bertemu Jimbri..


tumblr_ms0jd8zs8m1s7k0iro1_500

“Dani…!!”….”Dani!!”

suara panggilan itu terdengar sangat familiar ditelinga tatkala berada di peron kereta api, stasiun Gambir pagi tadi. Saya menoleh mencari sumber suara. Namun saya tak menemukan siapapun diantara puluhan penumpang yang terlihat. Tapi nama panggilan itu bukankah tertuju untuk saya bahkan sangat jelas. Selain itu juga nama Dani memang nama panggilanku. Ah nama itu kan sangat populer, mungkin saja ada orang yang bernama sama. Saya lanjutkan langkah kaki melangkah. Tapi kita tak akan pernah menduga bahkan membuat skenario apapun atas hidup ini. Bagaimana kemudian didepan saya hadir seorang sosok yang telah lama tak bertemu. Takdir untuk berjumpa kembali dengannya adalah sebuah kegembiraan. Karena kami dahulu pernah bersama-sama melakukan banyak kegiatan bersama saat SD dulu. Yup saya akhirnya bertemu dengan sahabat lama yang tak pernah berjanji untuk bertemu hari ini.

Ada rasa penasaran yang kemudian menyelusup disanubari tatkala melihat perubahan fisiknya yang tentu saja berbeda saat kami dulu masih anak-anak. Saya tersenyum dari kejauhan sambil melambaikan tangan menyambutnya. Pun sebaliknya dia tampak tersenyum bahagia sembari berlari dan menenteng tas yang terlihat sangat menganggu geraknya. Semua orang disekitar tampak tersenyum tertular rasa bahagia yang sedang terjadi diantara kami berdua. Saya sungguh tak menyangka akan bisa bertemu kembali dengannya setelah sekian tahun berpisah dan dipertemukan kembali dengannya. Kami pun berjabatan tangan..ah tak cukup rasanya kalau tak sekalian berpelukan dan mengalirlah energi kegembiraan di rona wajah kami berdua yang seharusnya pagi tadi harus segera bergegas menuju gerbong masing-masing agar tak ketinggalan kereta. Namun kami hiraukan saja dahulu. Momen ini pasti jauh lebih berharga. Dan Sepertinya waktu sengaja berjalan diperlambat membiarkan kami untuk melepas kangen dahulu. Sungguh melegakan dan menyenangkan hari ini diawali dengan silaturrahmi.

“apa kabar sob?”

“alhamdulillah baik Jim. Kamu sendiri bagaimana nih kabarnya?”

“wah..coba lihat aku sekarang! Pasti berbeda bukan dengan yang dulu kan?” tanyanya kembali

“ha..ha..ha..ya bedalah kalau masih sama berarti kamu harus jemput saya tiap hari dengan sepedamu itu.”

Betul-betul berbeda melihat penampilannya. Yang saya ingat dulu dia bertubuh kurus ceking dengan mata sedikit belo dan rambut khas disisir rapi ke samping. Sekarang dia jauh lebih tinggi dibanding saya dan mata sudah tak terlihat belo haha…rambutnya sedikit lebih tebal tanpa disisir rapi. Ah perubahan yang mencolok rupanya. Saya mungkin tak akan mengenali jika harus selewat berpapasan.

“wah kangen rasanya dulu ke sekolah naik sepeda butut itu?” lanjutnya lagi.

“iya nih…tapi tumben kamu masih bisa mengenaliku?”

“wah..nggak mungkin lupalah. Dari jauh saja sudah tercium bau tempe. Makanan kesukaanmu itu”

“halah..bisa saja kamu. Dari dulu sampai sekarang masih saja suka mengejek”

“ha..ha..ha..kalau tak begitu mungkin saya sudah lupa dengan teman yang tak bisa menangkis ejekanku”

“iya ya..kalau ingat masa itu. Cuma kamu doank yang selalu menang dalam hal mengejek”

“ah kamu ini. Bukan begitulah…kita itu memang ditakdirkan untuk saling mengejek”

“ha..ha..ha…”

