Penerapan Pembatasan Kendaraan Ganjil Genap di Jakarta


IMG_4307
Sudah hampir satu bulan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Pihak Kepolisian dari Polda Metro Jaya memberlakukan sosialiasi pembatasan kendaraan di jalur protokol dengan melakukan pembatasan kendaraan sistem ganjil genap. Nah sebagai warga ibukota tentu saja saya mendukung kebijakan ini diterapkan. Sudah sekian lama capek terjebak dengan situasi jalanan yang selalu  macet. Apalagi yang saya tahu kebijakan sudah terlalu lama dipelajari dan dicontoh dari beberapa negara yang berhasil menerapkannya salah satunya adalah Singapura. Penerapan sosialisasi pembatasan kendaraan ganjil genap dilakukan sebagai jurus pengganti sistem 3 in 1 yang dianggap gagal mengatasi kemacetan ibukota.
Sebenarnya saya juga masih bertanya apakah sistem ganjil genap ini mampu mengatasi kemacetan ibukota yang sudah akut? Banyak warga yang skeptis terhadap aturan ini, tapi nggak sedikit juga yang optimis. Konon katanya sistem ini akan mampu mengurangi jumlah kendaraan yang lalu lalang di Ibukota sekitar 40 persen. Wah banyak juga ya? Nah untuk itu saya sengaja melakukan review selama sebulan mengikuti penerapannya.
Sejak pertama kali disosialisasikan per tanggal 27 Juli 2016, masih belum ada perubahan yang terjadi diminggu pertama. Apalagi jalur yang diterapkan adalah eks jalur 3 in 1 yang sudah terkenal macet dikarenakan banyaknya perkantoran dan aktivitas bisnis yang terjadi. Saya yang termasuk lupa kalau tanggal 27 Juli 2016 seharusnya hanya untuk kendaraan berpelat ganjil saja yang boleh melintas.  Sedangkan mobil saya berpelat dengan akhiran angka genap. Tapi syukurnya cuma dihentikan sesaat kemudian diinformasikan sama petugas kalau tidak boleh lagi melintas di tanggal ganjil. Yang saya lihat petugas polisi tersebut cukup ramah tidak terkesan preman seperti yang saya bayangkan. Saya cuma diminta untuk menunjukkan SIM dan STNK saja tidak ada proses penilangan kendaraan.
IMG_4696
Berbagai spanduk, banner, dan juga papan tanda informasi disebar disetiap jalan yang dianggap sebagai pintu masuk ke kawasan eks 3 in1 sebagai jalur yang ditetapkan untuk pemberlakuan pembatasan kendaraan ganjil genap. Jadi alasan nggak tahu atau lupa, nggak bisa jadi negoisasi dengan aparat karena pemberitahuan sudah dipasang dimana-mana dengan tulisan yang cukup besar dan dapat dibaca dari jauh.
Sebenarnya berapa sih jumlah okupansi kendaraan pribadi yang melintasi jalanan Jabodetabek? Total kendaraan yang terdaftar di Ibukota sebanyak 16,9 juta kendaraan. Anggap saja kita bagi setengahnya berarti ada sekitar 8,49 juta unit bernomor pelat ganjil dan sisanya 8,45 juta unit bernomor pelat genap. Sedangkan kawasan eks 3 in 1 sehari-hari dilintasi sekitar 3 juta kendaraan hilir mudik, bayangkan jika setengahnya hanya boleh melintasi di hari tertentu sesuai dengan tanggal operasionalnya genap atau ganjil maka jalanan protokol tersebut akan sangat lengang dan macet tentu saja akan jadi cerita masa lalu.
Namun bukan berarti warga Jakarta yang memiliki kendaraan tidak boleh melintas jika tidak sesuai nomor diberlakukannya operasional ganjil/genap kendaraannya. Penerapan ini sama persis dengan pelaksanaan 3in1 dan memiliki batas waktu tertentu. Yaitu dimulai di pagi hari kerja jam 07.00 sd 10.00 wib  dan berulang disore hari mulai pukul 16.00 sd 20.00 wib. Tidak berlaku di hari libur dan akhir pekan. Resminya kebijakan ini akan mulai beroperasi pada tanggal 30 Agustus 2016 setelah satu bulan sebelumnya disosialisasikan.
Nah berbagai tanggapan prokontra terkait penerapan dilaksanakan. Salah satunya teman saya di kantor Mas Susilo yang keberatan hal ini dilakukan. Menurutnya setiap hari dia selalu menggunakan jalur tersebut untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah dan selanjutnya menuju kantor. “wah saya bingung jujur saja, karena kendaraan saya banyak memuat penumpang setiap hari. Kalau begini siapa yang akan mengantar anak-anak saya pergi ke sekolah?” tuturnya sedikit gelisah. Lebih lanjut menurut Mas Susilo, bukan sesuatu yang gampang beralih kebiasaan menggunakan transportasi umum. “lihat sendiri bagaimana kendaraan umum di Jakarta. Sama sekali belum layak untuk mengangkut penumpang. Mana jaminannya kalau tidak akan macet bila saya menggunakan transportasi umum?” tanyanya kemudian. Memang penerapan pembatasan kendaraan ganjil genap tidak berlaku bagi transportasi umum termasuk taksi dan sepeda motor.
