Kisah tersedih saat Ayah pergi selama-lamanya menghadap illahi


Sudah lama tak mengupdate blog ini. Ada rasa duka yang membuat saya tak minat lagi untuk menulis. Ini terkait dengan duka yang saya alami. Sudah hampir 50 hari lebih sejak tanggal 20 Januari 2014 berlalu. Saat Ayah pergi meninggalkan kami sekeluarga untuk selama-lamanya menghadap Sang Khalik.  Rasa duka tentu saja masih sering datang walaupun saya sendiri telah ikhlas bersama keluarga. Begini rasanya kehilangan orang tercinta itu? dalam hati saya senantiasa bertanya. Rasa tidak enaknya semakin tak karuan diliputi kesedihan tatkala mengingat banyak kenangan yang telah lewat dahulu bersama almarhum. Namun mau bagaimana lagi? Inilah rancangan Maha Sempurna yang sudah dibuat oleh Alloh untuk umatnya didunia. Dan beginilah duka teramat sedih yang baru kali ini saya alami. Hanya doa saja yang senantiasa dipanjatkan untuk almarhum di alam baka sana.

Kepergian Ayah menjadi momen tersedih sepanjang hidup. Padahal seminggu (12-13/01) sebelumnya saya masih sempat pulang kampung menemuinya yang tengah terbaring sakit. Waktu itu tak ada firasat apapun jika Ayah akan pergi untuk selama-lamanya. Kondisi Ayah beberapa tahun terakhir memang sedikit menurun. Beberapa kali masuk rumah sakit. Namun saya anggap hal itu perkara biasa seperti halnya Ayah yang selalu bilang “Nggak apa-apa, ini penyakit nanti sembuh sendiri”. Walaupun ada rasa khawatir namun keyakinan bahwa memang tak ada apa-apa. Insya Alloh.

Jakarta; Minggu, 19 Januari 2014 : (20.24 WIB Malam)

Menerima telepon dari kakak di Palembang.

“Dan, mohon banyak berdoa buat Ayah.”

“Eh, ada berita apa nih?”

“Tadi Ayah sedikit tak bergerak. Kakinya sulit ditengkuk dan mengeluh sakit kalau diangkat. Sudah seharian ini terbaring terus tak mau makan dan sulit diajak komunikasi. Selalu mengeluarkan suara tak jelas dipahami. Doakan saja semoga baik-baik saja.”

“Masya Alloh, jadi bagaimana ini? Serius? Semua okey kan?”

“Mudah-mudahan ya kita semua sudah kumpul dirumah. Kamu banyak berdoa saja di Jakarta. Insya Alloh akan baik-baik saja. Jangan risau ya?”

Perbincangan ditelepon yang semakin membuat saya gusar dan bingung. Apa yang harus diperbuat selain melakukan doa seperti yang diminta. Malam itu pikiran saya benar-benar kalut dan bimbang. Tak tentram rasanya mengetahui kondisi Ayah yang semakin parah dan sekarat. Rasanya ingin segera pergi pulang ke Palembang. Namun saya masih tetap menunggu ada kabar baik yang akan terjadi. Insya Alloh baik-baik saja senantiasa berharap.

Jakarta; Senin, 20 Januari 2014 : (07.30 WIB)

Sebelum berangkat kerja saya sempatkan menelpon keluarga di Palembang menanyakan kondisi Ayah paginya.

“Gimana kabar Ayah kak?”

“Alhamdulillah sekarang sudah tenang dan tak banyak mengeluh mengeluarkan suara tak jelas lagi. Semalam sempat tersenyum saat kita disampingnya melihat satu persatu anaknya”

“wah saya doank ya dan kak Yasir yang belum datang?”

“Iya nggak apa-apa. Kalian disana banyak berdoa saja. Mudah-mudahan saja hari ini kondisi Ayah membaik”

Rasa syukur tiba-tiba datang pagi sebelum berangkat kerja. Sambil berharap bahwa akan ada keajaiban untuk kesembuhan Ayah. Saya pun ngantor seperti biasanya tanpa ada rasa cemas lagi. Kendati setiap jam selalu saya coba telpon/sms ke rumah untuk menanyakan kabar terbaru. Hanya saja menjelang siang sampai sore saya tak lakukan lagi. Karena berfikir tak ingin menganggu keluarga yang tengah sibuk mengurus Ayah. Jadi saya biarkan saja sambil menunggu kabar datang atau berniat selepas kerja akan saya telpon balik.

Menjelang sore pekerjaan saya semakin banyak datang dan harus diselesaikan. Satu persatu masalah pelanggan harus saya bantu untuk penyelesaiannya. Terlebih saya juga menjadi koordinator untuk pengumpulan sumbangan korban banjir kepada karyawan outsource. Sehingga harus bisa diselesaikan distribusinya jangan sampai terkumpul percuma. Sorenya saya merasakan kondisi hati saya sedikit tak tenang dan alhamdulillah pekerjaan seperti lancar saja tanpa ada masalah sedikitpun. Ingin rasanya bergegas pulang dan menelepon ke rumah bersama istri.

