Cuti-cuti Malaysia (2): Saatnya eksplorasi kota KL


Ah saya beruntung semalam tidur nyenyak di hotel lepas tiba dari bandara. Karena Grand Seasons Hotel tempat saya menginap terletak di pusat kota. Maka saat saya bangun pagi nampak samar-samar terdengar sirene ambulan sedang berjalan, atau suara klakson mobil dan deru monorel yang melintas terdengar sedikit. Wah sudah pagi saja. Cepat sekali rasanya matahari bersinar padahal baru saja terlelap beberapa jam yang lalu. Tapi saya tak mau berlama-lama menghabiskan hari di kamar hotel. Sayang sudah jauh-jauh ke KL hanya numpang tidur saja. Segera saya bangun dan mandi kemudian setelah itu langsung keluar hotel mencari sarapan. Matahari diluar sangat bersahabat tampak begitu senang saya memandang cuaca paginya.

Gedung yang berdiri ditengah foto adalah Hotel Grand Seasons
Gedung yang berdiri ditengah foto adalah Hotel Grand Seasons

A. Indonesia Mini di Chow Kit.

Saya sengaja mencari sarapan diluar karena dari awal memang hanya memesan kamar tanpa sarapan. Lebih baik saya sarapan diluar yang dekat hotel. Kebetulan saya pernah sebelumnya mengenal lokasi KL jadi tak begitu kesulitan mencari tempat makan di lokasi Kampung Baru ini. Saya kemudian berjalan menuju ke Jalan Chow Kit yang letaknya cuma 100 meter dari hotel. Area ini dikenal sebagai mini Indonesia. Kenapa? Karena banyak sekali orang Indonesia yang bisa kita temui berada dikawasan ini. Jalanan Chow Kit juga dikenal daerah keramaian dengan banyaknya pasar dan pedagang kaki lima yang rata-rata adalah orang Indonesia, India dan Arab. Jejeran Toko dan Restoran khas Indonesia dan Arab banyak dijumpai disini. Jadi kalau masih ingin mencoba mencari sarapan negeri sendiri dengan mudah didapat.

648 649 650 651 652

Restoran yang saya datangi bernama “Sido Mampir”. Persis berada diujung jalan Chow Kit dan sangat dekat sekali dengan Stasiun Monorel Chow Kit yang berada disampingnya. Saat masuk ke restoran ini suasana kental Indonesia sangat terasa dengan suara-suara khas Jawa dari pengunjung yang mampir untuk sarapan. “Silahkan mas, diambil sendiri makanannya” sambut pelayan yang mengetahui kehadiran saya kemudian. Saya pun segera menuju meja besar yang terdapat banyak piring. Disamping nya terdapat makanan yang dapat kita pilih. Harga makanan-nya pun tak mahal rata-rata dijual RM3 utk satu jenis makanan. Disamping restoran ini juga terdapat Restoran dengan Masakan Khas Nasi Kandar Pulau Pinang. Cukup ramai juga cuma sayang saya tak kebagian tempat jadinya saya urungkan niat untuk mencobanya. Hanya mencoba membalas senyuman pelayan yang meminta saya masuk. Namun saya  meneruskan dengan mengeksplorasi wilayah.

Berada di pagi waktu KL sangatlah beda dengan di Jakarta. Atau mungkin saya tak pernah tahu waktu di Jakarta? Dikawasan ini wajah Indonesia sangat terasa saat berada di kawasan jalan Chow Kit. Benar-benar seperti tak berada di KL. Yang membuat saya sadar sesaat ketika memalingkan wajah ke atas selalu nampak menara kembar Petronas.Baru saya ingat kalau saya berada di Malaysia. Kenapa saya bilang daerah Chow Kit serasa di Indonesia? Konon dahulu katanya banyak orang Minang yang datang berjualan segala macam rupa di kawasan ini. Namun sekarang hampir sebagian orang Indonesia yang berada disini berasal dari Jawa, Padang, Palembang, Bugis dan Aceh. Rata-rata mereka akan tersenyum jika berkenalan dengan orang Indonesia yang datang melancong ke KL. Cobalah membalas sapaan mereka dan jangan pernah merasa jadi turis. Jadilah warga Indonesia yang sedang ada di negeri sendiri. Biasanya mereka tak menyukai orang Indonesia yang sombong dan sok menjadi turis ingin dilayani.

