Sekelumit Kisruhnya Pawai Budaya Nusantara 2013


Pernah nggak menyaksikan Pertunjukan Parade/Pawai mobil berhiaskan bunga mawar di Pasadena, Amerika Serikat? Saya sih belum pernah liat langsung cuma via televisi saja. Tampaknya menghibur ya? Saya dulu waktu kecil sempat beberapa kali menyaksikannya terutama ada rasa bangga tatkala negara kita mengirimkan perwakilannya untuk berpartisipasi. Ingin rasanya ada acara parade di Indonesia yang dikemas semenarik acara di Pasadena tsb. Nah sejak saat itu saya mulai menyukai menyaksikan parade apapun. Beruntung di Palembang setiap tahun selalu ada pertunjukan ini. Sehingga saya selalu berkesempatan untuk datang. Yang unik di Palembang pelaksanaan festival parade ini tidak diadakan di jalan maka namanya bukan Festival Mobil Hias melainkan Festival Perahu Hias yang berlangsung di sungai Musi. Senang rasanya melihat puluhan perahu hias dari berbagai daerah kabupaten di Sumsel berpartisipasi termasuk ada dari beberapa instansi yang ada di Palembang.

Nah tahun ini saya ingin sekali menyaksikan parade mobil hias ataupun pawai karnaval budaya di Jakarta apalah namanya. Berhubung selama tinggal di Jakata belum sempat menyaksikannya. Saya sih dapet info kalau sehari setelah pelaksanaan perayaan HUT Kemerdekaan RI selalu ada parade dan berniat ingin menontonnya. Namun teman saya bilang nggak menarik dan melarang saya untuk menonton karena katanya biasa-biasa saja. Bahkan terkesan ga teratur dan kisruh. Jauhlah dari kata menarik dan menghibur kata teman saya tersebut yang pernah menyaksikannya. Saya penasaran..ingin membuktikannya. Masa sih setiap tahun begitu? Nggak ada perubahan. Bukankah teman saya tersebut menyaksikannya lima tahun yang lalu. Pasti sekarang sudah berubah pikir saya. Akhirnya saya ditemani olehnya pergi juga ke lokasi acara. Niatnya cuma ingin membuktikan apakah parade di Jakarta itu menarik sebagai atraksi wisata atau malah membosankan? Paling nggak menghibur seperti Parade di USS Singapura yang sempat saya tonton beberapa waktu lalu.

Beberapa penonton sudah mulai tampak memadati jalan sebelum Pawai dimulai
Beberapa penonton sudah mulai tampak memadati jalan sebelum Pawai dimulai
Sebelum Parade dimulai, jalanan tampak lengang
Sebelum Parade dimulai, jalanan tampak lengang dan beberapa penonton sudah duduk di kiri kanan jalan
Tampak beberapa petugas Pol PP yang berjaga bergerombol
Tampak beberapa petugas Pol PP yang berjaga bergerombol
Jalanan yang lebar tinggal seperti gang sempit karena petugas tidak bisa mengatur penonton
Jalanan yang lebar tinggal seperti gang sempit karena petugas tidak bisa mengatur penonton
masih bisa sedikit demi sedikit dirapihkan barisan penonton
masih bisa sedikit demi sedikit dirapihkan barisan penonton

Hal lainnya yang ingin saya liat adalah mengenai statement selanjutnya dari teman saya yang bilang bahwa orang Indonesia itu sulit diatur? Bukan tidak bisa tapi agak susah katanya begitu. Dia malah mewanti-wanti saya untuk nggak complaint jika melihat banyak orang yang ga tertib, buang sampah sembarangan, menyerobot tempat orang lain, dan lain sebagainya. Saya jawab baiklah saya janji nggak akan kasih komentar apapun. Saya sendiri agak sangsi dengan beberapa ungkapan teman saya tersebut. Namun kemarin kami berdua saat menyaksikan Pawai Budaya Nusantara 2013 membuktikan beberapa kalimat teman saya tersebut.  Saya mulai mengakui bahwa memang terlihat sangat sangat bahkan kesulitan petugas mengatur orang yang ingin nonton supaya tertib, rapi dan teratur. Pawai yang seharusnya bisa dinikmati dengan leluasa dan santai menjadi tidak menarik lagi bahkan males untuk menontonnya. Ada beberapa orang yang terlihat kecewa dan langsung pulang atau melihat ala kadarnya saja. Sungguh saya sendiri bingung dan malu berada ditengah-tengah sebagian besar pengunjung yang datang ke lokasi acara Pawai Budaya Minggu (18/8) sore kemarin. Kenapa mereka begitu susah dan maunya sendiri tanpa mempedulikan orang lain? Apa yang salah ya, pikir saya kemudian?

