photo 1Sudah lama ga me-review film. Tiba-tiba dapet undangan untuk hadir di screening film terbaru dari Mas Reka Wijaya “Hati ke Hati” di Epicentrum walk, senin (30/9) lalu. Jujur sih saya kebingungan buat menuliskan hasil pengamatan setelah menonton filmnya. Agak sedikit blur mengenai pesan yang mau disampaikan tapi secara realitas film ini menceritakan hal-hal yang sedang terjadi di sekitar kita. Film Hati ke Hati merupakan film kedua yang diproduksi Anak Negeri Indonesia atau Anak Negeri Film, bekerjasama dengan X-CODE Films, sebuah rumah produksi audio visual di Yogyakarta yang berbasis komunitas.

Voucher Nonton Screening Film Hati ke Hati
Voucher Nonton Screening Film Hati ke Hati

Film ini cuma rangkaian kisah satu hari atau satu malam lah jadi ga memerlukan banyak mikir. Konfliknya cuma terjadi di siang hari dan selesai dalam satu malam. Walaupun akan banyak frame yang melatarbelakangi jalan cerita untuk mendukung beberapa  alur. Cuma ada dua aktor utama yang berperan sangat signifikan yaitu Lara dan Kinaras yang bertemu secara tak sengaja di sebuah mal. Dua orang yang berbeda karakter dan latarbelakang dengan masalah masing-masing. Namun semuanya saling memberikan refleksi masing-masing atas kejadian tak sengaja yang membuat mereka akhirnya sama-sama terlibat dalam kejadian satu malam.

Saya sendiri agak sedikit boring menonton film drama ini. Terlebih tak begitu menyukai jenis film satir atau komedi gelap. Yup kenapa disebut komedi gelap? Nonton film ini sama sekali nggak membuat kita tertawa namun akan banyak adegan yang menyentil dan tersenyum. Dengan kekayaan makna tersebut film hati ke hati ini sengaja mengajak penonton untuk memahami berbagai kondisi daru dua wanita yang berbeda lingkungan.

Lara dan Kinaras
Lara dan Kinaras

Lara, seorang wanita yang berprofesi sebagai PSK ingin sekali meninggalkan dunia kelamnya. Terlebih setelah dikarunia seorang anak, maka naluri keibuannya muncul. Namun niatnya terhalang oleh suaminya yang selama ini menjual dirinya ke beberapa pria hidung belang. Oleh karena itu Lara kucing-kucingan dengan antek suaminya agar tidak tertangkap sembari membawa anaknya. Nah pada saat dia mau kabur Lara bertemu tak sengaja dengan Kinaras yang juga mengalami masalah dengan suaminya akibat belum memiliki momongan. Pertemuan yang tak sengaja di toilet saat Lara kehilangan akal buat menghindar dari kejaran antek suaminya membuatnya melakukan ancaman ke Kinaras agar menyerahkan pakaian hijabnya agar identitasnya tidak diketahui.

para pemain dan sutradara
para pemain dan sutradara

Kemudian Lara dan Kinaras terlibat konflik saat keduanya harus memperjuangkan orang yang mereka kasihi. Kebetulan disaat yang sama suami kinaras pun diculik oleh suaminya Lara. Dalam alur maju mundur di film ini sengaja penonton dibuat untuk memahami setiap detil peristiwa terjadinya konflik di masing-masing individu baik Lara maupun Kinaras dengan setting yang berbeda. Namun tetap mudah dipahami. Keduanya banyak melakukan refleksi dengan saling bercerita satu sama lain. Kedua wanita ini sengaja dilebur oleh sutradara dalam perbedaan-perbedaan yang mencolok. Yang satunya wanita muslimah dan satunya lagi wanita malam. Namun akhirnya mereka menyadari betapapun masalah yang menimpa jika dihadapi akan mensolusikan sendiri dengan ikhtiar, saling percaya dan memahami perbedaan.

Nah yang penasaran sama filmnya. Besok kamis (3/10) secara resmi mulai tayang di 88 layar bioskop seluruh Indonesia.

Advertisements