Bosan menghabiskan weekend di Jakarta? Datanglah ke kota-kota negara terdekat dengan Indonesia. Seperti melancong ke Kuala Lumpur yang saya lakukan akhir pekan lalu. Selain tidak terlalu jauh dengan Jakarta cuma 2 jam perjalanan via pesawat. Harga tiket pesawatnya pun kesana saat ini tidak terlalu mahal. Mengunjungi tempat yang berbeda budaya dan negara tentunya memberikan pengalaman dan pelajaran baru buat kita. Setidaknya kita menjaga sikap dan prilaku karena menjadi tamu dinegara orang. Lagian Jakarta dan KL hampir mirip-mirip kotanya jadi kenapa harus bosan dikala weekend?

Ini adalah kunjungan saya kelima ke ibukota negeri jiran Malaysia sejak pertama kali datang tahun 2005 silam. Namun baru kali ini mau mencoba menulis berbagi pengalaman apa saja yang saya lakukan. Jujur kali ini saya tak begitu tertarik untuk mengunjungi tempat wisata di KL. Tujuan saya cuma ingin santai dan menikmati suasana kota KL dan menjadi bagian warga kotanya menikmati weekend. Saya juga penasaran ingin mencoba tahu seperti apa KL yang tengah bercita-cita menjadi salah satu ikon Asia dengan visi-nya KL 2020. Karena menurut saya kota KL sangat layak dikunjungi dan dapat menikmati kota ini dengan berbagai cara. Berikut rekomendasi dari saya yang bisa kita lakukan di KL selama 2 hari:

A. Pengalaman Pertama di KLIA-2

Datang ke KL bagusnya selepas pulang kantor di hari jumat dengan penerbangan terakhir yang terdapat di hampir semua maskapai pada pukul 9-an malam. Selama dipesawat kita bisa istirahat melepas penat setelah berjibaku dengan kemacetan Jakarta. Lumayanlah 2 jam buat tidur. Biasanya kalau kita menggunakan pesawat low cost carrier, kita akan diturunkan di bandara baru KLIA-2 pengganti Low Cost Carrier Terminal (LCCT) lama. Bandaranya masih fresh new open. Berada pada lahan yang sangat besar dengan jarak yang cukup jauh untuk mencapai terminal kedatangan dari aerogate.Kira-kira 1 km kayaknya sih kalau dilihat dari aerogate paling ujung. Jauh juga kan? Tapi menyenangkan karena bandaranya cantik dan megah. Jadi ga rugi jalan kaki sembari mengitari bandara baru yang digadang sebagai bandara Low Cost Terminal  terbesar di dunia.

Screenshot_24

Karena Bandara ini sangat besar dan luas wajar jika memiliki 60 gate yang terhubung dengan aerobridge yang modern dan nyaman. Semua penerbangan Low Cost Carrier pasti akan mendarat di bandara ini. Bandara ini merupakan bandara penghubung dengan KLIA utama. Jadi tak perlu repot jika harus melakukan pergantian pesawat dengan bandara yang berbeda. Yang menyebalkan adalah kalau kita dapat kursi dibelakang pesawat, mau tidak mau harus menunggu sampai semua penumpang keluar. Karena beda dengan LCCT sebelumnya dimana kita bisa turun melalui pintu depan dan pintu belakang bersamaan. Namun aturan baru untuk KLIA-2 mewajibkan semua penumpang melalui aerobridge.

Screenshot_23

Oh iya karena ini adalah bandara dengan terluas maka setiap gate terhubung satu dengan lainnya saling bersebelahan. Kebayang kan kalau berada di gate paling ujung mesti berjalan sangat jauh menuju terminal kedatangan atau bangunan utama. Terlebih karena kita berjalan maka akan saling bertemu dengan penumpang dari gate yang lainnya juga. Maka terjadilah keramaian di lorong menuju bangunan utama yang penuh. Sayangnya lorong panjang antar gate menuju terminal utama belum dilengkapi dengan eskalator berjalan. Elevator akan tampak menjelang gedung utama didepan mata. Jadi harus siap capek. Banyak sekali petunjuk arah yang membingungkan penumpang. Tapi saran saya cukuplah fokus ke satu petunjuk panah yaitu tulisan arrival terminal. Karena bangunan bandara ini besar maka otomatis akan banyak pintu yang terdapat didalamnya. Saya sarankan jangan menggunakan lift karena akan sangat wasting time untuk mengantri dikarenakan ukurannya sangat kecil. Gunakan kaki anda untuk terus berjalan. Sekalian olahraga juga sih. Kalau bingung jangan khawatir. Untungnya disini akan banyak pemuda dengan tulisan “Ask Me” yang mengarahkan penumpang ke bangunan utama.