Jalanan yang lebar cuma bisa dimanfaatkan Parade kurang dari setengahnya..sayang banget!!
Jalanan yang lebar cuma bisa dimanfaatkan Parade kurang dari setengahnya..sayang banget!!
Lihat betapa sempitnya jalanan untuk pawai akbar ini??
Lihat betapa sempitnya jalanan untuk pawai akbar ini??

Acara yang berlangsung setahun sekali ini boleh dibilang menarik menurut saya karena menampilkan banyak kesenian dari kontingen beberapa propinsi di Indonesia  dan tentu saja sudah berpuluh kali diadakan di lokasi yang sama. Namun sayangnya pengemasan acara terutama yang di sepanjang jalan protokol tidak diperhatikan sama sekali oleh panitia. Yang bagus konsepnya mungkin yang didepan Istana Negara karena disana dijaga oleh banyak aparat keamanan mulai dari paspampres, polisi, tni dan Polisi Pamong Praja sehingga berlangsung tertib dan rapi. Namun karena saya tidak bisa masuk ke Istana Negara akhirnya cuma bisa dapet di pinggir jalan saja tepatnya di jalan Medan Merdeka Barat. Nah dari sini rupanya minat saya untuk menyaksikan pawai budaya ini sedikit melempem setelah melihat betapa sulitnya petugas mengatur penonton yang datang. “Maklum gratisan jadi ya susah diatur”, kata temen saya menambahkan.

Hmm ada ide bagaimana cara membuat mereka ini teratur??
Hmm ada ide bagaimana cara membuat mereka ini teratur?? Jalanan sudah semakin sempit

Pada mulanya saat menuju lokasi  jalanan menuju Jalan Merdeka Utara dan Merdeka Barat sudah ditutup. Otomatis saya harus cari jalan alternatif memutar ke Menteng dan parkir di Stasiun Gambir. Dari jauh sudah terdengar suara-dentuman marching-band yang membahana dan menarik orang untuk segera datang berkunjung. Saya sudah antusias dan berfikir pasti acaranya seru karena tahu sendiri kan jalanan disekitar Monas kan lebar-lebar dengan pedestrian yang lebar juga. Cukuplah buat menampung jumlah penonton yang membludak di sepanjang kiri atau kanan pedestrian dan melihat parade budaya di Jalanan dengan leluasa. Saya pun akhirnya dengan sedikit berjalan kaki sampailah kami di lokasi acara..masih ada sekitar setengah jam sebelum acara resmi dibuka. Sepanjang jalan dari pintu keluar Monas Utara ke arah Istana Negara berjejer peserta pawai sesuai dengan urutan dengan aneka macam pakaian warna-warni tradisional, mobil hias, manekin, dan atribut pawai lainnya yang membuat rasa antusias dan mulai mencari posisi yang pas dibeberapa lokasi karena tidak sabar untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Sebelum jam tiga sore, jalanan di sekitar Jalan Medan Merdeka Barat terlihat lengang dan sudah steril dari kendaraan. Penumpukan penonton hanya terjadi di depan halaman Istana Negara dan lapangan Monas bagian dalam tempat peserta parade bersiap-siap. Jadi saya dan teman saya pun sedikit gembira karena bisa mendapatkan lokasi untuk menyaksikan pertunjukan yang belum terlalu rame di depan gedung RRI. Memang sudah tampak beberapa penonton lain yang datang bersama keluarga disepanjang trotoar. Semuanya masih rapi dan tertib. Jalanan sudah lengang dan beberapa petugas Pol PP sudah berjaga-jaga baik disisi kiri atau kanan jalan dekat trotoar. Saya sudah membayangkan pertunjukan akan berlangsung baik dan lancar. Posisi saya dan teman saya pun bagus yaitu tempat duduk halte otomatis bisa dengan nyaman menonton pertunjukan pikir kami kemudian.

