laut

Tengah malam..ya baru saya lihat jam sudah menunjukkan tepat pukul 00.00 wib. Bertepatan pas banget dengan saat saya mulai menuliskan kalimat pembuka di tulisan ini. Entahlah pengen nulis saja, menuangkan segala hal yang sempat terpikirkan sebelum tidur tadi. Nyatanya saya nggak bisa tidur dan bingung harus ngapain? Niatnya pengen baca buku, kemarin sempat ke Gramedia dan membeli dua buah buku baru tentang biografi Buya Hamka dan Novel Tadarus Cinta Buya Pujangga, sebenarnya kedua buku yang saya beli bercerita tentang tokoh yang sama yaitu H. Abdul Malik Karim yang kelak bertransformasi menjadi nama HAMKA. Jujur saya telat mengenal sosoknya, baru kepengen tahu saat sering hadir ke pengajian di Al-Azhar Kebayoran Baru dan melihat rumahnya masih ada kokoh berdiri.Namun keinginan untuk membaca kok jadi melempem begini ya..kadang saya mengalami kondisi seperti kekurangan ruh untuk bergerak. Terlalu capek mungkin dengan rutinitas kantor..saya senantiasa menganalisa penyebab saya tak begitu semangat. Selalu saja kantor yang jadi biang keroknya.

Ujung-ujungnya saya selalu membuka laptop dan pengen nulis saja. Soalnya mau ngobrol sama siapa tengah malam begini? Nulisnya sambil dengerin album Edcoustic, album Hits 1 Dekade..bikin haru suasana hati terlebih saat mendengarkan lagu yang berjudul “Sebiru hari ini”. Yah entahlah..kok beberapa bulan terakhir mulai menyukai lagu-lagu milik duo Bandung ini. Tapi entahlah lagu berjudul lagu “Sebiru hari ini” begitu menghentak-hentak di beberapa kalimat dan buat saya mulai mereka-reka betapa indahnya lirik dalam lagu tersebut. Tentang perpisahan namun intinya tak ada yang benar-benar berpisah karena hati-hati telah menyatu dalam illahi. Begitu pesan pendek yang saya tangkap.

Kata “biru” itu senantiasa dikonotasikan dengan kalimat yang penuh ‘sukacita’ atau kondisi ‘gembira’ atau bisa juga ‘bangga’ ah kata yang pas menurut saya buat mendeskripsikan kalimat ‘sebiru hari ini’ adalah ‘bangganya hari ini’ kalaupun salah dalam mengartikan toh kita bebas menafsirkan sesuai dengan pemahaman masing-masing. Bukankah biru itu sangat luas bagaikan langit yang tak ada batas dan laut yang dalamnya tak terkira. Begitulah mendeskripsikan rasa biru yang saat ini datang di dalam hati ini. Sebiru hari ini bagi saya adalah perasaan yang tak berbatas dan tak terkira akan rasa senang yang begitu luas dan dalam. Ah mulai lebai…

Nah apa yang membuat saya bangga hari ini ya? Entahlah tiba-tiba merasa dada ini senang bukan kepalang bahkan bersyukur akhirnya saya tahu seseorang yang saya anggap saudara dan yang telah berpisah itu mewujudkan cita-citanya berumah-tangga. Memenuhi separuh penggenapan agama dengan seseorang yang pernah dia ceritakan. Berita ini yang ingin saya dengar tentang-nya walaupun telat saya mendapatkan informasinya. Semuanya terjadi secara ketidaksengajaan. Saya sendiri bingung walaupun kami sudah berpisah lama namun saya senantiasa mendapatkan berita tentangnya. Ah saya memang seorang ‘serendipity’, kata ini pernah terucap dari seorang teman yang kurang lebih saya artikan ‘good luck in making unexpected and fortunate discoveries’.

Syukurlah..benar-benar ingin mengucapkan “selamat” atau kalimat doa yang dianjurkan adalah ucapan ‘Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair’ cukup dalam hati saja. Tatkala dulu dia bercerita keinginannya untuk berumahtangga. Dalam hati berkata semoga dimudahkan urusannya dan dipercepat dan sama sekali tak ingin membuatnya berlama-lama mengambil keputusan untuk menikah segera. Dari situ saya berusaha untuk memperbaiki diri dan mulai untuk sedikit demi sedikit untuk mewujudkan cita-cita yang sama yaitu segera untuk menikah. Walaupun hal ini tak pernah saya ceritakan kepadanya.

Selamat berbahagia kawan …doakan segera menyusul..amiin

#utankayu, 22 Agustus 2013; 00.38 am

Advertisements