halofit4
Nobody stops until they reach the Finish Line. Foto by Stevens Onsoe

Saya kadang masih suka berfikir mengenai hobi baru saya. Kenapa saya senang berlari akhir-akhir ini? Jawaban pertanyaan ini senantiasa terjawab saat akhir pekan kemarin berhasil menuntaskan rekap race 100 km dan  finish dalam waktu 57 menit 39 detik di even race yang bertajuk Halo Fit Run 10K minggu (9/6) kemarin. Saya betul-betul merasa ada kenaikan yang signifikan dalam durasi dan juga endurance.Nyaris hampir satu jam walaupun dalam race 10K sebelumnya saya senantiasa kesulitan menempuh waktu finish kurang satu jam. Padahal kemarin start ketinggalan dan join barengan dengan kelompok di kategori  5K di barisan terakhir.Its the reason why finally i can run fast!!!

Satu hal yang saya ingat saat tahu tertinggal dengan kategori 10K lainnya dan terus menerus memotivasi dengan terlihat semangat tinggi dan berlari kencang ingin menyusul peserta lainnya. Alhamdulillah bisa menyesuaikan pace dengan kecepatan rata-rata awal sekitar 5 min/km. Mungkin ini yang membantu saya menyelesaikan finish 10K dengan waktu kurang dari satu jam. Kendatipun pada KM pertengahan nafas saya seperti susah untuk dikendalikan ingin berhenti berlari dan rasanya ingin melanjutkan dengan berjalan. Namun pikiran lain tiba-tiba datang dan sayang rasanya harus kalah sebelum finish.Committed to going the distance. Ya sudah saya lawan rasa capek dengan terus berlari namun menurunkan kecepatan bahkan di KM 8 menuju KM 9 pace saya buruk sekali yaitu 8 min per KM.

Ada yang sempat bilang bahwa pace akan meningkat sekitar 10% dalam 4 kali pola latihan dengan jarak tempuh yang sama. Saya betul mengakui itu. Artinya ada potensi dalam kemampuan saya berlari yang belum saya maksimalkan sampai nantinya saya bisa sampai ditahap saturated. Di event yang berjarak 10K dua minggu sebelumnya catatan waktu saya cuma bertahan di 1 jam 10 menit. Sampai sekarang suka bertanya kenapa harus ada angka 10 menit dibelakangnya? Padahal sebelum pertandingan saya berusaha untuk berlatih dengan jarak tempuh yang lebih sedikit dan menimalisir resiko seperti cidera otot dan latihan kekuatan.

Namun rupanya hasilnya baru dirasakan kemarin.Otot yang menegang pada saat MandiriRun (26/5) di sekitar paha sudah pulih. Terlihat paha bagian bawah harmstring sudah tidak kaku. Tampaknya otot baru disekitar paha sudah menyatu dengan otot lainnya.It all comes down to proper strength and conditioning. Saya cukup senang dengan kondisi kaki yang bisa diajak berlari lagi.Tampaknya The Word is Out. Pengen untuk mengubah pola latihan dengan mengikuti berbagai plan.Strength training has now secured its rightful place in my running training plan.

Sering merasa iri dengan kemampuan pelari amatir yang mengikuti racing bersama-sama yang tampaknya tidak mengalami kesulitan dalam menempuh jarak 10K dengan waktu yang diatas rata-rata bukan sebagai atlit atau elite. Kadang suka mikir What does it mean to be “strong” as a runner? And how do I know if I’m strong enough? Saya yakin mereka mampu melakukan itu karena sudah terbiasa dan lebih lama berlari dibandingkan saya. Sehingga seperti yang saya alami pada saat Halo Fit Run kemarin sedikit demi sedikit waktu tempuh saya mengalami kenaikan yang berarti walaupun sedikit. Saya merasakan perubahan mental dalam berlari untuk tidak mau berhenti sebelum mencapai garis finish. I feel More and more some form of strength and conditioning and enjoy the benefits of “feeling stronger” when i hit the road.

Ibu Mia yang terus berlari di usia senja
Ibu Mia yang terus berlari di usia senja Foto Rizki Adam

Saya percaya bahwa ini adalah hasil dari proses berlari yang selama ini saya lakukan. Akan ada perbaikan setiap saat dan akan ada jawaban dari setiap pertanyaan yang sering saya ajukan dalam berlari. Termasuk jawaban ketika saya harus mengalami cidera otot, tegang, pikiran yang melemahkan bahkan segala hal barrier  yang harus ditaklukkan untuk memperoleh hasil yang kita inginkan kelak.Saya banyak baca literatur dan diskusi dengan pelari lainnya untuk memperkaya kemampuan saya dalam berlari. Semuanya memberikan penjelasan yang berbeda-beda. Dan yang mengetahui badan kita hanyalah diri sendiri sehingga akan lebih baik jika kita belajar juga ke kondisi badan sendiri agar tahu batasan badan. Everyone does something a little different, and everyone has an argument for why their version of running is superior to the rest.

Yup tulisan saya kali ini tidak mengomentari event yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Walaupun yang saya tahu masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam kegiatan lari yang baru pertama kali diadakan. Namun secara keseluruhan banyak peserta yang berpartisipasi dan merasakan ephoria berlari dijalanan Jakarta dalam car free day menjadi pengalaman yang menyenangkan. Bandingkan jika kita berlari sendiri akan ada sedikit perbedaan semangat bila kita berlari bersama-sama dalam race. Seolah-olah mengatakan pada yang lain bahwa “Roads are your Friend”.My Friend used to always say this to me before races and difficult training sessions that involved rolling terrain. Bahkan setelah mencoba satu race kepengen mencoba tantangan jalur lari lainnya seperti cross country, marathons, (and now trail ultras), I hear that statement as positive self talk in my mind, although it is slightly modified to “Hills/Uphills are waiting you as your friend.” hehehe

Finally Finish and Can beat less one hour in 10K..
Finally Finish and Can beat less one hour in 10K.. Foto Suryanda Stevanus

dan percayalah  I thought the exact same thing when I crossed the finish line after my first race, and at the finish of my first fast race : “Whoa, I’m dizzy” and, more importantly, “I want to do that again!”

Think Smart
Race Hard
and Run Happy.
~@asriel1606

Advertisements