[Liputan] Padusi, Kisah Legenda Wanita Minang dalam Panggung


IMG_6355

Beberapa jam (11/5) yang lalu saya baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan bertema “PADUSI” yang merupakan bahasa Minang yang diartikan sebagai Perempuan (bisa berupa anak atau istri). Inilah perjalanan saya untuk mengenal kembali keanekaragaman adat Minangkabau yang terkenal dengan keindahan daerah dan masyarakat yang berpegang teguh adat istiadatnya. Filosofi yang sudah mendarah daging dan beranak pinak ke setiap generasi Minang yaitu ABSSK “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” sebuah kebudayaan yang melegenda dan kaya raya. Pementasan kali ini mengangkat salah satu budaya ‘matrilineal’ sebuah pementasan yang mengangkat perjuangan hidup kaum wanita Minang dengan semua keteguhan dan semangatnya.

Saya sendiri memang tertarik ingin menyaksikan pementasan ini setelah ada banyak titipan dari beberapa sahabat di Minang sana yang tak bisa hadir untuk memuat liputan ala kadarnya. (Tarimo Kasih infonya buek Sanak Artalentalle, Uda Hafiz Husni, Uni Rahma, dan sanak lainnyo terutama warga Minang Sedunia hahaha) Tuh kan jadi serasa utusan orang Minang nih? Bingung mau menuliskannya dari mana? Cuma sayang karena saya nggak bawa kamera SLR jadinya hasil gambar dari lantai dua balkon tempat saya duduk kurang bagus.

Pementasan kali ini melibatkan banyak nama-nama besar sebut saja Rama Soeprapto sebagai Sutradara dan Nia Dinata sebagai penulis naskah serta beberapa nama besar lainnya seperti pencipta & koreografer Tom Ibnur yang merupakan guru besar di ISI Padang Panjang, Artis Jajang C. Noer dan Niniek L.Karim, Penyanyi legenda Minang Bunda Elly Kasim, dan didukung penari yang juga ada didatangkan khusus dari ISI Padang Panjang dan Bukit Tinggi untuk memeriahkan pementasan besar ini.

Pementasan ini berlangsung di Teater Besar Jakarta dengan mengangkat cerita rakyat yaitu Puti Bungsu, Siti Jamilan dan Sabai Nan Aluih makanya disebut juga tema besar buat pementasan PADUSI adalah 3 Kisah, 3 Perempuan, dan 1 Perjuangan. Pementasan yang dikemas apik dengan rangkaian karya tari yang bercerita tentang keelokan, keindahan, peranan, perjuangan, kekuatan, hingga ketidakberdayaan kaum perempuan menjadi latar belakang tarian yang Tom Ibnur temukan. Keindahan tari-tari tersebut memikat saya terutama melihat kegesitan beberapa mancak silat yang membangun imajinasi seni yang tak pernah kering dalam adat istiadat Minangkabau. Ditambah musikalisasi yang apik dari sebuah komposisi musik untuk tari yang apik oleh Yaser Arafat sehingga pementasan yang berlangsung selama dua hari (11-12/5) ini memang layak untuk disaksikan.

IMG_6381IMG_6382 IMG_6335

Pertunjukan yang dimulai jam 14.30 WIB ini dibuka dengan penampilan sosok perempuan urban Jakarta bernama Padusi dengan latar belakang Bandara Internasional Minangkabau. Padusi ini seolah sedang menjelajahi tanah kelahirannya sehingga terhanyut dengan tiga legenda perempuan di Minangkabau seiring perjalanannya ke berbagai daerah di Sumatera Barat. Kemudian panggung berubah setting ke sebuah pemandangan danau yang indah dimana terdapat beberapa bidadari yang sedang mandi bersama keenam kakaknya. Namun ternyata ada seorang pemuda bernama Malin Deman yang mengintai dan mengambil sayap bidadari bernama Puti Bungsu. Akhirnya Puti Bungsu mengikuti kemauan Malin Deman seorang pemuda yang manja dan tergantung hidup kepada ibunya yang diperankan Jajang C. Noer untuk menikah. Cerita ini mengisahkan sosok perempuan yang terpaksa menikah dan tanpa memiliki kekuasan. Walau akhirnya Puti Bungsu menemukan sayapnya dan pergi meninggalkan suaminya Malin Deman bersama anaknya hasil perkawinan mereka. Hikmah dari cerita ini adalah segala sesuatu yang dipaksakan dan tidak sesuai hati nurani akan menyebabkan ketidakbahagiaan dari sisi perempuan. Apakah ada cinta dan kasih sayang dari hubungan semacam ini?

