Review SERAMBI JAZZ 2013: HENNING SIEVERTS AND AKSAN SJUMAN PROJECT


dani 129“Dan, ini musik apaan?” tanya teman saya setelah hampir 10 menit lagu pertama dimainkan dalam konser Serambi Jazz bersama Henning Sieverts dan Aksan Sjuman Project di Goethehaus Jakarta semalam (10/10). Hmm butuh waktu lama saya untuk menjelaskan ke teman saya tersebut. Semalam memang ada konser yang diadakan oleh Pusat Budaya Jerman dan menghadirkan dua musisi jazz asal Jerman yaitu Henning Sieverts dan Christian Weidner berkolaborasi dengan Aksan Sjuman & Committee of the fest. Berlangsung selama satu setengah jam dengan 5 buah lagu yang rata-rata sebuah lagu menghabiskan waktu 10 – 15 menit ada juga yang hampir 30 menit. Cukup lama juga ya?

Ini kali pertama saya mendengarkan musik jazz yang tidak mudah dicerna. Mungkin karena belum terbiasa jadinya bikin saya harus menerka-nerka maksud dari setiap lagu yang dimainkan. Saya cuma tertarik dengan saksofon Christian Weidner yang tampil dominan dengan beberapa nada dinamis yang dimainkannya. Bagi saya cuma dia doank yang terlihat mudah dinikmati oleh orang awam seperti saya. Sepertinya ini merupakan konser Trio dua musisi Jazz dan Satu musisi Indonesia. Jarang-jarang bagi saya untuk bisa hadir dan menikmati musik Jazz.

Ada juga yang bilang kalau konser ini adalah konser budaya dimana dua musisi asal Jerman tadi ingin memperkenalkan unsur Jazz yang saat ini dominan di Eropa. Dimana banyak sekali unsur kreativitas dalam memainkan alat musik tidak hanya menghasilkan nada namun lebih kepada pemaknaan diberbagai aspek kehidupan. Misalnya pada lagu ketiga yang berjudul “Twin” dimana hampir setengah jam para musisi secara duo melakukan dialog dengan penonton silih berganti memainkan alat musiknya dari bas kemudian gitar, piano berpadu dengan akordion, kemudian saksofon dan suara vokal Kartika Jahja, serta penampilan drum solo Aksan Sjuman. Seperti ada obrolan diantara pergantian alat musik tersebut yang ingin disampaikan. Oleh karena itu interpretasi penonton dibuat sangat liar berimajinasi memaknai apapun yang dihasilkan oleh mereka. Karena semangat jazz sesungguhnya adalah semangat mencari,menganalisa dan improvisasi yang dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kartika Jahja ketika berduet dengan Saksofon Christian Weidner
Kartika Jahja dengan Saksofon Christian Weidner

Nah hal tersebut saya dapatkan dari konser Serambi Jazz semalam. Dimana banyak sekali spontaneous improvisation yang ditonjolkan. Ada semacam energi yang ingin disalurkan melalui permainan-permainan individu maupun kolaborasi diantara musisi tersebut. Para pendukung yang terdiri atas Mery Kasiman di Rhodes Keyboard ditemani Akordion dari salah satu personil Serambi Jazz, Indra Perkasa di Contrabass berpadu dengan Henning Sieverts, Nikita Dompas bareng dengan Dionysus Janapria di Electric Guitar serta penampilan vokal Kartika Jahja membuat konser semalam menarik untuk disimak. Karena semalam saya belajar hal baru selain menikmati musik ternyata ada bahasa yang ingin disampaikan dalam Jazz, tetapi juga ada aspek edukasi,spiritualitas dan religiusitas sebagai puncak dari perjalanan pencarian manusia akan Tuhannya yang akan disajikan dalam bahasa musik. And for Henning Sieverts, Christian Weidner and Aksan Sjuman Project, we salute you! Wunderbar!

dani 131

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s