Meninggalkan Jejak Kaki di Taman Nasional Gunung Ijen


Saya selalu menyukai hujan di tengah hari!! Seperti memberikan kesejukan secara tiba-tiba ditengah terik siang yang gerah. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bondowoso dari Surabaya. Untuk pertama kalinya kaki ini menapaki kota Sidoarjo, setelah hampir dua jam lalu  mendarat di Surabaya. Disepanjang pinggir jalan terdapat begitu banyak pedagang yang menjual Lontong Balapan dan Lontong Kupang. Bikin saya penasaran ingin tahu jenis makanan apa yang coba ditawarkan kota ini? Ingat banget dulu pertama kali ke Surabaya hanya cuma melintasi jalanan tol yang panjang dari bandara ke kota. Lantas terlintas pertanyaan  kota apakah ini? begitu panas sampai hawanya masuk ke dalam pori-pori mobil yang sudah full dengan hawa AC dingin. Akhirnya takdir membawa saya kembali kemari..walaupun hanya numpang lewat.

Tak sabar rasanya, setiap detik dari rumah menuju Bandara sudah banyak rencana yang ingin saya lakukan. Entahlah kadangkala saya hanya mencatatnya saja dalam pikiran tak benar-benar serius untuk membuat itinerary yang komplit. Karena saya percaya wisata alam seharusnya kita mengikuti alam. Tak ingin mengkhianati alam dengan kehendak kita yang ingin ini, ingin itu, dan ternyata gagal paham dengan alam. Bahkan tetesan air hujan yang jatuh pun saya syukuri sebagai bagian dari skenario alam buat perjalanan ini.

Bersama Sahabat Saya Fuji sembari menunggu yang lainnya di Bandara Sidoarjo
Bersama Sahabat Saya Fuji sembari menunggu yang lainnya di Bandara 

Saya sangat mengantuk saat kendaraan melaju pelan mengitari jalanan sempit di sekitar desa Taman Sari. Hanya satu nama desa itu yang saya baca dan ingat. Setelah itu saya tertidur pulas. Cuaca sangat dingin ditambah rasa lapar membuat saya terbangun. Ah saya begitu menyesal kenapa tadi tak berinisiatif membeli makanan terlebih dahulu. Karena sepanjang perjalanan terasa perut berontak dan nyaris tak menemukan satupun warung penjual makanan. Tapi buat apa menyesali sesuatu, saya cuma ingin segera sampai di pos dan mencari makanan. Pedih rasanya menahan rasa lapar ditambah hujan disepanjang perbukitan yang terjal dan gelap. Membuat mobil Elf yang saya tumpangi begitu semangat menggoncang-goncang seluruh badan kendaraan. Ah sungguh tersiksa rasanya…tapi inilah part dari perjalanan yang tak akan mungkin terpotong ceritanya.

Inilah mobil yg mengantar kami ke Ijen sekaligus tempat kami menginap..
Inilah mobil yg mengantar kami ke Ijen sekaligus tempat kami menginap..

Begitu gembiranya melihat dari kejauhan lampu-lampu yang berpendar memberikan tanda jika tujuan akhir sebentar lagi sampai. Ditempat tersebut, Sekitar pukul 10 malam (1/5/2015) saya menyaksikan banyak sekali kendaraan roda dua dan empat dengan berbagai tipe sudah berjajar rapi parkir. Wah, pesona Ijen sudah menarik banyak orang untuk mengunjunginya. Suara deruman kendaraan lain masih tampak terdengar dibawah kaki perbukitan yang akan segera menyusul dan menambah sesak kawasan area Paltuding sebagai lokasi pos utama seluruh pendaki beristirahat dan mereka seperti bergegas membangun tenda-tenda. Selain itu juga ada beberapa guest house yang disediakan untuk tamu. Sungguh menyenangkan menyaksikan semua orang begitu sibuk termasuk jejeran warung penjual makanan yang membuat saya tak sabar untuk segera memenuhi rongga-rongga perut dengan makanan.

Mengisi perut wajib hukumnya sebelum mendaki
Mengisi perut wajib hukumnya sebelum mendaki

Pukul 11 malam, suasana Paltuding benar-benar terasa ramai dengan pengunjung yang tak hentinya berdatangan. Seperti ada sebuah hajat penting dimana semua orang wajib datang. Padahal suhu malam itu berkisar sekitar 14 derajat. Sangat Dingin banget bagi saya, sampai harus mengenakan tiga lapis pakaian ditambah jaket. Saya dan rombongan akhirnya cuma bisa beristirahat didalam mobil. Sembari menunggu jam 2 pagi saat tepat dimana waktu pendakian resmi dibuka untuk umum.

Hawa dingin dan lembutnya angin senantiasa menyelinap masuk disetiap rongga-rongga udara tubuh yang membuat kami harus mengeluarkan uap naga dari mulut setiap berbicara. Ah untung saja saya sudah berkumur-kumur pasti segar rasanya menerima semburan uap dari mulut saya hahahaha Malam itu saya bisa menuntaskan tidur walaupun sebentar. Rasa letih dan mengantuk akibat suhu dingin tak menyulitkan saya dan rombongan untuk istirahat sejenak.