IMG_6385 IMG_6383 IMG_6343

Segmen kedua mengisahkan legenda lain dari sosok perempuan Minangkabau bernama Siti Jamilan. Pembuka segmen ini dikisahkan pada saat Malin Deman yang dilanda kegelisahan setelah ditinggalkan istrinya Puti Bungsu kemudian diserang beberapa perampok dan tiba-tiba ditolong oleh Lareh Simawang. Kemudian keduanya berteman, Lareh Simawang merupakan suami dari seorang istri bernama Siti Jamilan yang sangat mencintai suaminya dan memiliki kesetiaan sepenuh hati. Seorang istri dan ibu yang sangat berbakti. Karena telah memiliki dua orang anak dan masih mengandung untuk anak ketiga. Namun ternyata Lareh Simawang mensia-siakan kesetiaan dan cinta istrinya. Terjadilah pengkhianatan atas cinta itu. Digambarkan betapa Lareh Simawang mencintai gadis yang lebih muda dan kemudian dipersuntingnya. Siti Jamilan merasa suaminya tidak menepati janji setianya dan akhirnya dia yang memutuskan untuk bunuh diri bersama anak-anaknya sebagai tanda kesetiaan yang telah dikhianati. Perbuatan istrinya ini membuat Lareh Simawang menyesal dan berduka atas kejadian yang disebabkan ulahnya. Namun hikmah yang bisa diambil betapa Siti Jamilan seorang perempuan Minang yang setia dan teguh pada janjinya menolak untuk dikhianati oleh suaminya yang buta akan kecantikan perempuan lain. Walaupun diakhirnya Lareh Simawang diseliputi duka yang mendalam walaupun baru saja menikahi gadis lain.

IMG_6330 IMG_6389 IMG_6388 IMG_6387

Segmen terakhir adalah kisah Sabai Nan Aluih, sosok perempuan Minang yang keras dan berani. Cerita terakhir ini mengisahkan sebuah legenda kuno dimana Raja Nan Panjang seorang datuk tua bangka yang terpikat akan kecantikan Sabai Nan Aluih untuk segera memperistrinya. Namun Sabai Nan Aluih menolak yang mengakibatkan Rajo Nan Panjang marah berujung pada kematian ayahnya yang diperalat Rajo Nan Panjang akibat ketidakmampuan membayar hutang. Namun menolak untuk menyerahkan anaknya ke Datuk Rentenir tersebut.Dipenghujung cerita, akhirnya Rajo Nan Panjang tewas diujung bedil Sabai Nan Aluih sebagai penolakan dan menuntut balas dendam atas kematian Ayah-nya. Hikmah untuk segmen terakhir ini lebih mengarah keputusan Sabai Nan Aluih sebagai sosok perempuan yang menuntut hak-haknya sebagai perempuan dan manusia.

IMG_6390

Nah lantas Padusi yang pada saat pementasan muncul dipermulaan senantiasa hadir dalam setiap segmen seolah-olah mewakili perspektif penonton. Dimana Padusi ini adalah tokoh perempuan modern yang humanis dan berusaha menghargai cerita tradisi sebagai cermin untuk kehidupan di masa kini. Dari sinopsis yang saya baca, Padusi ini hadir sebagai media pertemuan imajiner antara ketiga wanita masa lampau untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai perasaan dan pikiran mereka yang ingin mengutarakan hak dan kewajibannya. Sekaligus menyadari kodrat dan keterbatasannya agar tak selalu menjadi korban ketidakadilan dalam kehidupan.