654 655 657 665 669

Sepanjang jalan Chow Kit pun akan banyak gerai toko yang layak kita temui di Tanah Abang maupun daerah lainnya di Indonesia. Yang paling terkenal adalah Bazaar Baru Chow Kit yaitu pasar basah terbesar yang berada di KL. Didalamnya banyak dijumpai orang Indonesia yang berjualan segala macam jenis sayur mayur,buah-buahan, daging, ikan, dan berbagai jenis makanan yang sudah siap makan seperti warteg, soto, rawon, pecel lele, pempek, siomay, mie ayam dan makanan khas Indonesia lainnya. Semuanya tinggal pilih tergantung selera. Buka selama 24 jam sehari seakan pasar ini sudah menjadi milik Orang Indonesia yang rata-rata sudah menjadi warga negara Malaysia.

676

Nggak hanya itu banyak juga deretan toko jamu khas Indonesia yang dijual penduduk asal Aceh dan deretan gerai bank asli Indonesia seperti Mandiri, BNI, BRI,BCA yang melayani pengiriman uang dari Malaysia ke Indonesia. Bisa dibayangkan sekitar 500 ribu orang Indonesia di KL yang hampir 20% populasi penduduk KL mengirimkan uang. Pastinya milyaran rupiah mengalir ke Indonesia setiap minggunya dari Chow Kit dan devisa negara disumbangkan dari mereka. Untuk urusan komunikasi-pun kini operator tanah air membuka graPARI-nya di kawasan Chow Kit. Sehingga yang tadinya orang Indonesia menggunakan kartu lokal Malaysia kini beralih menggunakan kartu khusus buat warga Indonesia. Tentunya jauh lebih hemat dan menguntungkan buat beranjangsana dengan kerabat terjauh di tanah air.

Kawasan Chow Kit merupakan jalur yang sangat strategis di KL. Karena daerah ini dilalui oleh banyak bus berbagai jurusan. Selain itu gampang dilalui monorel karena tepat berada dalam barisan jalur utama monorel dari KL Sentral ke Titi Wangsa. Mau kemanapun sepanjang jalur ini disediakan petunjuk. Sayangnya banyak kabar yang beredar kalau kawasan ini dianggap kurang aman. Banyak copet yang beredar. Makanya banyak papan peringatan yang dipasang disepanjang jalan. Namun saya tak khawatir. Toh di Indonesia saja tanpa papan peringatan banyak copet, maling bahkan koruptor yang beredar bebas. Saya sempatkan untuk menghabiskan waktu menikmati suasana di sepanjang jalan Chow Kit yang kemudian tersambung ke Jalan Tun Abdul Rahman.

B. Berbelanja di Pusat Pasar Tun Abdul Rahman

Jalan Tul Abdul Rahman merupakan sambungan jalanan yang menghubungkan wilayah pasar Chow Kit dengan pasar yang telah menjadi primadona puluhan tahun. Bagi yang suka berbelanja rasanya kawasan Tun Abdul Rahman wajib dan layak untuk didatangi. Di lokasi ini layaknya pasar tradisional di masa kolonial. Berdiri ratusan toko yang berdikari dengan desain khas kolonial disetiap tokonya yang bercat warna warni. Sebagian besar toko menjual berbagai macam jenis pakaian, kain, kelontongan, craft, pokoknya berbagai kebutuhan rumah tangga semua ada di kawasan ini. Mulai dari toko mungil sampai Department Store seperti SOGO hadir meramaikan suasana Tun Abdul Rahman yang memang melengkapi tempat-tempat belanja lainnya di KL sehingga semakin membuatnya paripurna.

670
1000 674 673

Kalau mau ke kawasan ini datanglah saat pasar malam berlangsung yaitu pada hari sabtu malam minggu dimulai jam 19.00 sd jam 22.00 wib. Kunjungan saya sebelumnya pas di saat Pasar Malam. Seketika jalanan yang banyak dilalui kendaraan ditutup sementara dan kemudian banyak pedagang yang tumpah menjajakan barang dagangnnya dengan membuka lapak tambahan di depan toko dan diikuti ratusan pedagang lainnya yang entah datang dari mana sudah menunggu sedari siang untuk ikutan pasar malam. Ramai sekali bahkan jalanan dipenuhi sesak oleh sebagian turis dan warga lokal.