IMG_4289
Lain halnya dengan Robi yang sehari-hari juga sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi. Menurutnya gampang mensiasatinya agar tidak terkena razia. Menurutnya, tinggal perhatikan saja jam berlaku penerapannya. Jika sedang tidak sesuai dengan tanggal dan pelat kendaraannya cukup dengan datang lebih pagi sebelum pemberlakukan dan pulang setelah jam operasional ganjil genap berakhir. Lagipula menurut Robi, sistem ini juga memiliki kelemahannya. Bisa jadi tidak menutup kemungkinan pemilik kendaraan memiliki dua nomor pelat ganjil/genap yang salah satunya dimanipulasi.Mengenai sanksi razia jika ketahuan, bagi Robi sangat kecil kemungkinan. “berarti lagi apes aja tuh kalau kena sanksi dan ketahuan pelatnya bodong. Karena saya yakin dengan jumlah petugas kepolisian yang terbatas. Petugas hanya fokus memperhatikan nomor pelat yang salah jadwal. Nah celah tersebut menyebabkan tetap saja banyak yang lolos,” tuturnya.
Seperti yang saya sebutkan diatas kalau penerapan sistem ganjil genap ini hanya berlaku di empat ruas utama jalur eks 3 in 1 yaitu dari Utara Ke Selatan mulai dari Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat sampai ke Jalan Sisingamaraja Kebayoran Jakarta Selatan dan dari Timur ke Barat mulai dari Simpang Empat Kuningan Mampang sampai dengan simpang empat Slipi.  Penerapan ini diterapkan sebagai antisipasi dan masa transisi sebelum penerapan kebijakan jalan berbayar alias Electronic Pricing Road (ERP) yang ditargetkan akan terealisasi di tahun 2017.
Nah sebenarnya berapa denda yang harus kita bayar jika kita ketahuan melanggar. Sekali ketahuan kita salah membawa kendaraan diluar jadwal maka kita akan kena denda maksimal Rp.500 ribu tanpa mengenal toleransi. Sejauh pengamatan saya selama sebulan ini cukup membantu juga mengurai kemacetan yang sering terjadi dijalur tersebut. Biasanya jarak tempuh saya dari rumah ke kantor kurang lebih satu setengah jam kini cukup satu jam saja. Kemacetan masih terjadi diluar jalur penerapan ganjil genap. Yang sedikit repot adalah saat memasuki kawasan jalan protokol biasanya kemacetan disebabkan pemeriksaan dengan menghentikan kendaraan yang salah jadwal oleh pihak kepolisian yang berpotensi menyebakan kemacetan lainnya.
Pendapat kontra datang dari rekan kantor saya lainnya yaitu Ridwan, baginya yang paling pas buat mengurangi kemacetan Jakarta adalah dengan menyegerakan penerapan ERP. Karena ini paling pas buat membatasi kendaraan. Karena selain mengendalikan jumlah kendaraan yang melintas, ERP juga mampu menghasilkan pendapatan bagi pemerintah untuk membangun infrastruktur dan atau memperkuat transportasi publik yang masih sangat kurang untuk mensuplai kebutuhan warga Jakarta.
Apapun itu, sebagai warga ibukota yang sudah bosan dengan kemacetan Jakarta yang seperti tiada akhir sangat mendukung kebijakan ini. Siapa lagi coba yang akan merasakan dampaknya. Terlebih sejak peraturan ini dilakukan ujicoba sudah semakin banyak warga yang beralih menggunakan transportasi umum terutama TransJakarta yang semakin lama sudah semakin banyak armada yang dipersiapkan. Saya yang termasuk merasakan dampak ini dikarenakan lokasi rumah ke kantor sudah tersedia jalur transportasi umum yang steril. Masih bermimpi untuk Jakarta yang lebih baik.
Advertisements

3 thoughts on “Penerapan Pembatasan Kendaraan Ganjil Genap di Jakarta

    1. Menurutku kalau ada dua mobil bukannya ga ada isu ya kalau nomornya beda yg satu yg ganjil satunya lagi genap. Bisa dipakai beda hari tergantung jadwal. Yg jd isu kalau ada satu mobil punya dua nomor kendaraan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s