Pintu Gerbang sebelum mendaki. Awalnya sedikit orang. Beberapa menit kemudian sudah sangat padat
Pintu Gerbang sebelum mendaki. Awalnya sedikit orang. Beberapa menit kemudian sudah sangat padat

Suasananya seketika berubah menjadi lebih jelas, tatkala sebelum jam 2 pagi samar-samar suara kegaduhan disekitar mobil tempat kami menginap menjadi lebih jelas terdengar. Ini bukan suara keributan atau teriakan biasa namun sudah ratusan bahkan ribuan orang yang tengah berkumpul saling berbicara satu sama lain bahkan pemandu yang tengah mengumpulkan anggotanya sibuk memanggil anggotanya tepat didepan gerbang utama pendakian. Saya menggerutu dalam hati kenapa harus salah dalam memilih parkir mobil. Rasanya setelan alarm yang saya pasang sebelumnya tak berfungsi digantikan oleh riuh rendah suara manusia dan suara tapak kaki yang menghujam bumi. Mau tidak mau saya dan rombongan memutuskan untuk segera bangun dan siap-siap berkemas. Brrr…brr..dingiin sekali..kalau tak ingat jauhnya jarak dari Jakarta yang sudah ditempuh, saya lebih memilih untuk tidur lagi.

Diantara hembusan angin yang begitu dingin membalut tubuh-tubuh para pendaki tampak wajah-wajah penuh semangat yang membuncah. Pintu pendakian memang belum dibuka dan semakin banyak saja pendaki yang berkumpul membuat suasana menjadi lebih hangat. Berkali-kali telapak tangan ini saya usap dan tepuk-tepuk pelan untuk memberikan rasa hangat. Senyum saling sapa menebar diantara para pendaki yang tentu saja tak saling kenal. Seolah-olah ini adalah ajang reunian paling akbar dimuka bumi dan dirayakan bersama dengan langit yang dipenuhi bintang sebagai hiasan dekorasi paling indah. Kita pun akhirnya memulai pendakian tepat jam 2.30 pagi menuju panggung besar diatas puncak Gunung Ijen….

Inilah suasana saat resmi dimulainya pendakian
Inilah suasana saat resmi dimulainya pendakian..rame sekali pendaki yang memenuhi jalur gerbang utama

Pagi itu, saya merasakan keseruan yang luar biasa dengan diiringi marching band berupa deru suara langkah ratusan kaki manusia yang bergerak bersama secara acak. Tak ada yang memberikan komando, semuanya bergerak ke arah yang sama menuju puncak dengan ketinggian 2368 meter diatas permukaan laut, dengan kedalaman danau sekitar 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur tengah menunggu kedatangan ratusan pendaki.

Cahaya bulan memandu arah pendakian
Cahaya bulan memandu arah pendakian

Mata yang tadinya mengantuk mulai merekah dan perjalanan kami sangat mudah dibantu dengan penerangan murni dari Cahaya Bulan yang begitu terang menerangi setiap langkah kaki. Berbagai ukuran sorot lampu senter yang jatuh ditanah membuat gerakan-gerakan mirip kunang-kunang yang berterbangan. Semuanya merambat naik secara perlahan mengejar terbitnya matahari. Semua tampak saling bahu membahu teman-nya yang keletihan dan suara penuh semangat memberikan motivasi. Beberapa sudut jalan pendakian tampak begitu miring dan tak terlalu terjal. Ada sebuah hadiah diatas puncak yang diberikan bagi pendaki yang tiba sebelum matahari terbit yaitu tarian pembuka bluefire yang hanya bisa dinikmati dalam beberapa jam saja. Momen keajaiban alam yang sangat langka dan tiada taranya. Puncak momen keindahan Kawah Ijen terletak pada saat matahari sedang berada di belahan bumi lainnya. Warna biru terang ini berasal dari tingginya suhu yang ada di kawah tersebut.

Suasana setelah Subuh yang terlihat begitu banyak pendaki berjejalan
Suasana setelah Subuh yang terlihat begitu banyak pendaki berjejalan

May 125 May 134 May 142 May 147 May 164 May 359 May 365 May 394 May 404 May 429 May 438 May 445 May 448 May 468

Akhirnya saya pun sampai juga diatas puncak Gunung Ijen. Terlihat samar-samar lekukan garis gunung yang diterpa sinar rembulan. Asap putih yang menyembul dari bagian bawah kaldera membawa aroma belerang. Sebagai penanda bahwa pendaki tengah berada dikawasan utama dari Taman Nasional Gunung Ijen. Kami semua mulai mencari tempat masing-masing duduk untuk menyaksikan detik-demi detik pembukaan kawah Ijen yang bewarna hijau tosca dengan bantuan sembulan terpaan sinar matahari pertama di Pulau Jawa. Setelah semua terbuka nampak nyata indahnya kawah Ijen dan para penambang dibagian bawah kawah yang seperti boneka terlihat sangat kecil sekali. Semua pendaki terlihat begitu senang menyaksikannya dan tak ada satupun yang luput untuk mengabadikan momen bersejarah ini. Luar biasa betapa kami sadar dan merenungi kebesaran Allah Swt yang menciptakan keindahan dan memberi kehidupan banyak buruh pengangkut belerang dan keluarganya.

Next Mau Cerita Taman Nasional Meru Betiri & Taman Nasional Baluran (kalau ada waktu…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s