Soal harga mungkin inilah lokasi paling murah yang berada di jantung kota KL. Kita bisa menawar bahkan banyak toko yang me-lelong barang dagangannya semurah mungkin. Banyak kalangan dan tur guide merekomendasikan untuk menjadikan kawasan Tul Abdul Rahman sebagai destinasi wisata belanja favorit. Selain menjual aneka rupa kebutuhan pokok juga banyak pedagang yang menjual aneka kuliner kaki lima yang wajib dicoba.

C. Kawasan Masjid India

Nah masih disekitaran jalan Tun Abdul Rahman jika kita teruskan maka akan ada kawasan lain yang berdekatan. Tampaknya pemerintah KL sengaja menjadikan kawasan wisata belanja kalangan menengah berada saling berdekatan. Tentunya agar pengunjung tak menghabiskan waktu dijalan. Kawasan terdekat dengan Tun Abdul Rahman adalah Daerah Masjid India.

Disebut kawasan Masjid India karena didalamnya ada sebuah masjid dengan gaya arsitektur India dan banyak pedagang India didalamnya. Konon masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di KL yang dibangun pada abad ke-19. Tak jauh beda dengan kawasan Chow Kit dan Tun Abdul Rahman disinipun banyak sekali toko pakaian, souvenir, alat-alat rumah tangga, elektronik dan tentunya makanan/kuliner khas India yang berjajar rapi didaerah ini. Restoran dan kedai India ada dimana-mana. Saya menyempatkan diri untuk mampir mengunjungi masjid India ini.

986 987 989 990 991 992 994 995 998 1001 1003 1004

Masjid ini pertama kali tercatat dalam peta pada tahun 1889 oleh WT Wood seorang pejabat pertanahan pada masa itu. Dahulunya hanyalah sebuah masjid kecil yang terbuat dari papan dan kayu biasa. Sejarah terus meneruskan melahirkan perubahan dari setiap jaman. Hingga kini Masjid India ini telah berdiri kokoh setinggi 3 lantai menghadap perkasa ke arah Tower KL yang juga sama-sama angkuh berdiri di depannya. Suara Adzan mengalun merdu dari dalam mengundang orang yang berada disekitar masjid untuk segera datang menunaikan kewajiban kepada sang Maha Pencipta. Begitu syahdu suaranya bahkan tak percuma rasanya melepas penat di lokasi masjid. Banyak warga India dengan pakaian khas-dan janggut panjang pada pria berduyun-duyun datang. Rasanya indah sekali menikmati sajian ashar kali ini.

D. Kawasan Masjid Jamek

Agak sedikit jauh melangkah dari Masjid India maka kita akan menyusuri kawasan lama yang sangat terkenal di KL yaitu Masjid Jamek. Lokasi Masjid ini memang tak terlalu sulit dijangkau selain dilalui oleh LRT yang menggunakan nama stasiun yang sama Masjid Jamek Jalan Tun Perak. Kita pun bisa menyusurinya sendiri bisa dari Masjid India yang berjarak tak kurang 2 km atau bisa juga berdekatan dengan Dataran Merdeka yang terkenal dengan bangunan kunonya.

Semua orang di KL pasti tahu lokasi masjid Jamek berada. Sebagai masjid tertua di KL yang Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan oleh D.Y.M.M. Sultan Selangor, Sultan Salahuddin Sulaiman Shah C.M.J. 23 Desember 1909. Jika melihat dari kondisi masjid tampak memang kesan historicalnya. Dengan arsitektur bergaya kerajaan Moghul di India Utara yang mendominasi dimana ada tiga kubah besar yang dari kejauhan layaknya sebuah bawang putih besar yang ditaruh diatas bangunan dengan diameter 21.3 meter. Selain itu gaya khas Moorish dengan berbagai motif yang dapat dilihat pada susunan batu bata merah putih di menara, arch dan susunan belang batubata, plaster dan marmar. Sifat yang sama dapat dilihat pada menara yang berdiri menjulang dengan dua buah menara kembar yang tegak 26.8 meter mengangkasa. Bangunan masjid inilah yang menjadi simbol dimana Kuala Lumpur dilahirkan karena tepat berada di pertemuan dua buah sungai besar yaitu Sungai Klang dan Sungai Gombak. Yang konon dahulu kala dipertemuan kedua sungai  ini banyak sekali lumpur maka disebutkan kata Kuala Lumpur pertama kalinya oleh masyarakat.

