entrance2

Bosan dengan hotel berbintang yang biasa? Cobalah mampir ke Hotel Kosenda Jakarta. Salah satu hotel yang menurut saya wajib dicoba terlebih buat menghabiskan weekend bersama pasangan atau keluarga. Hotel ini saya yakin akan membuat anda betah untuk tinggal. Serta merasakan desain yang unik yang memiliki nilai seni  dan budaya yang tinggi. Tampaknya akan lebih mudah membuat anda terinspirasi dan melepas penat saat berada disini.

lounge2 

Bangunan hotel yang didesain arsitektur internasional ternama yaitu Ton Ton Studio ini sudah mencuri perhatian banyak orang. Ketika saya melintasi Jalan KH Wahid Hasyim menuju Tanah Abang bangunan ini berbeda dengan yang lain. Lokasinya yang berada ditengah kota dan dekat pusat keramaian menjadi nilai tambah tersendiri buat pendatang. Tampak luar bangunannya sudah terlihat unik dengan budaya betawi kontemporer. Berbeda dari bangunan kubus biasa namun didominasi dengan warna semen di seluruh tembok. Jalan menuju Pintu masuk hotel pun tak luput dari kekaguman saya. Dengan hiasan ornament cone-block berwarna natural yang sengaja dirangkai dalam hiasan wajik membuat begitu cantik terlihat. Rasanya saya sudah memutuskan harus menginap dimana untuk weekend?

lobby1

lounge1

 Jatuh cinta banget dengan konsep dekornya begitulah kesan pertama sesaat sudah berada di area lobby hotel. Merasakan suasana seperti berada di rumah sendiri. Tampaknya perusahan desain Domisilium Studio milik Santi Alaysius dan Hamprey Tedja berhasil  memadukan ornament dan beberapa instalasi yang sengaja dibuat secara detil dan unik. Hampir semua dinding dan ruangan tak luput dari ornament entah grafis, lukisan, benda antic, bahkan ketika memasuki toilet-nya pun terasa berbeda. Ada gambar mural aktivitas warga Jakarta yang dipajang. Sehingga bagi siapapun yang pertama kali datang akan bilang kalau hotel ini sengaja membuat sebuah cerita tentang Jakarta dalam satu tempat. Bikin betah dan kerasan berada didalamnya. Karena memang sangat nyeni dan artistic.

lounge3

 Untuk lobby-nya saya Cuma mau bilang kalau nggak seperti lobby hotel berbintang yang luas dengan meja receptionist yang panjang. Di hotel ini boleh dibilang tamu yang datang bisa langsung memilih. Mau ke resepsionis terlebih dahulu buat menginap, atau Cuma pengen hang-out di café 127 sambil ngopi-ngopi atau bisa juga memilih meja besar bareng keluarga sambil memesan makanan di WaHa Restoran yang buka 24 jam. Yang kebetulan ketiga tempat tadi nyambung jadi satu. Beberapa sofa dan furniture dari desainer seperti Svend Skipper, Poul Henningsen dan Hans Wagner diletakkan pada tempat yang pas di area lounge. Pada saat saya kesana ada beberapa kelompok orang yang sedang ngumpul. Wajar sih rame, karena tempatnya homey banget! Jadi kalau sendirian sambil baca buku kayaknya bagus juga nih, atau mau ramean bareng temen juga lebih oke. Apalagi Café 127 dan WaHa Restorannya dekor-nya artistic banget jadinya enggak rugi kalau sekalian buat foto-foto penghias media social kita.

waha4

 Kalau dilihat dari luar memang hotel ini begitu kecil menempati luas lahan sekitar 600 m2. Bisa dibayangkan betapa sempitnya lahan hotel ini berdiri namun terkesan sangat luas saat berada didalamnya. Beberapa instalasi seperti meja, kursi, lampu, becak dan juga mesin jahit tradisional mengambarkan budaya betawi yang sangat menonjol. Dari depan juga sudah terlihat mulai pagar hotel, sepeda, lukisan di dinding ditiap lantai, bingkai foto, dan garmen yang digunakan mulai dari sarung bantal, batik, dan hal-hal lain. Yang membuat suasana menjadi menyenangkan dengan penataan lebih modern memadukan sentuhan estetika interior tradisional tahun 1950-an dan gaya arsitektur abad ke-21.

