Selalu ada waktu untuk memulai hal yang baru! Seperti halnya kita membeli baju baru, sepatu baru, mainan baru, mobil baru dan sebagainya. Tentunya perasaan pertama selalu saja khawatir apakah kita mampu dan mau melakukan hal yang baru. Perasaan takut kita begitu besar bahkan sangat besar melebihi ukuran badan kita sendiri. Bahkan ada beberapa orang yang badannya besar bisa saja perasaannya kecil tak sebanding dengan ukuran tubuhnya. Mencoba hal yang baru tak ada salahnya. Toh semua orang sebelum menyukai sesuatu pasti ada awalnya? Lantas kenapa takut mencoba hal-hal baru yang belum kita lakukan? Pertanyaan ini terus-menerus menerjang #cielah…. iya banyak hal diluar sana yang belum sempat saya coba.

Sebenarnya keinginan untuk melakukan hal yang baru itu didasari dengan satu hal. Saya bosan dengan hidup ini!! Setiap hari seperti tak pernah ada yang berubah. Saya ga mau kalau rutinitas ini menjadi hal yang harus saya jalani selama puluhan tahun. Sepertinya Work had become my life’s purpose. Ah batin saya menolaknya. Kemudian tiba-tibas aja ada statement begini yang muncul dalam benak saya, “Your life’s purpose is the reason why you exist. It’s the reason for being”. Yes, Saya cuma mau melakukan hal-hal menyenangkan saja. Ada beberapa pertanyaan yang mengemuka misalnya:

1. Apa sih yang benar-benar saya mau?

2. Apa ya yang bikin saya senang?

3. Hal apa yang senantiasa membuat suasana hati dan pikiran jadi tenang. Secara fisik dan mental?

Pertanyaan-pertanyaan diatas yang sangat sederhana seringkali datang. Saya biarkan saja pertanyaan itu datang dan pergi. Saya ikuti semua peristiwa yang menimpa dan ingin saya rencanakan. Sampai suatu waktu muncul jawaban sederhana juga untuk merangkum semuanya.

My life’s purpose was simply to be happy. Kesannya saya ga bahagia banget ya sekarang? ..But the reality was I was not happy. Ini seperti membuka beberapa bacaan saya sebelumnya tentang konsep hidup. Padahal dulu banget pernah baca tulisannya Dalai Lama yang bilang gini: As the Dalai Lama once said, “The purpose of our lives is to be happy.”

Saya mulai melakukan hal-hal baru yang tak terencana beberapa kali. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengesampingkan semua yang bisa mengacaukan rencana saya yaitu perasaan malu. Yap..saya kadang memiliki sifat malu yang tak menentu. Seperti mau mencoba berjalan kaki, malu kalau ketemu teman dijalan. Atau misalnya mau berenang sendiri di laut tapi malu nanti disangka orang apa? Well, kadangkala banyak ga jadinya rencana karena malu dengan orang lain. Aneh banget kan?!! Seolah-olah orang lain peduli dengan hidup kita sampai kita harus malu melakukan apa yang kita mau?

pengalaman pertama mencoba memanah di Senayan
pengalaman pertama mencoba memanah di Senayan

Misalnya pada saat saya berkeliling di daerah Senayan Jakarta dan tiba-tiba begitu terpaku melihat orang yang tengah memanah di sebuah lapangan. Ah menarik nih pikir saya!! Tanpa pikir panjang langsung saya parkir kendaraan dan menuju ke dalam. Tanpa rasa malu saya bertanya bagaimana cara memulai untuk berlatih. Aha ternyata ga menakutkan seperti yang saya kira. Orang yang saya tanya pun walaupun tak kenal begitu antusias menjawab dan berusaha untuk langsung mengajak saya mencoba. See…Of course, life doesn’t always follow a script, which is why it’s important to plan for the unexpected. 

mencoba menaklukkan dinding di ketinggian 25 meter
mencoba menaklukkan dinding di ketinggian 25 meter

Kenyataannya melakukan hal-hal baru itu menyenangkan apalagi tak terencana. Seperti memberi sebuah hadiah kejutan buat hidup saya. Dan kayaknya saya merasa bodoh dan menyesal kenapa baru kali ini mencoba? kenapa tak dari dulu sih memulainya? Tapi yakinlah itu juga yang membuat saya bisa bergerak terus tiada henti mencoba hal-hal lainnya yang mungkin tak menarik. Iya betul kalimat terakhir itu seperti mematahkan beberapa kondisi nyaman. Ngapain sih ikutan panjat tebing? Toh kamu kan sudah ga mungkin lagi jadi atlet? Suatu ketika teman saya bertanya. Tapi ‘hey’ siapa yang tak mau mendapatkan pengalamannya. Ada hal-hal ekstrim yang mematahkan bahwa saya tak mungkin bisa memanjat dinding setinggi 50 meter. Tapi kan saya belum pernah mencobanya? Bagaimana mungkin saya bisa berkata tak bisa? Akhirnya saya coba dan ternyata BISA!!!

Namun ga selamanya semua tanpa rencana. Ibaratnya kita bisa merencanakan sesuatu yang kita mau secara accidentally. Tapi  the truth is, you can’t plan the details, but you put yourself into a certain mindset that will help you what you want. 

Do you have any suggestions for planning for the unexpected?

Advertisements