[Liputan Konser] Simfoni Orkestra Les Musiciens du Louvre Grenoble


IMG_4874

Merdu dan indah!!! Saya cukup terkesan dengan penampilan konser klasik Les Musiciens du Louvre Grenoble malam ini Kamis (7/3) . Saking terkesannya saya langsung menuliskannya di Blog ini segera setelah tiba di kamar kosan. Bayangan saya mengenai alunan keindahan musik Barok masih membekas. Terbayang setiap selesai memainkan satu babak setiap itu juga dimulai tepukan gemuruh penonton membahana di arena Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki  yang merasa cukup puas dengan hasil interpretasi ulang komponis dunia; dengan interlude yang apik sebelum memainkan karya Christoph Willibald Gluck (1714 – 1787) dan Jean Philippe Rameau (1683 – 1764).

Konser yang dimulai pukul 20.00 WIB ini diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun kelompok musik orkestra asal Perancis  yang ke-30 ini mengambil dua tema yaitu Don Juan ou le Festin de pierre dan Une Symphonie imaginaire . Konser simfoni ini juga merupakan rangkaian dari Tur keliling Asia. Selain di Jakarta konser akan dilanjutkan berupa kuartet di Bandung. Jadi saya merasa beruntung ditengah kepenatan kesibukan kerja dan kondisi macet di Jakarta yang tiada kunjung berakhir bisa menikmati alunan musik orkestra selama dua jam lebih dan merasakan suasana masa lampau Eropa dengan keapikan alunan simfoni dari Les Musiciens du Louvre Grenoble yang memberikan nafas baru pada repertoar-repertoar jaman Barok, Klasik dan Romantik.

Sejarah Les Musiciens du Louvre Grenoble sendiri didirikan oleh konduktor kenamaan Perancis yaitu Marc Minkowski pada tahun 1982. Sebuah ensambel yang pada awal terbentuknya merupakan perintis dalam membangkitkan kembali musik Barok. Kemudian bersama-sama melakukan kajian dan eksplorasi repertoar Perancis dan Handel sebelum kemudian menekuni Mozart, Rossini, Offenbach, Bizet dan Wagner. Dengan teknik dan gayanya yang sangat kekinian dan penuh dinamis disertai antusiasme dan enerjik membuat banyak Panggung besar  melirik grup ini untuk tampil di seluruh Panggung Besar belahan Dunia termasuk di Teater Besar Jakarta malam ini.

Nah kali ini konser bagian pertama menyuguhkan cerita simfonia Don Juan ou le Festin de pierre dengan nuansa balet dengan kesan musik dramatisnya ditambah narasi langsung deklamasi dari Marc Minkowski yang menceritakan teks Angiolini dalam melakukan sinfonia perjalanan seorang Don Juan bersama pelayannya yaitu rombongan musisi yang menuju jendela keponakan Sang Komandan. Dianggap sebagai cerita balet yang dramatis yang terdiri atas tiga babak. Saat Marc Minkowski mengkonduktori para musisi terasa perjalanan Don Juan dengan alunan musik yang diciptakan sangat dramatis hingga akhirnya Don Juan berhasil mengalahkan Sang Komandan dengan musik yang mengalun penuh keangkuhan dan juga keberanian melawan rasa takut.

Marc Minkowski menutup bagian pertama dengan ucapan terima kasih
Marc Minkowski menutup bagian pertama dengan ucapan terima kasih

Nah bagian kedua yaitu Une Symphonie imaginaire, kelompok orkestra ini memainkan sekitar 17 karya Rameau.Dimana pada bagian kedua ini merupakan perpaduan musik klasik khas Perancis yang begitu indah dengan simfoni buatan sendiri. Karena Rameau tidak pernah menulis simfoni murni. Inilah cikal bakal kelahiran simfoni ala Perancis khas orkestra ini. Sehingga beberapa cuplikan opera dan balet karya Rameau terlihat sangat imajinasi dengan memilih berkonsentrasi pada overtur-overtur yang sengaja untuk dipanggungkan oleh Les Musiciens du Louvre Grenoble. Berangkat dari imajinasi simfoni khayalan karya Rameau inilah nama orkestra ini dikenal ke seluruh dunia. Karena mereka berhasil menampilkan genre baru yang menciptakan sebuah komposisi musik yang sangat naratif dimana musik memainkan peran utamanya. Beberapa kali penonton berdecak kagum mendengar alunan musik yang penuh sensasi hadir ditelinga dan membangunkan imajinasi mengenang masa Eropa abad ke-18 saat jaman Rameau berkibar.