Jakarta; Senin, 20 Januari 2014 : (17.34 wib)

Dalam perjalanan pulang menuju rumah. Tiba-tiba saja saya merasakan tak enak hati. Badan terasa sangat letih dan membutuhkan kasur untuk merebahkan badan yang sudah tak nyaman. Seminggu (11-12/01) sebelumnya kebetulan saya harus mengikuti acara kantor di Anyer dan tiba-tiba harus pulang kampung ke Palembang (12-13/01) saat acara tengah berlangsung begitu mendapat kabar kalau kondisi Ayah menurun drastis. Saat pulang tersebut memang Ayah sudah sangat lemah tak berdaya dipembaringan. Namun masih bisa berkomunikasi dengan saya bahkan menyuruh saya pulang ke Jakarta karena kondisinya sudah berangsur membaik. Makanya saya putuskan untuk kembali ke Jakarta hari Selasa (14/01). Tak disangka badan saya drop kena demam pada hari rabu (15/01) saat berada dikantor sehingga hari kamis sd jumat (16-17/01) saya izin tak masuk kantor. Dan senin sorenya terasa mulai mau drop lagi. Begitu pusing saat menyetir kendaraan dan terjebak kemacetan.

Ditengah-tengah keruwetan jalanan ibukota yang penuh dengan kemacetan. Tiba-tiba saja adik saya menelpon. Seperti ada firasat yang akan mengabarkan kabar buruk mengenai kondisi Ayah. Panggilan pertama tak saya jawab karena tengah menyetir. Kemudian saya coba tepikan mobil karena panggilan kedua tampaknya harus segera saya jawab. Seperti dalam kondisi sadar dan tak sadar saya mendengar suara dari handphone.

“Dan, Ayah sudah meninggal beberapa menit yang lalu”

*hilang kata-kata*
*****************************************

Masya Alloh, Saya terpana lama. Terdiam dan membisu ditengah-tengah kemacetan jalanan ibukota yang berisik. Berita dari Kampung Halaman tersebut tak mampu saya jawab. Namun sangat menggetarkan hati dan bikin saya terdiam. Badan ini lemas tak berdaya seluruh raga. Hanya bisa mengucapkan “inna lillahi wa’inna ilaihi roji’un”. Dalam hati tak henti-henti berdoa. Harapan demi harapan positif terus saya hamburkan. Seperti tak percaya beberapa menit kemudian saya coba telpon kembali ke rumah untuk menanyakan kabar Ayah sore tersebut.

Nyatanya beritanya tetap sama saja, hanya suara kesedihan yang saya dengar. Semua saling bergantian menguatkan hati saya via telpon dan mengikhlaskan kepergian Ayah. Rasa sesak dan penyesalan muncul dalam dada. Tak sempat melihat beliau yang tengah sakaratul maut di Palembang sana. Semuanya serba tak kena dihati. Jadi nggak menentu pikiran dan perasaaan. Bagaikan orang yang terkena sawan. Degupan jantung terasa lebih cepat selaju air mata yang akhirnya keluar tak terbendung. Akhirnya tangisan saya pecah sore itu didalam mobil seorang diri tak ada yang menemani hanya ditemani suara deru kendaraan yang sedang terjebak kemacetan. Dalam kepala ingin segera pulang dan melihat Ayah untuk terakhir kalinya.

Palembang; Selasa, 21 januari 2014 (jam 04.00 wib)

Alhamdulillah, bersama istri dan juga keluarga kakakku kami semua berangkat ke bandara selasa shubuh. Sepanjang malam sulit sekali rasanya terlelap. Tak enak hati memikirkan kondisi keluarga yang tengah berduka dirumah. Pastinya keluarga di Palembang pun tak tentram hatinya untuk tidur melihat jenazah Ayah disamping mereka semua yang hadir. Pesawat yang kami tumpangi takeoff jam 06.10 wib dari Bandara Soekarno Hatta di Jakarta dan tiba di Palembang jam 07.00 wib. Melihat satu persatu wajah yang berangkat bersama tampak kesedihan diraut mukanya. Kondisi langit dengan gumpalan awan yang berarak seakan menemani perjalanan kami pulang ke kampung halaman. Pun menyadarkan kami betapa kecilnya kami di muka bumi ini. Apapun yang terjadi dimuka bumi ini sejatinya sudah menjadi perencanaan Allah yang sempurna menjadikan setiap perkara bermakna. Tinggal kami manusia yang lemah tak berdaya ini kadang sukar menerima kenyataan pahit yang terjadi. Tiba-tiba saja tanpa sadar airmata keluar perlahan selama berada di dalam pesawat.