1008 1010 1017

Ah saya kemudian duduk disekitar lokasi menyaksikan bagaimana kedua sungai ini bertemu. Seakan membayangkan apa yang terjadi di daerah ini di masa lalu. Meski kini bangunan masjid Jamek telah dihimpit oleh banyak bangunan perkasa di sekitarnya yang penuh sesak. Tapi masjid ini tampak sekali garang dan gagah melawan semua keperkasaan bangunan yang ada. Apalagi kalau kita menyempatkan diri untuk sholat di masjid ini merasakan betapa sejuknya berada didalam untuk beribadah.

Cara gampang buat mengenal wilayah adalah dengan berjalan kaki. Ini yang saya pilih. Pilihan jalan kaki gampang saya ambil karena pedestrian di KL sangat bersih dan lebar-lebar tidak terlalu banyak pedagang kaki lima seperti yang biasa kita temui di Indonesia. Peningkatan prasarana terus menerus dilakukan oleh pemerintah KL untuk membenahi kondisi pedestrian walkway. Mulai dari pemasangan balok khusus buat pejalan tuna netra yang ada disetiap sisi. Tanda penunjuk arah dan akses buat menyeberang jalan yang rapi disetiap tanda traffic light. Walaupun kondisi saat ini agak sedikit messed up karena pemerintah setempat tengah melakukan penambahan koridor MRT sehingga banyak jalanan yang ditutup untuk penggalian terowongan. Namun semuanya lancar-lancar saja tak terlalu macet seperti Jakarta.

1018 1019 1020 1105

Selain itu pusat KL atau Bandara Raya KL sangatlah gampang diingat. Sehingga kalaupun tersesat sangat kecil kemungkinan kita kesulitan meraih jalan kembali. Peta jalan banyak tersebar di setiap sudut kota dengan bentuk yang mudah dibaca. Public Transport macam Bus, Monorel, MRT, Kereta Api dan Taksi semuanya terhubung dengan baik dalam kesatuan program yaitu Rapid KL. Saran saya jika baru pertama kali datang cobalah gunakan public Transport yang ada. Apalagi sekarang pemerintah menyediakan bus lokal yang gratis buat warga dan pendatang. Namanya bus GO KL! Bus ini gampang ditemui dipusat kota dengan warna Lilac yang mencolok. Bus-nya bersih mirip bus pengangkut penumpang pesawat di Bandara Soetta dan tersedia wifi gratis pula buat penumpangnya. Tersedia dalam jumlah yang cukup banyak mengitari kota tanpa perlu bayar dan cukup tunggu atau berhenti di halte yang ada logo GO KL! Kita bisa jalan-jalan mengesplorasi kota KL dengan cuma-cuma dengan bus ini. Saya sendiri saking senang berada dalam bus sampai 2 kali putaran naik dan berhenti ditempat yang sama. Cukup mengesankan!!!

Kalaupun Jakarta tengah membangun monorel yang entah kapan selesainya. Maka cobalah dulu eskplorasi kota dengan monorel KL. Tarifnya tergantung tujuan yang ingin kita singgahi. Monorel ini terbagi atas beberapa koridor yang jalurnya berada ditengah median jalan. Kebanyakan jalur monorel KL tidak melintasi jalanan utama kota namun lebih banyak ke jalanan arteri. Hal ini kayaknya sengaja dilakukan selain untuk  menjaga estetika kota dan memudahkan penumpang mencapai tujuan lebih cepat. Pusat-pusat keramaian seperti mal, hotel dilalui oleh monorel ini. Tentunya keuntungan lain menggunakan monorel kita bisa dapat view kota dengan mengitari jalurnya sedikit lebih tinggi dibanding jalan raya.

Kredit to Haleem Abdul buat teman jalan

Baca juga seri perjalanan di Kuala Lumpur lainnya di link berikut:

1. Cuti-cuti Malaysia (1): Mengunjungi KL di waktu malam

2. Cuti-cuti Malaysia (2): Saatnya eksplorasi kota KL

3. Cuti-cuti Malaysia (3) : Sehari berwisata di Kuala Lumpur dengan Transportasi Publik

4. Cuti-cuti Malaysia (4): Menikmati taman-taman kota di KL

5. Cuti-cuti Malaysia: Review Hotel – A Lovely Wolo Hotel Bukit Bintang in the Buzz of KL

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s