dari kotoran sampah dan rumput. Karena tanah yang subur membuat banyak tanaman liar tumbuh  bebas ditempat ini. Oleh karena itu diperlukan perawatan dan penjagaan yang dibantu warga sekitar oleh Dinas Pariwisata setempat. Bentuk batu andesit yang beraneka rupa seperti tiang dengan berukuran rata-rata 1 meter dan berdiameter 20 cm berjenis andesit, basaltik dan basal. Nah diujung balok batu tersebut dibuat geometri serupa pentagonal (lima sudut). Angka 5 ini menunjukkan bilangan yang sangat sakral bagi masyarakat Sunda dahulu kala yang berbeda dengan masyarakat Babylonia yang mensakralkan angka 11 atau Romawi kuno yang mensakralkan angka 7.

Situs prasejarah Gunung Padang ini sangat bagus buat dikunjungi. Jangan sampai kalah dengan turis asing yang telah duluan mendatangi lokasi yang sangat indah ini. Di kelilingi lembah-lembah pegunungan yang sangat dalam dan diatas puncak kita bisa menyaksikan hamparan gunung yang terbentang didepan mata yaitu Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Pasir Pogor, Gunung pasir Gombong, dan Gunung Pasir Domas membuat lokasi ini sangat mengagumkan.

Untuk mendapatkan view yang indah datanglah ke tempat ini untuk melihat langit indah malam hari di bawah riuhnya milyaran bintang dimana tepat di tengah Galaksi Bima Sakti yang dikawal rasi Serpens dan Aquila yang mewakili dunia bawah dan atas. Malam cerah di bulan Juli dapat dipilih untuk waktu yang sempurna, duduk saat malam Bulan Purnama bersama reruntuhan yang berusia 2500-4000 SM.

IMG_4730

11 thoughts on “Situs Megalitikum Gunung Padang, Maha Karya Peradaban Indonesia di masa lampau

    1. kalau naik transportasi umum saya kurang tahu mas. Mungkin bisa melalui Bus yang via Puncak nanti berhenti di Cianjur atau Cibeber kemudian untuk ke lokasi tampaknya nggak ada kendaraan umum bisa dipilih Ojek.

  1. halo 😀 kalau untuk pemula yang nggak pernah naik gunung & jarang olahraga xD track di situs ini mudah dilalui nggak ya? heheh penasaran, tp takut nggak kuat. makasiiih

  2. bekas kebudayaan sunda purba sebab peninggalan semacam itu di jabar cukup banyak jumlahnya hampir di tiap kabupaten bukan teori para ahli yang mengasumsikan bekas peninggalan bangsa yang hilang atau musnah ini sama saja meleceh kan keradaan orang sunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s