Palembang; Selasa, 21 Januari 2014 (jam 09.00 wib)

Tiba di Palembang, kami semua menumpang taksi. Tak ingin merepotkan keluarga yang tengah sibuk mengurus pemakaman ayah nanti siang. Dalam kepala sepanjang perjalanan menuju rumah rasanya tak sabar ingin segera tiba. Ya Allah, ingin sekali cepat menemui wajah almarhum Ayah untuk berbakti terakhir kalinya.

xvnd 362

Sesampai dirumah, rasanya tak kuasa menahan sesak dada ketika banyak orang sudah berkumpul. Saya bersama kakak yang terakhir datang ke rumah karena sama-sama tinggal di Jakarta. Saat yang begitu sukar bagi saya untuk memasuki halaman rumah. Melangkah dengan penuh rasa tidak semangat didada, lunglai seperti tak berpijak ke bumi.

359

Ketika sampai dimuka pintu rumah disambut dengan wajah wajah penuh sebam seluruh anggota keluarga. Kurang dari sepuluh langkah lagi rasanya tak sanggup melihat jenazah Ayah. Sungguh. Rebah tak berkata. Entahlah pilu rasanya melihat sebungkus tubuh tak bernyawa terbujur kaku ditengah-tengah ruangan rumah. Drastis sekali rasanya perasaan ini berubah dalam sekejap. Bergantian rasa pilu dan iba di hati menyaksikan wajah Ayah yang kini sudah tak bernyawa. Sukar sekali untuk memperlihatkan ketabahan dan saya akui bahwa saya insan paling lemah. Tiba-tiba saja saya dipeluk oleh ibu dengan penuh kesedihan yang mendalam untuk menentramkan hati…..

*hilang kata-kata*

                                                                                          *********************************

Palembang, 21 Januari 2014 (jam 11.00 wib)

Emosi saya sudah sedikit membaik saat prosesi mandi jenazah yang dilakukan anggota keluarga dipimpin Kakak tertua. Inilah prosesi yang paling menyayat hati bagi saya dan keluarga tatkala adik beradik untuk terakhir kalinya membasuh badan Ayah dengan air. Bagaikan anak kecil yang kami pangku dalam belaian kasih sayang kami memandikan Ayah kami tercinta. Hanya Anggota keluarga saja yang boleh melakukannya sesuai amanat almarhum.

356

379

Begitupun saat mengkafani jenazah Ayah. Semua alhamdulillah dilakukan oleh adik beradik. Walaupun dipandu oleh seorang Bilal dari Persatuan Amal Kematian (PAK) komplek. Begitu dahsyatnya hikmah yang bisa saya ambil dari prosesi pengkafanan ini. Bagaimana akhirnya manusia hanya kembali ke hadapan Tuhannya dengan secarik kain kafan saja tanpa harta apapun.

389

Tepat jam 12.00 wib jenazah Ayah dibawa ke Masjid Darul Askar di dekat rumah untuk disholatkan usai sholat Dzuhur berjamaah. Karena hanya punya tiga anak laki-laki maka salah satu dari kami diamanatkan untuk mensholatkan mayit Ayah. Untuk peran ini kebetulan Kakak saya yang melakukannya. Sedangkan saya bertugas mengazankan jenazah di pemakaman.

Palembang, 21 Januari 2014 (Jam 13.00 wib)

394

Alhamdulillah prosesi pemakaman Almarhum Ayah berlangsung khidmat di TPU Lebong Siarang selepas jam 12 siang sampai jam 13.00 wib. Ya Allah fikiran ini banyak sekali berkecamuk saat saya disuruh masuk ke liang lahat untuk memangku jenazah Ayah dan menidurkannya menghadap kiblat.Rasa pilu, sedih, dan gejolak yang tak mampu berkata-kata. Inilah suratan takdir yang akhirnya memisahkan Ayahanda tercinta dengan kami anak-anaknya di dunia ini. Saya percaya akan ada pertemuan kelak untuk menghimpun kami kembali bersama-sama. Disini saya belajar ketabahan dan menerima suratan takdir ini dengan hati yang ikhlas agar kelak almarhum Ayahanda diterima amal sholihnya oleh Allah SWT disertai ampunan akan dosa-dosa masa lampaunya. Biarlah kesedihan ini tetap dihati sampai lambat laun menghilang dengan banyak kenangan yang terus tersimpan di dada. Selamat Jalan Ayah…doa kami anak-anakmu senantiasa terpanjatkan..

wassalam..

Advertisements

4 thoughts on “Kisah tersedih saat Ayah pergi selama-lamanya menghadap illahi

  1. Tetesan air mata ini tak berhenti sama sekali ketika ku baca satu per satu kalimat mu, mas.
    semoga Ayahandamu di terima disisi Allah SWT.
    Diampuni semua dosa – dosanya dan di beri nikmat kubur.
    dan bagi keluarga yg ditinggalkan semua, semoga di beri ketabahan dan kesabaran oleh ALLAH. Amin.

    salam persahabatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s