Pertunjukan yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini sungguh memikat saya dan penonton yang hadir. Lewat Padusi saya menyadari betapa perempuan sosok yang seharusnya kita hormati terutama perempuan-perempuan yang kehidupannya tak semulus harapannya dan menjalani kehidupan secara tabah,sabar, tulus dan ikhlas. Melalui pementasan ini saya belajar banyak mengenai budaya Minang yang matrilineal. Dimana saya diajarkan bahwa budaya Minang memang sangat menghormati perempuan atau Padusi sebagai pewaris hak adat dan warisan harta yang dimiliki keluarga besar yang dinaungi oleh Datuk atau Penghulu dari keluarga besar tersebut. Hal ini menyebabkan kaum perempuan Minang memiliki kedudukan dan hak yang tidak terdapat dalam masyarakat daerah lain. Sekaligus memberikan karakter bahwa perempuan Minang tidak terlalu tergantung kepada suaminya. Saya berfikir jika ada hal-hal yang sulit, perempuan Minang terbenak dipemikiran saya memilih untuk tidak menangisi keadaan tetapi harus bangkit dan mengambil pilihan untuk terus mempertahankan hidupnya.

Ah saya cuma bersyukur saja bisa menyaksikan pementasan dengan nilai-nilai yang berbudaya. Dimana nilai-nilai tradisi tetap dipertahankan dan tetap aktual dalam kemasan kekinian yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai estetika dan bersumber dari kebudayaan bangsa. Mudah-mudahan kita akan terus mewarisi budaya ini sebagai anak bangsa masa kini yang terus bertransformasi sesuai dengan pengalaman masa yang terus berubah. Sehingga keindahan budaya bangsa akan selalu mendapat tempat ditengah gemerlapnya dunia hiburan masa kini.

Advertisements

5 thoughts on “[Liputan] Padusi, Kisah Legenda Wanita Minang dalam Panggung

  1. eh busyet…temen gw ini sudah nongkrong aja di Jakarta padahal kemarin baru gw baca liputannya dari Gunung. Ada dimana-mana kayaknya..bener-bener udah jadi urang awak nih..semangat bener kalo sudah minang maimbau..ajak-ajak donk kalau ada acara beginian

  2. Mantap Dani!
    Konsisten terus menonton pagelaran budaya terutama Minang, lebih Minang dari anak muda Minang-nya sendiri. Terima kasih tulisan liputannya, Dan. Semoga akan ada lagi pagelaran serupa 🙂

  3. Keinginan untuk menyaksikan langsung Pagelaran PADUSI sedikit terbayar dengan adanya liputan langsung sanak Asriel, setelah membaca tiga kisah diatas, anganku sedikit melayang kemasa puluhan tahun silam, masa kecil dengan kehidupan kampung di Ranah Minang, siang hari sekolah, malam hari mengaji di surau, dan malam yang paling ditunggu tunggu adalah malam Minggu, karena malam itu adalah malam panjang, segala rutinitas pun diliburkan, termasuk mengaji, tampa siaran tv (karena tv waktu adalah barang mahal, dan siarannya pun hanya TVRI ), ataupun hiburan lainnya,

    Akhir pekan di isi dengan berbagai kegiatan di sasaran (istilah ‘sanggar’ di Minangkabau), ada latihan pencak silat, tari piring, pidato adat, dan yang paling disukai oleh anak-anak kecil seumuranku waktu itu adalah mendengarkan ‘Kaba’ yang di ceritakan oleh tetua kampung, ketiga cerita di atas pernah kudengar waktu itu, dan berbagai cerita berlatar Minangkabau tempo dulu, karena cerita ini sangat panjang, seringkali pula dibuat berseri, dan dilanjutkan lagi pada malam minggu berikutnya, seringkali hari Senin masuk sekolah kami pun menceritakan cerita tsb ke teman2 lainnya yang tidak ikut bergabung di sasaran, karena sering dengar cerita, banyak teman teman sekolah dari desa lainnya yang rela menginap di rumah dekat sasaran hanya karena ingin mendengar langsung ceritanya,

    Lho…, kok jadi cerita masa lalu ya…heehe.
    tp sekarang semua itu hanya tinggal cerita…, tak ada lagi ‘sasaran’ yang tersisa dikampungku saat ini…

    1. wah hebat bana cerita masa lalu sanak ko. Jadi terbayang suasana tempo itu yang penuh kesederhanaan. Masa sih nggak tersisa lagi kegiatan di sasaran? Jan sampai punah kasihan beko anak cucu cuma punya cerita…wak baru tahu kalo sanak pernah baraja silek..ayo fight bareng? #halah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s