Tahu donk kalau race event untuk lari menjadi tren akhir-akhir ini. Bahkan bisa tiap minggu diselenggarakan saking banyaknya dan bentrok dengan event sejenis lainnya. Hal ini yang membuat saya sampai bingung harus ikut yang mana? Fenomena ini sebenarnya bagus karena tren-nya beraroma positif dan tentu saja mengajak orang untuk hidup lebih sehat dengan olahraga yang murah meriah dan dapat dilakukan dimanapun. Walaupun saya akui seiring dengan gaya hidup. Olahraga manapun pastinya membutuhkan apparel yang nyaman dan enak buat digunakan. Nah akhirnya banyak banget produsen sepatu, pakaian, dan atribut lainnya seperti jam tangan yang dilengkapi dengan pengukur jarak/GPS, handset dengan aplikasi olahraganya dan macem-macemlah sekarang.

Kalau saya sih bukan bermaksud promosi tetap setia menggunakan sepatu brand garis kembung centang sejak SMA. Pernah sih nyobain sepatu dengan brand garis tiga-pada awal-awal ikutan race. Kedua brand ini sama-sama enak. Sering gantian saya pakai. Namun yang garis tiga sudah nggak enak lagi dipakai mungkin sudah ujur akhirnya saya ganti dengan brand garis centang kembung lagi. Ya otomatis susah buat pindah ke lain hati..harganya lumayan juga ya kalau sekedar buat lari. Tapi ga rugi kok. Selain memang nyaman banget buat lari dan modelnya juga sekarang bagus-bagus. Karena investasi buat lari ya cuma sepatu sih menurut saya.

Selain itu sekarang seiring dengan banyaknya aplikasi buat mengukur jarak dan pace yang bisa diinstall di smartphones. Bisa kita lihat disetiap race selalu ada aja dijumpai peserta yang berlari diiringi dengan smartphones di sakunya atau menggunakan armband dilengannya. Walaupun tak jarang juga dijumpai yang memegang smartphone di genggaman tangannya. Saya sarankan sih gunakan armband selain memang diciptakan untuk menaruh iPod/iPhone dalam berolahraga. Penggunaan armband juga membantu GPS mendapatkan sinyal yang lebih baik karena posisi iPod/iPhone yang stabil. Biasanya sih ga hanya mendengarkan jarak dan pace yang sudah ditempuh. Kebanyakan peserta juga sekalian mendengarkan musik selama berlari. Tapi jujur sih awal-awal race saya termasuk orang yang berlari dengan menggunakan musik. Rasanya keren gitu berlari menggunakan armband di lengan.

IMG_1737 IMG_1766 IMG_1824 IMG_2677 IMG_2990 IMG_5536

Kenapa harus mendengarkan musik saat berlari? Pikiran sederhananya begini. Dulu saat saya mengikuti race untuk pertama kalinya saya berlari sendirian tanpa ada teman sama sekali. Karena kebanyakan teman saya waktu itu susah banget diajak buat ikutan race. Waktu itu lari belum populer juga kayaknya sekitar tiga tahun lalu.Akhirnya daripada bengong ga ada temen, saya pun mulai menggunakan ipod yang digunakan buat lari. Ya buat bikin semangat aja dan siapa tahu makin kenceng buat sampe finish.

Ternyata olahraga sambil mendengarkan musik itu bukanlah tren. Seringkali kita lihat di tempat gym selalu di setel lagu-lagu penghentak semangat semacam lagu-lagu disko gitu. Atau banyak toko olahraga secara bersamaan menjual alat musik juga. Jadi ya sah-sah saja menggunakan musik saat berolahraga. Asalkan jangan sampai membawa harddisk saja setiap olahraga. Nah ini beneran ya bukan becandaan. Kebanyakan nggak tahu kan kalau kita menggunakan iPod, iPhone atau handphone itu sebenarnya kita sedang membawa hardisk dalam bentuk mini. Yang konon katanya harddisk ga tahan akan goncangan. Apalagi ini dibawa buat lari bukan sekedar berjalan kaki biasa.

IMG_2621 IMG_3044 IMG_3278 IMG_4001

Waktu awal-awal ikutan race saya ga absen sama sekali membawa iPhone saya untuk mendengarkan musik. Bahkan saya mendengarkan musik terlalu berlebihan dengan volume besar. Pikiran saya waktu itu ga pengen terganggu dengan suara disekitar. Cukup menyenangkan memang. Terlebih kalau mendapatkan lagu-lagu yang memiliki beat tinggi dan kencang. Jadi kayak terpacu untuk berlari kencang sampai lagu berakhir. Yang ga enakknya kalau sudah dapet lagu bagus dengan beat yang lumayan eh tiba-tiba setelah lagunya berakhir berganti jadi lagu-nya melankolis..suka bikin bete dan jadinya belingsatan langsung tekan tombol next beberapa kali. Atau kalau kelamaan langsung cek layar iPhone dan cari lagu baru lainnya. Agak menganggu juga sih…Hal ini saya atasi dengan menggunakan remote akhirnya. Ga cukup disitu aja saya juga tambahin dengan earphone yang bisa mengontrol volume. Jadinya cukup meraba menggunakan tangan kesulitan untuk mengganti track seketika teratasi.