waha3

waha2

 Permainan pola geometris dan beberapa campuran material di bagian interior hotel memberikan kontribusi yang signifikan akan daya tarik seni yang ditonjolkan oleh hotel ini. Kenyataannya setiap bagian kecil yang Nampak tak diperhatikan hotel lain dibuat secara detil dengan adanya tambahan unsur retro dan tabrak motif. Misalnya nomor pintu kamar yang begitu menyatu dengan latar belakang dinding terbuat dari blok-blok kayu tersusun secara asimetris. Dengan adanya tambahan instalasi laba-laba raksasa berwarna silver yang nemplok di dinding sangat memanjakan mata. Menjadikan lorong-lorong setiap lantai menuju kamarpun menjadi lebih hidup. Begitupun lukisan dan murral yang sengaja ditempel di dinding menceritakan banyak kisah tentang kehidupan warga Jakarta. Inilah gabungan kreativitas seni yang memadukan unsur vintage-style untuk hardwood furniture dan blood prints di semua bagian interior tiap lantai.

room1

room6

 Menyediakan 60 individually tailored rooms dengan tiga kategori pilihan yaitu mulai dari 88 dollar AS untuk jenis kamar Petita, 95 Dollar AS untuk comforta, dan Rp. 1,8 Juta untuk Spatia. Sang pemilik hotel yaitu Ruben Kosenda sengaja menciptakan suasana kamar hotel yang tidak terlalu luas namun membuatnya lebih fun dan funky.

bed2

bed1

Jujur saya katakan kalau kamar di Hotel Kosenda tidak terlalu luas. Saya antusias cara hotel ini menata kamar yang sempit menjadi terkesan lebih luas. Harus diakui inilah satu-satunya kamar yang The Most Fabulous yang pernah saya lihat. Posisi tempat tidur begitu elegan berada ditengah ruangan dengan hiasan batik. Ada dua figura yang dipajang di dinding disisi sebelah kanan kasur. Tanpa figura ini saja kamar ini sudah oke. Posisi bathroom tentu saja berada dalam bagian tempered glass yang memisahkan ruangan tempat tidur disebelahnya. Yang paling saya suka saat berada di kamar adalah meja belajar yang lengkap dengan complimentary office seperti paperclips, ballpoint, penghapus, tip-ex, gunting, penggaris, stapler..wow betul-betul great idea yang jarang ditemui di ruangan hotel manapun. Rahasia lainnya adalah perlengkapan mandi seperti sabun dan shampoo untuk hotel ini menggunakan produk Kiehl’s yang cukup terkenal dengan wangi yang menyegarkan. Ditambah dengan dua buah kimono khas Jepang dan sandal khas bercorak kain batik. Walaupun tanpa merek hotel, sandal ini rasanya bisalah sebagai souvenir untuk dibawa pulang tamu hehe..

bathroom1

Kosenda hotel

Kosenda hotel

room4 

Ternyata warna-warni ruangan kamar memang sengaja dibuat lebih infusi tradisional. Katanya sih supaya tamu merasa nyaman. Didalamnya pun tak ketinggalan dengan memberikan unsur seni diseluruh bagian mulai dari dinding, teras luar, hingga masuk ke dalam kamar hotel. Bahkan tempat tidur tamu dibuat lebih personal agar lebih hangat layaknya kamar di rumah sendiri, bersih, resik dan lebih nyenyak.

room11

room9

 Ada satu lagi fasilitas yang coba ditawarkan hotel ini yaitu Awan Lounge. Letaknya berada di rooftop lantai 9 tetap dengan nuansa artsy-nya. Bedanya suasana disini beratapkan langit malam Jakarta alias open space dan bisa memandangi gedung pencakar langit dikejauhan. Tempat ini baru buka menjelang sore sampai tengah malam. Dipenuhi pohon yang rindang dan berbagai macam tanaman herbal seperti kemangi, jeruk purut, dan lainnya. Sengaja dibuat lebih cozy buat tempat hangout sembari mencoba makanan barbeque tapas khas-nya yaitu  Lamb Cutlet yang merupakan Australian Lamb yang dimarinated dengan sajian Asian Herbs dan Tahina yoghurt.

Kosenda hotel

awan2

 Sebenarnya ada Sembilan unsur yang ingin ditampilkan hotel kosenda ini yaitu architecture, cuisine, character, sustainability, comfort, Indonesian hospitality, culture dan experience. Namun sang pemilik hotel ingin lebih menggagas agar ada perpaduan antara local culture dan  international standard. Dengan menyasar kalangan business traveler yang seringkali Cuma punya sedikit waktu buat menghabiskan hari keluar menjelajah kota Jakarta. Intinya sih saya puas menginap di hotel ini. Berbeda dengan hotel lainnya, Hotel Kosenda sengaja mengundang anda untuk membuktikan sendiri berbagai pernak pernik collateral yang terkonsep apik dan berkarakter.

 Notes: Ditulis untuk Advetorial Majalah OZIP-The Leading OZ Indo Post Magazine di Melbourne, Australia

Advertisements