Pedestrian yang semestinya tempat penonton berdiri dan duduk hanya tinggal beberapa orang saja
Pedestrian yang semestinya tempat penonton berdiri dan duduk hanya tinggal beberapa orang saja

Pas Jam 3.15 menit, bunyi suara musik tradisional terdengar dari arah Istana Negara. Tanda parade sudah dimulai. Mulailah banyak orang yang memadati jalanan. Namun kali ini saya dan teman saya agak kaget. Kenapa para penonton ini tidak mulai bersiap-siap mencari tempat duduk dipinggiran pedestrian jalan. Namun mulai memenuhi jalanan dengan secara acak melihat mengarah ke Istana. Petugas Pol PP yang tadi sempat saya lihat berdiri di sepanjang jalan pun tampak bergerombol sama halnya dengan penonton ditengah jalan. Sama sekali tidak ada upaya untuk menertibkan penonton yang sudah tumpah ruah dijalan. Saya sempat bilang ke petugas kenapa tidak mengarahkan penonton ke tepian. Biar peserta parade leluasa dan tidak terhalangi penonton. Cuma petugas ga bisa berbuat banyak, sesekali memang terdengar suara petugas agar penonton menepi. Namun karena tidak dibekali dengan pengeras suara ya sama saja. Sedangkan penonton sudah mulai banyak datang dan berjejal memenuhi ruas jalan bukan pedestrian jalan. Dan sama sekali tidak membentuk garis penonton.

masih lumayan rapi penonton masih tertib dan bisa leluasa melihat parade pembuka
masih lumayan rapi penonton masih tertib dan bisa leluasa melihat parade pembuka
Mobil hias peserta Pawai pertama dari Jatim keluar dari halaman Istana Negara
Mobil hias peserta Pawai dari Jatim keluar dari halaman Istana Negara
Mulai terlihat gelagat ga rapi gara-gara kontingen kedua lama keluar, penonton ga sabaran masuk ke jalanan
Mulai terlihat gelagat ga rapi gara-gara kontingen lama keluar dari istana, penonton ga sabaran masuk ke jalanan
kacau kacau kacau penonton sudah membaur dengan peserta pawai
kacau kacau kacau penonton sudah membaur dengan peserta pawai
lihat?!! Betapa penonton ini tidak tahu dimana letak dia harus duduk menyaksikan pawai???
lihat?!! Betapa penonton ini tidak tahu dimana letak dia harus duduk menyaksikan pawai???
alat musik hanya aksesoris peserta pawai karena tidak bisa dimainkan gara-gara penonton melebur dgn peserta pawai
alat musik hanya aksesoris peserta pawai karena tidak bisa dimainkan gara-gara penonton melebur dgn peserta pawai

Dari yang saya amati selama setengah jam menyaksikan Pawai Budaya Nusantara ternyata tak membuat saya betah berlama-lama berada disana. Memang harus seperti inikah pergelaran pawai di Indonesia itu? Saya senantiasa bertanya-tanya dan terlibat diskusi dengan teman. Padahal saya lihat menyaksikan atraksi berbagai kontingen dari seluruh Indonesia ditengah jalan raya bersama masyarakat itu menyenangkan asalkan tertib, rapi dan tidak banyak gangguan. Belum lagi melihat puluhan fotografer amatiran yang sangat-sangat menganggu pemandangan. Mereka ini bak seorang wartawan hilir mudik disepanjang pertunjukan entah diantara penonton, ditengah jalan bahkan ada yang masuk dalam barisan parade bergabung dengan peserta pawai. Sungguh menganggu dan tak beretika hanya sekedar ingin mendapatkan foto namun melupakan hak penonton lainnya yang ingin menonton saja.

mulai kisruh banyak penonton yang sudah tak berada di jalurnya melebur dengan peserta
mulai kisruh banyak penonton yang sudah tak berada di jalurnya melebur dengan peserta pawai
anak kecil ini masih setia duduk ditempat semula tak ikut ke jalanan menyaksikan dari jauh
anak kecil ini masih setia duduk ditempat semula tak ikut ke jalanan menyaksikan dari jauh
Fotografer amatiran mulai nggak ada etika mengambil foto dari manapun mereka mau
Fotografer amatiran mulai nggak ada etika mengambil foto dari manapun mereka mau
Para fotografer ini bukan resmi dari panitia tapi mereka bebas masuk ke dalam parade
Para fotografer ini bukan resmi dari panitia tapi mereka bebas masuk ke dalam parade
semua orang ingin mendokumentasikan momen pawai ini
semua orang ingin mendokumentasikan momen pawai ini

