Catatan perjalanan wisata ke Bangkok (2) : Jakarta mesti belajar mengatasi macet dari Bangkok


598680_495671723801260_1872385225_n 156051_495671757134590_1744938453_n 485949_495671777134588_140621124_n

Catatan perjalanan kali ini saya ingin sekali mengulas mengenai masalah perbandingan kemacetan Bangkok dan Jakarta. Ulasannya saya kali ini sangat sederhana saja dari kacamata melihat langsung dan merasakan secara nyata kondisi berada jalanan kota Bangkok. Berada disini itu seperti berada di Jakarta! Begitulah kesan saya ketika melihat kondisi kota Metropolitan Bangkok sebagai ibukota negara Thailand. Melihat penampilan wajah kota dengan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan sama sekali tidak ada perbedaan dengan orang Indonesia. Bahkan bisa jadi mereka juga tidak ngeh kalau ada warga negara asing terutama orang Indonesia sedang berjalan-jalan menyusuri kotanya.

Merasakan suasana Bangkok dan kehidupan warga kotanya dimulai di pagi hari saat banyak anak sekolah, pekerja kantoran dan ibu-ibu yang berangkat ke pasar terlihat mengantri di halte dan lokasi strategis lainnya yang sudah ditentukan. Warga Bangkok saat ini sudah jauh lebih tertib dan disiplin sehingga mereka sudah mulai mengantri, menaiki dan turun di halte. Ini adalah kemajuan yang membuat Bangkok jauh lebih unggul dibandingkan warga Jakarta. Nah dari kenyataan ini saya kemudian mikir, kapan warga Jakarta bisa disiplin atau orang Indonesia mau mengantri? Ah butuh waktu dan saya yakin suatu saat orang Indonesia bisa melakukan apa yang bangsa lain lakukan.

522668_495673587134407_1988622466_n

Berada di kota Bangkok kita akan menemukan banyak sekali flyover yang bahkan dibangun sampai tiga lapis. Flyover ini membelah jalanan kota Bangkok bersebelahan dengan jalur skytrain. Memang sih dari segi keindahan sangat menganggu karena kita tidak bisa melihat jelas arsitektur sebuah bangunan tinggi. Namun jika kita melintasi jalan tol kita bisa melihat bentuk bangunan pencakar langit sehingga dengan mudah kita bisa merasakan denyut kota ini tatkala Skytrain melintas membelah jalanan kemudian disusul dengan mobilitas kendaraan yang cukup kencang disampingnya dengan latar belakang gedung-gedung tinggi. Bila di Jakarta kondisi pagi hari saat waktu berangkat kerja jalanan tol dalam kota macet akibat tersendat di pintu keluar yang juga terhalang oleh laju kendaraan diluar tol. Maka di Bangkok jarang ditemui kemacetan di dalam tol kecuali di gerbang tol-nya. Itupun tak berlangsung lama.

Namun secara umum kondisi jalanan kota Bangkok (kecuali tol) memang tak jauh berbeda dengan Jakarta misalnya macet, kumuh, dan polusi bertebaran dimana-mana. Namun yang paling mencolok adalah sangat sedikit kita temukan pengendara motor yang melaju dijalanan kota ini. Atau paling gampangnya nggak ditemukan sebuah kendaraan pun yang melintasi garis zebracross untuk pejalan kaki didepan lampu lalu lintas. Semuanya cukup disiplin. Hal ini karena keberhasilan pemerintah Thailand yang telah memfasilitasi transportasi publik dengan saling terintegrasi seperti Bangkok Skytrain (monorel) yang baru dibangun tahun 1999, kemudian disusul dengan pembangunan MRT tahun 2004. Kemudian secara bertahap kota ini mulai mengintegarasikan moda transportasi ke terminal bus, stasiun kereta api dan terakhir airport link. Sehingga membuat para pengendara motor beralih ke transportasi massal tadi. Cukup efektif juga ya…berharap Jakarta cepat menyelesaikan pembangunan MRT dan Monorelnya.