Saya jujur akui sebelum menonton konser ini tak begitu mengenal dengan Orkestra Les Musiciens du Louvre Grenoble ini. Makanya setelah tahu bahwa mereka sangat terkenal dan telah banyak menyedot perhatian publik dunia ini menjadi malam pertama saya untuk mengenal karya musik mereka lebih lanjut. Ternyata orkestra ini telah sukses membawakan karya Offenbach “Hoffmann’s Tales” di Salle Pleyel di Paris karya Handel “Alcina” di Vienna Statsoper, karya Mozart “Cosi fan tutte” di Salzburg Summer Festival, “Idemeneo” di Aix-en-Provence Festival, di Salzburg Mozartwoche, serta di Musikfestbremen, dimana orkestra ini tampil secara rutin sejak 1995.

Saya memang menyukai berbagai jenis musik termasuk tradisional sehingga malam ini menambah khasanah wawasan saya dalam menikmati sentuhan simfoni orkestra dengan menikmati karya klasik dari  Les Musiciens du Louvre Grenoble yang dikonduktori oleh Marc Minkowski yang mengawali karirnya sebagai pemain bassoon sejak usia dini. Yang cukup melegakan ternyata orkestra ini juga kerap menampilkan berbagai karya musik klasik abad ke-19; Berlioz [Les Nuits d’été], Harold en Italie, Bizet [L’Arlésienne] dan Massenet [Cendrillon]..

IMG_4871

Kabar terakhir yang saya dapatkan melalui searching di Internet mengatakan bahwa grup simfoni ini telah merekam simfoni lengkap dari Schubert di tahun 2012 setelah berhasil sukses menggelar konser mereka di Wiener Konzerthaus tahun 2009. Pertunjukkan perdananya dengan Wiener Philaharmoniker akan dihelat bulan Mei tahun ini artinya setelah mereka menyelesaikan tur ke Indonesia dan Asia. Selain itu  suatu kebanggan bagi grup ini karena menjadi konduktor untuk London Symphony Orchestra di Aix-en Provence, Perancis pada bulan Juli 2013 mendatang dan sepanjang 2012-2013 Marc Minkowski dipilih menjadi Direktur Artistik untuk karya Mozart “Lucio Silla” di Salzburg Mozartwoche dan akan ditampilkan di Bremen, Jerman bulan September mendatang.

Bagi saya menyaksikan Les Musiciens du Louvre Grenoble malam ini mematahkan kebekuan dan juga image eksklusivitas  musik orkestra pada abad ini. Semua yang saya saksikan begitu menghibur dan juga cukup membuat penonton terpesona dengan berbagai karya klasik yang dimainkan secara dinamis tanpa kekakuan yang selama ini melekat dibenak saya. Pantas rasanya jika penonton yang memadati teater besar Jakarta seperti tidak cukup puas dan enggan beranjak setelah pertunjukan berakhir. Walaupun ada sebagian penonton yang belum terbiasa dengan aturan ketat tak boleh memotret, mengambil video, dan alat komunikasi selama pertunjukan harus off. Jika ketahuan ada cahaya sedikit dari kursi penonton maka akan ada petugas yang mendatangi. Termasuk ancaman konser akan dihentikan dengan alasan menganggu konsentrasi musisi dan penikmat musik. Okelah akhirnya dokumentasi saya pun cuma ala kadarnya saja.

Para musisi selesai memainkan babak kedua dan memberi balasan hormat kepada penonton
Para musisi selesai memainkan babak kedua dan memberi balasan hormat kepada penonton dengan berdiri

Konser Les Musiciens du Louvre Grenoble tampaknya memang mendapat sambutan khusus bagi penonton yang hadir. Karena saya perhatikan sebagian besar yang hadir merupakan kalangan terpelajar seperti pekerja kantoran, duta besar, ekspatriat,  dan mahasiswa.Beruntung saya mendapatkan kursi di bagian depan sehingga bisa melihat langsung dengan jelas musisi dan penonton.  Selain itu konser banyak juga dihadiri dari kalangan artis dan musisi sehingga konser malam ini menjadi pertunjukan yang memang wajar mendapat apresiasi. Sehingga Les Musiciens du Louvre Grenoble telah membuktikan bahwa orkes simfoni bukan saja sebuah bentuk kesenian tetapi juga menjadi alat diplomasi budaya dan hubungan yang baik antara Indonesia dan Perancis.

IMG_4869

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s