Toko Bebas Pajak berada dibalik ruang pos imigrasi
Toko Bebas Pajak berada dibalik ruang pos imigrasi

Sesampai di pos imigrasi antrian sangat panjang. Penumpang dengan paspor asing akan sangat banyak dibanding paspor lokal. Wajar kiranya jika KL ditetapkan sebagai kota no.4 untuk destinasi wisata. Tetapi tidak dibarengi dengan jumlah counter yang  sangat sedikit. Padahal dengan jumlah 60 gate  mestinya bandara ini menyediakan konter pemeriksaan paspor yang banyak juga. Pemeriksaan paspor sangat menyita waktu menurut saya. Tapi ya nasiblah naik low cost carrier. Setelah selesai keluar dari pos imigrasi maka kita akan keluar melalui sebuah dinding putih dan disambut dengan toko bebas pajak yang menjual banyak coklat, parfum, dan stuff lainnya. Saran saya tahan dulu untuk membeli karena toko bebas pajak serupa akan ditemui diterminal keberangkatan saat kita pulang. Yang membingungkan kenapa toko ini harus ada? Padahal tujuan utama di terminal kedatangan adalah keluar setelah melewati pos bea cukai dan mengklaim barang bawaan. Eh ada yang baru juga di Bea Cukai semua barang bawaan baik tas dan koper harus dimasukkan ke dalam mesin scanning. Termasuk dompet, jas/jaket, ikat pinggang yang ada besinya, hp, koin logam,kunci dsb. Biasanya tinggal lenggang saja. Inilah yang membuat antrian jadi lama lagi. Tapi apapun itu kita harus taat sebagai tamu.

B. Menikmati Kota

Karena saya sampai di KL pukul 12.10 tengah malam waktu setempat. Maka saya putuskan untuk membeli tiket kereta KLIA Ekspres seharga RM35. Tadinya saya mau naik taksi saja tapi biasanya taksi di KL kalau lewat tengah malam akan kena charge tambahan 50% dari total argo. Terakhir saya kesini naik taksi dengan waktu yang sama menuju KL  kena biaya hampir RM 145. Wah mahal juga ya? Tapi begitulah kondisi yang lazim disini. Karena jarak KLIA-2 sangat jauh sekitar 45 menit dari Kuala Lumpur rasanya mubazir langsung membuang uang untuk bayar taksi. Sebelum jam 12 masih ada Rapid KL Commuter yang juga berbiaya lebih murah sayang skedulnya berakhir di jam 10 malam. Satu-satunya yang ekonomis ya menggunakan KLIA Ekspres.

Screenshot_22

Lokasi stasiun KLIA Ekspres persis 100 meter sebelah kanan dari pintu keluar pos bea cukai. Banyak petunjuk yang bisa kita baca selepas keluar dari dalam terminal kedatngan. Waktu saya membeli tiket Suasana KLIA Ekspres sudah sangat sepi. Sebagian penumpang pesawat yang tak tahu KL atau backpackeran banyak yang mencari lapak tempat buat tidur di bandara. Sembari menunggu besok pagi. Jangan kuatir sebenarnya disisi luar bandara terdapat hotel transit, hotel kapsul dan hotel lainnya yang bayar-nya per-jam. Jadi daripada menghabiskan uang buat bayar taksi mending dipakai buat bayar hotel. Atau bisa saja tidur diterminal karena banyak yang melakukannya dengan tidur di kursi panjang. Namun harus dijaga barang bawaan jangan sampai lupa. Sebenarnya tidur di dalam bandara bukan hal yang aneh. Lagipula suasana diterminal sangat nyaman dengan Wi-fi yang lumayan kenceng untuk sekedar browsing.

619 627

Saya sangat bergegas membeli tiket untuk mengejar jadwal kereta terakhir. Untunglah selang dua menit petugas yang menjual tiket langsung menyuruh saya berlari agar pintu kereta yang masih terbuka bisa saya masuki. Sayang juga sudah membeli tiket tapi harus naik di kereta pagi kan hanya gara-gara telat beberapa menit.  Otomatis ketika saya masuk pintu sudah mulai tertutup dan suasana gerbong banyak kursi kosong yang tersedia dan mudah memilih. Kursinya sangat empuk dan cocok buat yang ingin meneruskan istirahat tidur. Karena memang gelap toh jadi  tak ada pemandangan diluar jendela yang bisa dinikmati. Satu-satunya hiburan adalah TV KLIA Ekspres yang menyajikan siaran tentang kemajuan KL mulai dari pembangunan sampai teknologi. Semua ada segmen-nya sendiri yang bisa kita nikmati sepanjang perjalanan dengan pemyajian campuran menggunakan bahasa Melayu dan Inggris. Waktu tempuh dari KLIA-2 menuju KL Sentral Station sekitar 45 menit.

