tumblr_med7unBXXc1qbseoxo1_500

“kamu masih memikirkannya?”

pertanyaan itu tiba-tiba datang dari Ayah seketika saat kami sedang duduk bersama di sebuah taman kota. Hanya kesunyian sebelumnya yang terjadi diantara kami berdua sembari menyaksikan beberapa orang tengah berlalu lalang atau berolahraga. Tempat ini menjadi lokasi yang menyenangkan untuk berdiam diri menurutku tanpa harus banyak mengeluarkan kata-kata.

kemudian saya tersenyum untuk menjawab pertanyaannya itu sembari memperlihatkan deretan gigi saya mengembangkan mulut untuk membuatnya yakin bahwa pertanyaannya sudah terjawab. Kemudian saya arahkan pandangan matanya ke depan kembali tanpa harus membuka kalimat lanjutan. Ayah sudah cukup mengerti bahwa saya tak ingin lagi menceritakan masa lalu saya.

Entahlah, saya masih suka memikirkan masa lalu. Bukan ingin kembali ke masa lalu! Cuma kadangkala masa lalu itu datang begitu saja. Seperti tak percaya akan keajaiban hidup  bahwa semuanya sudah berlalu, meninggalkan kenangan-kenangan berupa cerita yang bisa kita simpan rapat-rapat dalam hati atau disharing tergantung bagian mana yang ingin kita buka atau tutup.

Sepertinya saya yakin bahwa sejatinya hal yang paling terjauh dari manusia adalah masa lalu. Entah itu kejadiannya sudah berpuluh-puluh tahun, setahun, sebulan, satu hari, bahkan satu jam yang lalu seperti percakapan saya dan Ayah sebelumnya adalah masa lalu yang tak akan bisa terulang kembali. Bagaimanapun caranya, kita senantiasa melalui masa-masa yang segera berlalu.

“Maka berdirilah sejenak nak, rasakan angin yang menerpa wajah kita”

“buat apa?”

“agar kamu yakin segala sesuatunya itu ada dan memang sudah harus ada buat kita!”

“Maksudnya?”

Lantas Ayah tersenyum dan bilang kembali bahwa ada udara di sekitar kita. Sembari mulai berdiri dan kemudian mendongakkan kepala secara bersamaan tangannya mengembang seperti merasakan kebebasan tanpa mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang dan penasaran dengan apa yang ia lakukan.

Saya biarkan Ayah seperti itu terus tanpa harus berkata-kata dan kemudian secara perlahan mata ayah mulai terpejam sembari bibirnya terus mengembang tersenyum. Tampaknya Ayah mulai menikmati caranya merasakan udara atau bisa saja imajinasi Ayah sedang meningkat membayangkan dirinya terbang ke awan. Saya cuma menunggunya dan terus tak peduli apa yang dia lakukan.

“kenapa ada angin?”

sebuah pertanyaan kembali sesaat setelah Ayah menyelesaikan adegan yang menurut saya aneh. Aneh? Mungkin tidak! Cuma agak sedikit berlebihan dan terlihat konyol menurutku. Saya benar-benar tak bernafsu untuk mengobrol panjang lebar dengan Ayah. Hanya ingin diam dan diam. Tapi, Ayah tampaknya tak mempedulikan keinginanku. Malahan kemudian merangkul pundakku dengan tangannya sepertinya orang-orang dikejauhan memandang bahwa kami akur dan bersahabat sebagai seorang anak dan Ayah yang lintas generasi satu sama lain.

tumblr_mpk0p05TX71s4uvayo1_500

“kamu masih memikirkannya?”

Pertanyaan yang sama kembali terlontar. Saya masih mencoba berbaik hati untuk tersenyum untuk kedua kalinya dengan pertanyaan yang seharusnya sudah terjawab tadi.

“tapi kamu belum menjawab pertanyaan Ayah?”
“yang mana?”

“kenapa ada angin?”

“agar manusia bisa hidup!” jawab saya sekenanya

“tepat sekali, jawaban kamu benar nak!”

kemudian saya pandangi lelaki paruh bayah dihadapan saya itu. Pasti ada makna lain yang ingin dia sampaikan. Seketika bola matanya bercahaya bagaikan menemukan mutiara yang sudah lama ia cari. Wajahnya cerah dengan sekumpulan keriput yang mulai menggoreskan di setiap lekukan mata, pipi dan bibir. Namun wajah ini yang telah berpuluh-puluh tahun saya pandangi tak pernah sedikitpun membosankan untuk dipandangi. Ayah saya bangga jadi anakmu, kalimat indah itu mudah-mudahan ia dengar walaupun terlontar dalam hati saya yang tak pernah terdengar oleh inderanya.

“kamu tahu nak, betapa beruntungnya kita memiliki Angin. Bisa menghirup udara setiap saat. Setiap saat kita selalu berada dalam udara. Bahkan kita lebih sering tak menyadari keberadaannya. Padahal dia seringkali menyapa kita melalui hembusan angin yang menerpa wajah kita”

kemudian saya mulai merasakan hembusan angin itu bersemilir di tengah-tengah taman kota. Mencoba memaknai kehadirannya melalui penglihatan nyata saat beberapa pohon bergoyang, rumput-rumput menari, dedaunan yang kering meliuk-liuk dipermainkan angin, dan beberapa benda ringan seperti kertas, plastik dan lainnya bergerak simultan seperti sebuah keniscayaan bahwa angin tengah menyapa mereka. Tak terlihat bentuknya namun ada keberadaannya. Kadang lupa bahwa saat ini kami tengah bernafas menghirup udara.