Belum lagi jarak antara satu kontingen dengan kontingen lainnya berjauhan. Kadangkala kontingen sebelumnya sudah jauh meninggalkan penonton sedangkan kontingen lainnya belum juga muncul-muncul membuat jalanan yang sudah agak sedikit terbentuk barisan penonton menjadi lebur lagi dengan penonton yang tidak sabar menunggu giliran pertunjukan berikutnya berdiri ditengah-tengah jalan. Ada lagi kejadian saat salah satu kontingen dari DKI Jakarta  yang membuat patung Ondel-Ondel dengan ukuran besar dan kontingen DI Yogyakarta dengan replika patung Tugu yang tinggi sempat tersendat tidak bisa lewat karena terhalang oleh kabel yang melintas membentang di jalanan. Ujung-ujungnya pertunjukan jadi terganggu dan petugas pengaman tampaknya memang tidak dibekali untuk mengantisipasi gangguan tersebut. Cuma berdiri diam tanpa melakukan upaya apapun. Aneh memang kenapa pesta tahunan ini selalu tidak mengantisipasi hal-hal kecil tersebut.

Peserta sudah tidak sabaran menunggu kontingen berikutnya
Peserta sudah tidak sabaran menunggu kontingen berikutnya
Maaf ya mbak? Jalanannya jadi sempit
Maaf ya mbak? Jalanannya jadi sempit
ini momen saat patung ondel-ondel tidak bisa melintas gara-gara terhalang kabel
ini momen saat patung ondel-ondel tidak bisa melintas gara-gara terhalang kabel
Ya karena penonton sudah tak terkendali akhirnya petugas pun ikutan ngambil foto
Ya karena penonton sudah tak terkendali akhirnya petugas pun ikutan ngambil foto
inilah yang terjadi akhirnya...pasrah deh liat pawai kali ini
inilah yang terjadi akhirnya…pasrah deh liat pawai kali ini
Bingung mau lewat? Didepannya banyak orang yang menghalangi
Bingung mau lewat? Didepannya banyak orang yang menghalangi
Nggak bisa nari..ya sudahlah
Nggak bisa nari..ya sudahlah
Pedagang K-5 yang tentunya selalu ada dimana ada keramaian
Pedagang K-5 yang tentunya selalu ada dimana ada keramaian

Setelah kejadian yang lucu tersebut saya akhirnya setuju dengan ungkapan teman saya sebelumnya. Memang perlu kerja keras dan usaha yang maksimal dari semua yang terlibat untuk benar-benar memperhatikan sedetil mungkin jika ingin menggelar suatu pertunjukan. Pawai Budaya Nusantara yang saya saksikan  kayaknya cuma pertunjukan numpang lewat saja sama halnya dengan pengamen atau topeng monyet yang sering keluar masuk kampung. Padahal kontingen sudah terlihat maksimal mau mempersembahkan sebuah pertunjukan dengan mobil hiasnya, tarian, dan beberapa alat musik namun sayangnya tidak ditampilkan di jalanan cuma numpang jalan menggunakan atribut tersebut karena penonton yang tidak tertib. Atau memang karena acara ini bukan ditampilkan untuk rakyat cuma buat Pak Presiden saja dan undangan yang memenuhi kursi di Istana Negara. Sehingga pas keluar dari Istana, para kontingen peserta Pawai Budaya Nusantara ini jadi nggak menarik dan sama sekali nggak menghibur.

Memang saat ini nonton parade di LN jauh lebih nyaman dan rapi..kapan di Indonesia begini?
Memang saat ini nonton parade/pawai di LN jauh lebih nyaman dan rapi..kapan di Indonesia begini?