577845_495672250467874_1294213019_n 577862_495672787134487_203286039_n 522668_495673587134407_1988622466_n 485949_495671777134588_140621124_n 398794_495672097134556_407459026_n 386183_495673460467753_1355253234_n 297047_495673550467744_561263892_n 199056_495671983801234_346993777_n 69846_495672193801213_1211050711_n 69820_495672017134564_954146184_n

Berjalan-jalan di pedestrian walkway kota Bangkok juga menyenangkan dengan kondisi yang lebar mirip trotoar di sekitar Jalan Sudirman dan Thamrin Jakarta. Ada juga beberapa pedagang kaki lima yang menjual makanan dan minuman disekitar halte. Namun mereka jauh lebih baik dibandingkan pedagang kaki lima di Jakarta dalam menata barang dagangannya dengan rapi dan menyediakan kotak sampah disampingnya.Sehingga kesan kotor dan kumuh tidak ditemukan. Mereka tak segan memarahi pembeli yang membuang sampah makanan di jalan. Partisipasi warganya dalam menjaga kebersihan memang patut diancungi jempol. Wajar kiranya melihat jalanan Bangkok termasuk pedestriannya sangat kinclong jauh dari sampah.

Beberapa bus sekelas PPD di Jakarta juga masih mudah ditemukan berkeliaran di jalanan raya kota Bangkok dengan kondisi yang masih bagus dan tidak mengeluarkan asap tebal. Bahkan untuk menaiki bus tua ini, warga kota tak perlu membayar sepeserpun. Gratis sampai ke tujuan. Dikarenakan sopirnya tidak perlu menyetor karena sudah dibayar gaji oleh pemerintah. Selain itu terdapat juga angkutan khas kota Bangkok yaitu Tuk-Tuk. Kendaraan ini mirip dengan Bajaj di Jakarta namun lebih terawat dan tidak bising. Tuk-tuk tidak seperti Bajaj yang hanya Tuhan yang tahu kemana dia akan belok? Kondisi Tuk-tuk sangat layak jalan dengan lampu sen yang masih terang menyala. Namun harap berhati-hati beberapa sopir tuk-tuk kadangkala sering mematok harga yang tinggi jika kita tidak bisa menawar dan melakukan pemerasan tersembunyi dengan mengantar ke toko souvenir dan memaksa membeli barang yang mahal. Sehingga dari situ mereka mendapatkan komisi.

Namun menggunakan kendaraan umum di Bangkok itu sangat menyenangkan dan aman. Bagi yang ingin sedikit merasakan keleluasaan gunakanlah Taksi meter. Seperti Jakarta, di Bangkok pun kita bisa menggunakan argo meter atau nego harga dalam menentukan tujuan. Umumnya warga Bangkok itu terkenal ramah dan jujur. Katakan jika kita orang Indonesia maka mereka akan mengucapkan Selamat Datang atau terima kasih setelahnya.  Masyarakat Thailand memang sangat senang bersahabat dengan orang Indonesia. Jadi mereka tak akan memasang tarif tinggi jika kita tidak mau menggunakan argo. Namun jika kita menggunakan taksi resmi yang berwarna pink sangat jarang kita bisa mengobrol. Dan satu lagi sopir taksi di Bangkok berbeda dengan Jakarta yang menanyakan rute sebelumnya ke penumpang. Di Bangkok tampaknya kita harus pasrah jika supir membawa kita berkeliling untuk menghindari macet untuk mencapai tujuan. Namun jangan kuatir harga taksi di Bangkok jauh lebih murah kok. Ataupun jika kita merasa kelamaan terjebak macet kita bisa minta tolong diantar ke BTS (Bangkok Skytrain terdekat).

Sebenarnya membandingkan Jakarta dan Bangkok sangat pas. Karena kedua ibukota ini memiliki mobilitas penduduk yang paling padat dibandingkan dengan ibukota negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Lebih dari 11 juta warga Bangkok beraktivitas sama halnya dengan Jakarta yang kebanjiran arus dari luar kota. Bangkok sendiri setiap hari kerja kedatangan sekitar 2 juta orang yang bekerja dari luar kota. Sehingga macet dimana-mana selalu terjadi dan untungnya kota yang dijulukin Krup Thep Maha Nakhon (kota yang dihuni para malaikat) ini telah memperbaiki fasilitas kendaraan massal lebih dahulu dibandingkan Jakarta.