Itulah percakapan pembuka kami yang singkat pagi tadi. Tak ada batas kepakeman. Semua mengalir begitu saja seperti tak pernah berpisah. Nama sahabat saya itu Jimbri..ya cuma satu kata itu tanpa embel-embel lainnya. Saya bersahabat cukup akrab dengannya. Setiap hari dia selalu datang menjemput untuk berangkat bersama ke sekolah. Orangtua kami sama-sama saling kenal pun begitu dengan anggota keluarga kami lainnya. Rasa-rasanya tak ada teman lain selain Jimbri saat itu. Mulai dari kelas satu sampai kelas empat..setelah itu kami berpisah. Kebetulan Ayah Jimbri harus pindah tugas dari Palembang ke Jambi. Nah saat itu mungkin saya tak terlalu menghiraukan kepergiaannya karena berbarengan dengan liburan kenaikan kelas. Sehingga saya tak ingat persis kapan dia pergi ke Jambi? Yang saya ingat saat pulang ke rumah ada sebuah buku cerita Enyd Blyton yang berjudul Lima Sekawan dan sebuah pensil bergambar Hanoman. Sayangnya saya tak tahu kalau itu hadiah perpisahan darinya.

Baru tahu pas masuk kelas lima dan tak menemukan dia di kelas. Sejak saat itu tak ada lagi yang setiap hari menjemput berangkat ke sekolah bareng. Yah saya akui bahwa cuma Jimbri yang setiap hari menjemput ke rumah pagi-pagi. Agak sedikit egois ya saya? hehe Kadang dia datang saat saya belum mandi, namun dia setia menunggu saya sampai selesai berkemas. Saya nggak tahu jam berapa dia bangun? Selalu saja datang jam 6 pagi. Kadangkala dia disuruh gabung untuk sarapan. Namun selalu ditolaknya karena sudah dilakukannya di rumah. Paling cuma numpang minum teh saja. Tampaknya Jimbri memang sudah terbiasa disiplin.

Pernah suatu kali saya main ke rumah kontrakannya yang disebut bedeng. Yaitu rumah panjang yang terdiri atas beberapa rumah berhimpitan. Nah Jimbri ini cuma dua bersaudara laki-laki dengan Kakaknya. Otomatis saya pun sudah dikenal sama keluarganya. Saya tak menemukan dia diluar halaman rumahnya. Ternyata saat itu saya tahu bahwa Jimbri sedang mengerjakan tugas sekolah. Saya sendiri ngerti kalau setiap sore Ayahnya selalu meminta anak-anaknya untuk tidak main ke luar rumah sebelum tugas sekolah selesai. Sedangkan malam hari dimanfaatkan untuk nonton tv. Untungnya saat itu siaran TV di Palembang baru TVRI saja. Sehingga tak masalah buat belajar sore-sore tanpa gangguan. Saya tahu diri kalau Jimbri lama keluar rumah dan kemudian segera pamit balik ke rumah. Karena kebiasaan dia setelahnya akan balas main ke rumah. Jadi lebih baik menunggu dia dirumah saja. Sehingga otomatis waktu bermain saya dengan dia selalu dihabiskan di rumah saya ketimbang dirumahnya.

Ah Jimbri..jimbri…kenapa namamu mirip sekali dengan kota tempat kamu pindah yaitu Jambi. Sayangnya setelah dia pindah maka terputus sudah semua komunikasi dengannya. Saya tak pernah tahu dia tinggal di alamat mana, bahkan tahu nomor telepon rumahnya saja tak mungkin. Lambat laun saya mulai terbiasa pergi dan pulang sekolah sendiri atau dengan teman-teman lainnya. Namun saya tak pernah lupa dengannya. Berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengannya sampai dengan saat itu tak pernah menyangka jika takdir harus mempertemukan kami kembali hari ini. Ah bersyukur sekali…

inilah hidup ini tiada mengira jika akhirnya mengalir tiada henti kegembiraan yang datang silih berganti..bagaikan buah dari kesabaran selama ini yang senantiasa menanti segala kesenangan. Termasuk kegembiraan berjumpa kawan lama adalah rezeki yang tiada terkira. Terima kasih Allah atas segala karunia Engkau hadirkan hari demi hari.

Advertisements

4 thoughts on “bertemu Jimbri..

  1. astaga ditulis juga.selain suka ngebacain semua tulisan di billboard jalanan,ternyata dirimu mendokumentasikan semua aktivitas ya? haha dasar superaktif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s