Ya sudahlah mudah-mudahan tulisan ini ada yang baca. Agar acara tahunan seperti ini tidak mubazir dan terkesan seadanya sebagai pelengkap perayaan kemerdekaan RI di tahun-tahun selanjutnya. Pengennya sih kalau memang mau dibuat sebagai salah satu agenda rutin wisata di sepanjang jalan sudah dihiasi dengan beberapa panggung dan balkon tempat duduk pengunjung seperti di Pasadena. Ada sih balkon pengunjung yang dibuat tapi letaknya di depan halaman istana dan cuma sedikit. Atau paling nggak sudah ada beberapa petugas yang berdiri standby mensterilisasi jalanan tempat peserta pawai berparade dengan memasang pembatas yang memisahkan jarak penonton dan jalanan agar rapi dan teratur. Kemudian para fotografer amatiran tidak dibolehkan memasuki arena tempat peserta pawai berparade, mereka hanya boleh mengambil gambar dari area penonton saja. Jalanan tempat pawai berlangsung sudah sesuai dengan tema parade tanpa ada kabel-kabel yang melintas dan menganggu atribut parade. Apa lagi ya? ah saya sih memang benar-benar tak terhibur cuma berharap bila ajang ini bisa berbenah lebih baik sehingga bila sudah tertata dengan baik saya yakin Pawai Budaya Nusantara ini menjadi ajang tahunan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dan berkesan. Ah Semoga saja…

Advertisements

11 thoughts on “Sekelumit Kisruhnya Pawai Budaya Nusantara 2013

  1. haha parah ya sob..gw liat foto-fotonya aja gemes banget liat kelakuan orang-orang kita yang ngga bisa diatur. Menurut gw sih salahnya petugas kenapa ga ada jalur pembatas antara penonton dan peserta karnaval seperti yang difoto terakhir lo pas di LN itu kan ada tali warna kuning sehingga penonton kita sadar tempat dia menonton. Gw sih bisa nebak pasti awalnya dibuat oleh para fotografer amatiran itu yang suka bikin ga jelas mirip dengan kisah pas upacara waisak di Borobudur yang rusak gara-gara penonton

    1. haha kayaknya dendam banget sama fotografer dirimu itu, secara yang kemarin kehujanan pas di waisak di Borobudur ya sob…iya sih kalau dilihat emang penyebab utama banyaknya orang yang mau ambil foto entah pakai SLR maupun kamera biasa

  2. Mas Asril,

    Waaah, barengan donk kita nonton-nya (maksud saya berada di TKP yang sama dengan waktu yang sama juga). Kisruh sih karena banyak yang nonton tapi pada nggak ngerti cara jadi penonton yang baik aja. Tapi untuk yang penari Papua itu, mereka sempat menari kok… Walaupun emang jadi nggak terlalu bagus, karena suara nyanyian iringan penyanyi nggak kedengeran…

    Sabar emang ya, kalo mau nonton pawai di Indonesia, jangan ngarep kaya di LN.

    Salam kenal, mas… 🙂

    1. Iya mbak saya sempet denger dari jauh aja tuh penari Papua katanya menari tapi setelah itu mereka jalan. Ya mungkin karena petugasnya kurang kali sehingga pawainya berantakan.

      Salam kenal kembali Mbak Mona

  3. speechless…sumpah kesalahan ini pertama dari petugas yang tidak memberikan pengamanan jalannya acara sehingga penonton jadi liar..kedua para fotografer amatiran yang sering merusak suasana seolah-olah paling jago motret..beli tele donk? ya begitulah ajang tahunan yang ga ada perubahan sama sekali bahkan males liatnya

  4. Mas Asril, sedikit berbagi, kebetulan saya adalah official dr salah satu peserta tamu dr BUMN, dgn urutan terakhir dan saya ikut bersama barisan sesuai rute yg ditetapkan panitia. Memang betul apa yang diuraikan di atas, kami sebagai peserta mengalami kesulitan, karena hampir di sepanjang jalan, penonton dan fotografer amatir tdk dapat mengendalikan diri. Sejak awal, di luar skenario, kami mengakali hal tersebut dengan memanfaatkan tali pembatas (merah putih) dan kami bentangkan di sebelah kiri dan kanan barisan, mulai dari bbrp meter di depan barisan hingga belakang barisan. Sedikit kesulitan mengatur penonton, tapi bagi kontingen kami hal ini bukan menjadi masalah besar. Saat masuk (titik 1) istana merdeka, kami tdk menemukan kendala utk atraksi, namun di titik 2 (dkt patung arjuna wijaya) dan titik 3 (balaikota), kami nggak bisa apa2, hanya konser saja (suara musik tanpa display). Terdengar ada penonton kecewa dan request agar kami ttp bisa display, tapi saya kembalikan lagi ke penonton “maaf pak, bu, kami nggak memungkinkan utk display jika space-nya sempit seperti ini”. Penonton pun tdk dapat bergerak lagi karena sudah sangat padat.