Akhirnya karena sudah tahu waktu tempuh rata-rata dalam berlari jarak jauh. Saya berinisiatif buat song list sendiri sebelum berlari. Dalam satu jam misalnya untuk lari jarak 10K saya susun lagu-lagu sesuai dengan per jarak km yang akan saya lalui. Karena saya sudah tahu di km berapa biasanya saya membutuhkan lagu-lagu kencang/upbeat dan sebaliknya lagu-lagu lembut/slow. Biasanya sih songlist saya buat berdasarkan referensi dari Best Running Hits Ever-karena Various Artist dan kadang satu lagu aja bisa sampai 10 menit sendiri buat dengerinnya. Cukup puas sih. Tapi tetap saja kelemahan saya selalu mendengarkan dengan volume yang tinggi.

mulai berlari tanpa musik
saya mulai berlari tanpa musik

Namun entahlah setelah beberapa kali lari. Saya mulai merasakan bosan dengan menggunakan musik saat berlari. Bosan karena berlari solo kalau menggunakan musik. Walaupun saya sudah mulai mengajak teman berlari bersama dan saya tahu memang karena lari adalah olahraga yang bersifat individu. Tapi saya mulai menyadari ada yang salah. Saya menjadi kurang peka lingkungan. Seperti berlari sendiri ditengah keramaian peserta lomba lari lainnya.

Banyak kasus dimana terjadi kecelakaan akibat pelari mendengarkan musik dan mengabaikan suara klakson kendaraan. Terlebih saya perhatikan ada-ada saja pelari yang menggunakan isolating earphone saat berlari di jalan raya. Walaupun kadang kita berlari di Car Free Day banyak kejadian misalnya pelari tertabrak sepeda atau orang yang sedang olahraga dibelakangnya. Jadinya seperti menjauhi diri kita dari lingkungan.Walaupun dari hasil studi juga banyak yang bilang bahwa berlari dengan musik dapat mengurangi persepsi tentang susahnya berlari sekitar 10%. Jadi seolah-olah kita bisa berlari kencang saat mendengarkan musik yang upbeat terus menerus.

Bagi sebagian orang berlari itu olahraga yang membosankan jika tak ada musik. Itu sama persis dengan yang saya pikirkan pada awal berlari.  Padahal banyak hal yang bisa kita lakukan saat berlari tanpa musik. Karena masalah utama yang paling krusial adalah saat berlari mendengarkan musik kita jadi mengabaikan suara-suara yang secara alami dihasilkan dari tubuh kita. Seperti tak mendengar suara nafas kita, detak jantung, bahkan suara langkah kaki kita sendiri. Padahal ini semua membantu kita memberikan feedback saat berlari.

Berlari tanpa musik bisa membantu memberikan semangat ke pelari lainnya dan mendapatkan semangat dari yang lain
Berlari tanpa musik bisa membantu memberikan semangat ke pelari lainnya dan sebaliknya bisa mendapatkan semangat dari pelari lainnya

Hal lainnya dengan seiringnya kita ikutan race, masa kita ga mau bersosialisasi dengan pelari lain sih? Yah ga harus ngobrol juga saat berlari. Momennya adalah saat saya berlari kepayahan ada saja yang berteriak bahkan memberikan semangat. “Ayo mas…terus lari..terus semangat” Nah kalau kita pakai earphone sambil dengerin musik. Kayaknya ga mungkin ada yang bakalan kasih kita kalimat semangat. See..saya pikir music is not effective for people who are “associators.” I want those things working for me.

Secara jujur saya malah lebih menikmati berlari tanpa musik. Saat berlari di garis start gimana serunya mendengarkan gemuruh suara kaki berlari berbarengan dibarengi dengan celotehan-celotehan sesama pelari lainnya. Kemudian betapa serunya mendengar suara kaki pelari lainnya di belakang kita yang semakin lama semakin dekat atau semakin kita jauhi. Belum lagi bunyi-bunyian yang tercipta secara alami seperti suara angin, bunyi burung berkicau, suara klakson kendaraan dan lain-lainnya. Jadi penambah semarak saat berlari.

Jadi buat siapapun yang ingin berlari dan ikutan race pilih yang mana paling nyaman. Mau pakai musik juga boleh. Tanpa Musik jauh lebih baik. Yang paling penting menurut saya adalah saat berlari itu jangan sampai mengabaikan suara di sekitar kita. Rasanya sekarang saya lebih menikmati berlari tanpa musik. Merasakan sendiri betapa senang bisa mendengar suara-suara disekitar kita sebagai musik yang alami. Yang utama adalah kita tidak kehilangan sense of what might be truly motivating to you, such as the energized feeling you get on the run…ciao

IMG_1568

Foto-foto courtesy dari Halo Fit Run 2014 & Fotolari.me

Advertisements