“inilah hidup nak! ada banyak pertanda  di dunia ini yang sudah diberikan oleh Allah kepada manusia namun bisa dirasakan oleh mereka yang mau memikirkannya”

“lantas kenapa Ayah menanyakan hal yang sama dua kali?”

“apa hubungannya dengan semua ini?” tanya saya dengan dua pertanyaan.

“tapi kami belum menjawabnya kan pertanyaan Ayah. Apakah kamu masih memikirkannya?”

kemudian dia tersenyum melihat saya yang cuma diam, tampaknya Ayah mulai sadar bahwa saya tak akan menjawabnya pertanyaan itu.

“Begitulah kehidupan nak. Ada yang kita tahu dan ada pula yang tidak harus kita ketahui. Seperti angin yang ada disekitar kita saat ini. Mungkin saja banyak yang tidak tahu kalau disekitarnya ada udara yang melindunginya dari kehabisan nafas. Sama halnya seperti Tuhan, ada banyak kejadian yang menimpa kita bukan berarti kehendak kita. Semua sudah ada perencanaan-Nya. Cuma kita kadang tidak tahu dan juga tahu bahwa kejadian itu untuk apa buat kita? Kenapa tidak sesuai dengan harapan kita bahkan membuat kita tersakiti”

kemudian kami terdiam beberapa saat…bayangan masa lalu itu benar-benar sulit untuk dilupakan. Kalau ada mesin super canggih yang bisa menghapus kenangan masa lalu pasti akan saya beli. Rasanya tak enak bila kenangan ini menjadi hantu yang terus menerus datang dan membuat saya merasa bersalah tak bisa berbuat apa-apa.

“mungkin karena Allah memberikan kita semua kesempatan untuk berubah!!!” pernyataan Ayah tiba-tiba seperti menjawab semua hal yang baru saja saya pikirkan. Seolah mengerti jalan pikiran saya yang tengah berjuang untuk mengerti kenapa harus ada kenangan masa lalu yang sedih.

“mungkin karena Allah selalu menyayangi kita semua. Kenapa tiba-tiba kita harus berpisah dengan orang yang kita cintai. Padahal bisa jadi dia tak benar-benar menginginkan kamu. Mungkin karena Allah cemburu sama kita karena tiba-tiba nama orang yang kita cintai lebih sering kamu sebut ketimbang nama Allah yang Maha Mencintai kita”

“berubahlah nak, sedikit demi sedikit kamu bisa. Pintu untuk memperbaiki selalu senantiasa terbuka, selalu, bahkan tak pernah tertutup sedikitpun. Maafkanlah orang yang telah menyakitimu. Bahkan diapun tak pernah sadar bagaimana dia telah menyakitimu. Karena semuanya sudah terprogram secara rinci hal-hal apa saja yang akan menimpamu. Kebetulan saja dia yang terpilih untuk menyakitimu. Doakanlah dia dalam kebaikan agar cukup kamu yang terakhir saja sebagai orang yang dia sakiti sehingga dengan doa Insya Allah ada kejernihan hati untuk melupakan masa lalu”

“yakinlah suatu saat kamu akan mengerti dengan berbekal pemahaman yang baik. Tidak usah buru-buru. Ada masanya nanti kamu akan merasakan suasana yang mengharu biru. Asal bisa kita menyikapinya.

Saya berusaha untuk mencerna penjelasan Ayah sebaik mungkin. Perasaan saya tiba-tiba bergemuruh bagaikan perubahan cuaca yang membuat suasana cerah menjadi mendung sekelebatnya diangkasa bahkan bisa menjadi lebih cepat perubahannya dibandingkan hujan yang turun kemudian cerah. Ah saya mengerti akhirnya beginilah perasaan itu, bisa berubah setiap saat. Namun hati saya tiba-tiba jadi lapang tidak sesak kembali. Saya mengerti bahwa energi lain untuk menjalani hidup ini bukan perasaan semata melainkan energi hati yang mengendalikan perasaan.

“ayah tahu kamu saat ini hati kamu tengah membuncah. Kendalikan itu. Mulailah untuk memiliki hati yang dalam. Tidak ada kesedihan dan kemalangan yang bisa merusaknya. Tidak ada duka nestapa dan luka lara yang bisa mencabitnya.Tidak ada kecemburuan dan iri hati yang membelenggu. Semuanya karena tiada bermakna dengan hatimu yang penuh kebaikan untuk memaafkan dan berlapang dada”

kami berdua tersenyum dan saya pun mulai mengerti. Biarpun sore itu banyak yang berlalu lalang didepan bangku taman yang kami duduki. Namun tidak ada satupun yang tahu bahwa pada saat itu saya tengah memperoleh ilmu baru dari seorang sahabat sejati yang meneduhkan. Kemudian saya berdiri mulai mendongakkan kepala sembari memejamkan mata dan tangan mengembangkan sayap merasakan angin menerpa wajah. Tenang sekali…meski tidak terlihat, tidak bisa dijamah, namun angin senantiasa menyapa.

Wahai Tuhan yang diatas sana. Meskipun Engkau tak terlihat, tak tahu batasnya dimana, tak tahu harus berkata apa. Saya tersenyum bahagia dan sedikit tertawa terkekeh melepaskan beban, takzim karena Tuhan senantiasa menyapa hamba-Nya….

#setahun yang lalu disebuah taman kota

Advertisements