62457_495672060467893_1841528088_n 5465_495672350467864_1383059436_n

Sungguh saya merasa iri dan kadang malu melihat kenyataan bahwa Bangkok sudah banyak kemajuan. Prilaku warganya sudah lebih baik dengan ketertiban dan disiplin yang terus meningkat. Dari sisi partisipasi warganya terlihat adanya dukungan kepada program pemerintah dengan senantiasa menjaga semua fasilitas umum dengan baik. Tak ada coretan di dinding stasiun, semua warga ngantri membeli tiket skytrain, Tak ada yang menyerobot masuk duluan sebelum penumpang didalam keluar, sarana publik terjaga dengan baik. Toilet umum menjadi salah satu yang menjadi perhatian pemerintah untuk terus menjaga kebersihannya beda dengan Jakarta yang banyak dikelola oleh preman, ticketing box, gate control, kursi tunggu di stasiun, gerbong, telepon umum dan box-nya, halte, tangga penyebrangan, lampu kota, ah banyak lagi fasilitas umum yang masih terjaga bersih dan terawat. Semua fasilitas umum itu tetap tertata sama seperti pada awal beroperasi tak ada mural coretan cat, spidol, dan pengrusakan. Wajar tatkala bila pemerintah Bangkok terus memperbaiki dan menambah kenyamanan dengan mulai mengganti tangga jalan dengan eskalator. Tak ada pengemis, pedagang kaki lima di Jembatan Penyebrangan, semuanya bersih dan terang benderang. Bandingkan dengan JPO di Jakarta atau jembatan busway yang ketebalan flat-nya berbeda-beda karena KKN. Padahal usianya JPO di Bangkok lebih tua dibandingkan Jembatan Busway di Jakarta.

Di kota ini semua peradaban baru tengah dibangun, warganya antusias dan jelas mendukung semua kenyamanan bersama. Kadang merasa malu dengan prilaku bangsa sendiri yang masih mementingkan diri sendiri. Bagaimana ketaatan warga Bangkok terhadap pemerintahan yang monarki menjadi pelajaran bagi saya. Masih berharap suatu saat Indonesia akan berubah sama halnya warga Thailand yang sudah memulainya terlebih dahulu. Mudah-mudahan saya tidak sedang bermimpi ketika suatu saat warga Jakarta pun akan melakukan hal yang sama. Amin.

Advertisements

3 thoughts on “Catatan perjalanan wisata ke Bangkok (2) : Jakarta mesti belajar mengatasi macet dari Bangkok

  1. Hebat, inilah cerminan Indonesia sesungguhnya! Jakarta dan Indonesia sudah kronis, cerminan buruknya perilaku dan sdm negeri ini, cerminan buruknya birokrasi negeri ini, cerminan buruknya manajemen di negeri ini, cerminan tidak ada tata ruang yang jelas dan tegas di negeri ini, dan mentalitas payah negeri ini

    Entah sampai kapan Jakarta(indonesia) seperti ini, sama negara tetangga saja kalah jauh , contoh sama Bangkok, kl, Manila atau bahkan Hanoi, jakarta tertampar keras, apalagi asia dll.
    Saya yang membaca artikel yang menarik ini, dapat merasakan betapa adanya kemauan warga Bangkok sebagai representasi Thailand untuk maju dan berproses. Saya sendiri kagum dan iri dengan Bangkok yang terlihat begitu ‘Metro’, modern dengan banyaknya tiang-tiang flyover, interchange, skytrain, dan gedung gedung pencakar langit yang menjulang indah dan marak ditemui, di luar kemacetan yang ‘mungkin mirip’ dengan Jakarta. Jakarta mungkin ketinggalan 10 tahun atau lebih dari Bangkok. Jakarta seperti kata mas, kelihatan ‘dull’ banget dibanding bangkok, sungguh aneh tapi nyata, mengingat Bangkok yang penduduknya jauh di bawah DKI, tetapi terlihat jauh lebih Masiv dan modern.

    Jakarta dan Indonesia perlu pemimpin yang tidak hanya cerdas namun cepat, revolusioner, penuh gebrakan, tegas, berpikiran maju, dan berorientasi target dan pencapaian yang jelas. Ini penting karena Jakarta berperang dengan waktu. Memang susah, karena Jakarta sudah terlalu lama ‘salah urus’, sehingga semakin lama semakin kronis problem2 yang ada, dan semakin banyak pula problem yang muncul.

    Terima kasih, bisa jadi ini bahan masukan dan tamparan keras bagi pemerintah Jakarta dan Indonesia. Apakah mereka masih punya ‘urat malu’ setelah membaca artikel ini?

    1. Terima kasih mas Berto buat ulasannya memang itu yang saya rasakan. Semakin tertata kota maka keinginan warga Bangkok utk menjaga infrastruktur kota lebih berperan partisipasinya. Terlebih kota Bangkok berinisiatif menjadi kota wisata dimana tentunya mereka pede buat menjamu pendatang/turis dgn hospitality dan kotanya yang modern, bersih dan tertib.

  2. thailand memang sudah mulai berbenah sejak lama, entah kapan Jakarta yang semakin semrawut ini bisa mengejar ketertinggalannya. semoga secepatnya saja ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s