Sesampai di KL Sentral Station cobalah cari taksi dengan menuju konter pemesanan dengan charge RM2. KL Sentral Station adalah stasiun besar utama di KL yang menjadi penghubung semua public transport di KL. Layaknya city within a city concept dimana didalamnya ada infrastruktur yang mensupport six rail networks – mulai dari the KLIA Express Rail Link, KLIA Transit, RAPID KL (Putra), KTM Komuter, KTM Intercity dan KL Monorail Services.  Lokasinya berada di tengah-tengah kota KL tepatnya di district. KL Sentral Station juga ditetapkan sebagai terminal terbaik penghubung untuk moda transportasi world-class transit hub. Didalamnya terdapat banyak toko, gerai makanan, terhubung dengan Sentral Mal dan beberapa hotel.

Sopir taksi ini memutar lagu-lagu Indonesia sepanjang jalan

Kota Kuala Lumpur sendiri ditengah malam sangatlah sepi. Sehingga waktu yang paling pas buat mengenal wilayah adalah malam hari dimana tidak terlalu banyak traffic congestion membuat jalan jadi lebih lengang. Jangan heran taksi di KL yang baru rata-rata menggunakan MVP atau biasa disebut juga Malaysia Blue Cab karena berwarna biru. Taksi ini cocok buat yang datang rombongan karena sangat nyaman dan luas mulai dari Toyota Innova, Nissan Serena, Naza Ria, Proton Exora dan Toyota Avanza. Taksi ini lumayan eksekutif bagi orang KL. Semua taksinya menggunakan argometer jadi harap-harap cemas karena banyak kejadian penumpang dibawa keliling KL buat yang tak tahu wilayah padahal kota KL sendiri tak terlalu luas.

Saya kebetulan menginap di Grand Seasons Hotel yang berlokasi di daerah Kampung Baru. Jaraknya cuma 5.9 km dengan waktu tempuh dari KL Sentral sekitar 20 menit diwaktu siang atau 10 menit di waktu malam. Sama seperti di Jakarta kita bisa menentukan sendiri rute jalan yang diinginkan ke sopir taksi. Umumnya sopir taksi Blue Cab bisa berbahasa Inggris pasif. Jadi mereka bisa jadi teman bicara yang nyaman untuk membahas kota atau jalanan. Jangan heran jika sopir mulai menyetel musik atau radio selama perjalanan. Namun tak perlu khawatir umumnya mereka menyukai lagu Indonesia jadi serasa masih di Jakarta.

632
Sopir taksi ini memutar lagu-lagu Indonesia sepanjang jalan

Grand Seasons Hotel di KL tempat saya menginap merupakan hotel bintang empat dengan lokasi yang gampang dicari. Selain hotelnya berdiri menjulang setinggi 183 meter dengan 42 lantai dan jumlah kamar yang banyak yaitu 678 buah. Banyak web pesanan yang merekomendasikan hotel ini untuk melihat view KL dengan menara kembar Petronas dan Tower KL berdampingan. Umumnya jika kita memesan di agoda, booking.com atau tripadvisor akan mendapatkan banyak penawaran dan diskon. Hotel ini sendiri memiliki ciri bangunan tinggi yang tegak menjulang berwarna merah kecoklatan. Pada saat check-in coba request ke petugas receptionist untuk mendapatkan kamar dengan view kota berhadapan langsung dengan Menara Kembar Petronas dan Tower KL. Karena jauh lebih indah melihat KL dimalam hari dari atas bangunan tinggi. Tidak ada tarif khusus untuk permintaan ini. Cobalah siapa tahu beruntung seperti saya hehe..

View dari Kamar saya yang menghadap menara Petronas dan KL Tower

643
View dari Kamar saya di Hotel Grand Seasons yang menghadap menara Petronas dan KL Tower
641
Jam 5 pagi waktu KL atau jam 6 WIB

Baca juga seri perjalanan di Kuala Lumpur lainnya di link berikut:

1. Cuti-cuti Malaysia (1): Mengunjungi KL di waktu malam

2. Cuti-cuti Malaysia (2): Saatnya eksplorasi kota KL

3. Cuti-cuti Malaysia (3) : Sehari berwisata di Kuala Lumpur dengan Transportasi Publik

4. Cuti-cuti Malaysia (4): Menikmati taman-taman kota di KL

5. Cuti-cuti Malaysia: Review Hotel – A Lovely Wolo Hotel Bukit Bintang in the Buzz of KL

Advertisements