    Mungkin ke depannya panitia bisa memberikan pembatas agar penonton bisa paham, sehingga dgn adanya pembatas, semoga penonton bisa diatur, dan sadar bahwa ini demi kebaikan bersama. Pada foto parade di USS di atas, ada pembatas, jd penonton paham. Bagi saya, kuncinya ada di panitia dan aparat, bagaimana ketegasan dan konsistennya thdp apa yang telah ditetapkan. Masalah mental orang Indonesia yang sulit diatur, menurut saya tdk semua seperti itu. Saya tdk mau menjelek2kan orang indonesia sulit diatur, saya tetap optimis akan mungkinnya dilakukan perbaikan. Orang Indonesia haus hiburan, capek dengan kondisi carut marut bangsa, jadi mungkin mereka perlu hiburan baru, gratis, dan momennya bertepatan dgn perayaan HUT RI.

    Mei lalu, saya menghadiri festival “Sanja Matsuri” di Tokyo, Jepang, pesertanya terdiri dari seluruh distric yang ada di Tokyo. Festival ini sangat ramai, tanpa pembatas jalan yang memisahkan penonton dan jalur peserta, penonton yang hadir dari penjuru dunia, dan bbrp penonton serta fotografer amatir terlihat ikut masuk ke jalur peserta. Bedanya di Sanja Matsuri, peserta tdk melakukan atraksi sehingga tdk membutuhkan space tertentu, hanya mengarak sambil sesekali berteriak memberi semangat, mengangkat semacam “ogoh-ogoh”( kalau di Bali), dan mendorong gerobak yang telah dihias, tdk ada yg menggunakan mobil hias.

    Mungkin itu yang bisa saya share.Kita semua berharap pawai ini ke depannya akan lebih baik. Berhenti membanding2kan negara kita dengan negara luar, Jika inginkan perubahan, mulai dari diri sendiri dan hal sekitar. Semoga artikel Mas Asril di atas bisa menginspirasi semuanya, demi perbaikan negara kita yang tercinta ini.

    Terimakasih.. 🙂

    1. wah terima kasih mbak Tetita sharingnya sangat membantu dan memberikan pemahaman tambahan dari sisi peserta. Iya tulisan saya hanya dari sisi penonton saja kebetulan saya tidak sampai selesai nontonnya karena terlanjur kecewa. Apa yang mbak sampaikan itu juga yg menjadi pemikiran saya terutama ketegasan aparat. Saya juga baru pertama menonton pawai di tahun ini. Saya setuju dgn pendapatnya mudah2an kelak pertunjukan ini benar-benar diperhatikan bukan hanya yg di Titik 1 Istana saja melainkan semua titik. Sehingga menghibur semua penonton yg hadir. Terima kasih dan salam kenal kembali.

  5. wah baca tulisan ini membuat saya miris sekaligus geli melihat tingkah pola para penonton. Ga bisa disalahkan penonton juga sih. Kayaknya karena memang dibiarkan begitu oleh petugas yang ada. Hal utama menurut saya penyebab kekisruhan ini karena tidak ada aturan yang jelas mengenai batas teritorial buat penonton dan peserta parade. Memang perlu dibuat pembatas entah tali ataupun atribut lainnya seperti foto mas terakhir di USS. Petugas Pol PP semestinya juga dibekali aturan mengenai parade ini. Secara umum mungkin panitia cuma terkonsentrasi di Istana Negara padahal rakyat juga butuh hiburan sehingga semua bisa dipikirkan agar hal seperti ini tidak terjadi. Saya yakin jika petugas yang bertugas cuma disuruh piket saja tanpa tahu mau ngapain saat bertugas. Melihat foto2 diatas kesannya cuma asal ada aja..yo wes saya sendiri pengen banget nonton pawai..eh menurut saya pawai yang bagus di Indonesia dan rapi itu adalah Jember Fashion Carnival dan Festival Musi Palembang..selebihnya saya belum pernah tahu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s